JAKARTA: Emiten properti dan pengelola taman hiburan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk akan menggunakan kombinasi kas dan pinjaman bank untuk membayar obligasi perseroan yang jatuh tempo pada pertengahan tahun ini.
Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi menyebut kombinasi tersebut akan lebih mengandalkan kas perseroan dibandingkan pinjaman.
"Porsi kas mungkin bisa mencapai dua per tiga dari nilai obligasi", ujarnya saat dihubungi Bisnis, hari ini 22 Febuari 2012.
Obligasi Jaya Ancol yang jatuh tempo tahun ini diemisi pada 2007 dengan nilai Rp120 miliar. Kupon yang diberikan mencapai 10,40%, dengan rating terakhir idA+.
Berdasarkan laporan keuangan 9 bulan pertama perseroan tahun lalu, hutang obligasi mencapai 33,04% dari total liabilitas jangka pendek. Perseroan tidak memiliki hutang bank yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat ini.
Selain berencana melunasi obligasi, perseroan sedang menimbang mencari sumber pembiyaan baru dari pasar modal. Opsi yang ada saat ini, dijelaskan Budi, adalah pelepasan saham baru (right issue) atau emisi obligasi.
Pilihan antara kedua jenis pembiayaan tersebut, menurutnya bergantung pada beberapa faktor a.l suku bunga acuan Bank Indonesia dan harga saham perseroan. Jika kebijakan bunga rendah dipertahankan, kemungkinan besar Jaya Ancol akan melakukan emisi obligasi.
“Kalau saham kami harganya bagus, kami bisa rights issue. Sekarang kan harganya masih sekitar Rp1000, kalau bisa sampai Rp1500 kami akan lepas saham baru,” jelasnya.
Dalam riset ekuitas yang dipublikasikan baru-baru ini, Pefindo menyebut perseroan terus mengalami penurunan rasio liabilitas terhadap ekuitas (DER), dari 58% pada 2009 menjadi 40% pada September 2011. Sehatnya kondisi keuangan, menurut riset tersebut, membuat perseroan tidak akan kesulitan dalam memeroleh dana tambahan guna keperluan ekspansi.
"Rasio ini akan semakin baik apabila PJAA melunasi obligasi sebesar RP 120 miliar yang jatuh tempo di Juni 2012. Dengan kondisi sehat tersebut, kami percaya PJAA tidak memiliki hambatan untuk memperoleh dana tambahan yang cukup untuk melaksanakan rencana-rencananya," jelas riset tersebut.
Pertumbuhan 2012
Dalam riset yang sama, Pefindo memerkirakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rates) akan berdampak bagus pada bisnis properti perseroan.
"Seiring dengan penurunan BI Rate, pertumbuhan sektor properti akan meningkat," jelas riset tersebut.
Berdasarakan catatan Bisnis, emiten berkode saham PJAA tersebut menganggarkan belanja modal Rp974 milar tahun ini. Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan beberapa proyek properti.
Bisnis taman hiburan perseroan juga diperkirakan akan terus tumbuh tahun ini. Berdasarkan catatan Pefindo, jumlah kunjungan wisatawan ke taman hiburan yang dikelola perseroan hingga September 2011 mencapai 4,7 juta orang.
"Total wisatawan yang berkunjung ke theme park berpotensi mencapai 4,9 juta, atau naik 5,4% year-on-year," imbuhnya.
Pada perdagangan hari ini, saham PJAA stagnan harga Rp1090 per lembar sahamnya, membentuk kapitalisasi pasar Rp1,74 triliun. (faa)

Showing 1 - 1 of 1 comments