MAKASSAR: Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia Sulawesi Selatan meminta perbankan menurunkan suku bunga konstruksi hingga satu digit untuk mendukung pencapaian target pembangunan perumahan.
Ketua DPD REI Sulsel Raymond Arfandy di Makassar mengatakan meskipun suku bunga konstruksi saat ini stabil pihaknya berharap bunga konstruksi bisa berangsur-angsur turun hingga satu digit.
"Posisi bunga konstruksi yang berkisar 12% saat ini kami harap bisa turun hingga 9%," ujarnya, hari ini 20 Februari 2012.
Penurunan suku bunga kredit konstruksi itu penting, sebab sejak pemerintah menghapus kebijakan kredit pemilikan rumah atau KPR indent, pengembang semakin sulit untuk menyelesaikan target pembangunan perumahan.
"Pemberlakuan KPR indent cukup memberikan kemudahan bagi konsumen untuk pembiayaan perumahan. Sekarang pengembang tidak diperbolehkan lagi menjual dengan cara itu," paparnya.
Apalagi, jelasnya, jangka waktu kredit konstruksi saat ini cukup terbatas dan tidak seimbang dengan pembiayaan KPR yang masa angsurannya bisa sampai 15 tahun. "Ini juga yang menjadi hambatan kami, risiko pembiayaan konstruksi tidak seimbang dengan kredit KPR. Bayangkan saja, jika konsumen bisa kredit sampai 15 tahun sedangkan pengembang dibatasi masa kontrak pembiayaannya sekitar 2 tahun," ucapnya.
Dia berharap, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya 6% menjadi 5,75% bisa diikuti penurunan suku bunga konstruksi. Rencana pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembangunan Perumahan (FLPP) bagi masyarakat berpenghasilan rendah, diharapkan bisa diikuti pembiayaan FLPP konstruksi bagi pengembang.
"Kemenpera sebenarnya juga telah merancang FLPP khusus konstruksi, yang rencananya akan memberikan bunga konstruksi berkisar 7% - 8% kepada pengembang. Mudah-mudahan pemberlakuan FLPP nanti bisa diikuti pemberian fasilitas kredit konstruksi bagi pengembang," tegasnya. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments