JAKARTA: Lembaga pemeringkat Standard & Poor's memprediksi korporasi Indonesia bisa menghadapi kemungkinan situasi pelemahan nilai tukar rupiah maupun pasar keuangan yang volatil.
Analis Kredit Standard & Poor's (S&P) Xavier Jean mengungkapkan perkiraan ini berdasarkan studi terhadap 50 korporasi terbesar Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
"Kondisi saat ini tidak seperti krisis keuangan Asia pada 1998 hingga 1999 maupun krisis keuangan global pada periode 2008 hingga 2009. Saat itu, pelemahan nilai tukar rupiah secara cepat menyebabkan sejumlah korporasi mengalami default," paparnya melalui hasil riset yang dikirimkan kepada Bisnis, hari ini, 7 Februari 2012.
Menurutnya, penambahan investasi secara langsung (foreign direct investments/FDI) dan akumulasi cadangan devisa secara teoritikal akan mendukung nilai tukar rupiah. Namun, Jean mengingatkan nilai tukar rupiah bisa berkembang volatil apabila tingkat kepercayaan global dan kondisi ekonomi memburuk.
Dia menambahkan utang valuta asing korporasi di Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan dengan pada saat krisis keuangan Asia pada 1998-1999 maupun krisis keuangan global pada 2008-2009..
"Seiring dengan situasi pasar modal domestik Indonesia yang menguat, kami perkirakan penerbitan obligasi domestik dan pencarian kredit perbankan akan bertambah sehingga mengurangi pendanaan global."
Menurutnya, prospek pertumbuhan positif di Indonesia akan mendukung arus kas korporasi dan menambah perlindungan terhadap potensi melemahnya nilai tukar rupiah. Sejumlah sektor akan menghadapi situasi yang berbeda apabila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.
"Sektor penerbangan, telekomunikasi, dan manufaktur berat akan lebih menghadapi situasi berat apabila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Apabila korporasi menjual produk dalam rupiah tetapi pengeluaran dan utang dalam bentuk dolar AS tentunya pelemahan nilai tukar rupiah bisa mengganggu arus kasnya." (tw)
Showing 0 - 0 of 0 comments