JAKARTA: Konsumsi bahan bakar minyak untuk kapal atau bunker selama 2011 mencapai 1,167 juta kilo liter dengan 40% di antaranya diserap untuk sektor kapal nelayan.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Bunker Indonesia (APBI) Jojok Mudjijo mengatakan konsumsi BBM bunker bersubsidi di sektor perkapalan banyak diserap di kapal nelayan.
Dia menjelaskan tidak kurang dari 40% BBM kapal bersubsidi mengucur ke kapal nelayan. "Kalau untuk kapal niaga, lebih kecil lagi jumlahnya," katanya, hari ini.
Menurutnya kapal-kapal pelayaran rakyat, keperintisan, kapal penumpang dan kapal angkutan sungai, danau dan penyeberangan serta kapal yang memuat sembilan bahan pokok porsinya mencapai 60%.
Pihaknya mendukung operator pelayaran niaga nasional yang mengusulkan kepada pemerintah agar bunker bersubsidi untuk kapal niaga dihapus kecuali pelayaran rakyat, keperintisan, kapal penumpang dan kapal ASDP.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2011, alokasi subsidi BBM ditetapkan sebesar Rp231,7 triliun, sedangkan pada APBN 2012 dialokasikan sebesar Rp123,5 triliun.
Seperti diketahui, operator pelayaran mengusulkan kepada pemerintah agar pemberian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk angkutan niaga nasional dihapuskan guna mengurangi beban APBN.
Penghapusan BBM bersubsidi tersebut hanya untuk angkutan niaga nasional, tetapi kapal angkutan penumpang, kapal perintis, pelayaran dan angkutan sungai, danau dan penyeberangan tetap harus disubsidi.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan usulan tersebut telah disampaikan langsung kepada pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurutnya penghapusan BBM bersubsidi untuk angkutan niaga nasional akan membantu pemerintah mengurangi beban ABPN. “Suratnya sudah resmi kami sampaikan kepada pemerintah,” katanya. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments