JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum akhirnya menyepakati rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum Jatiluhur melalui saluran pipa kanal tarum barat, menyusul usulan pembangunan pipa disamping ruas tol Jakarta-Cikampek tidak memungkinkan direalisasikan.
Kepala Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Rachmat Karnadi mengatakan keputusan itu karena ukuran pipa yang cukup besar tidak mungkin dibangun diruas tol, karena selain dapat mengganggu lalu lintas harian tol pada saat pemasangan, juga dikhawatirkan potensi kerusakan lebih besar karena ada dibawah jalan yang setiap harinya dilalui kendaraan.
"Kami sudah putuskan akan pakai trase lama, yaitu sepanjang West Tarum Cannal (WTC). Hal tersebut sesuai dengan berbagai pertimbangan," ujar Rachmat di Jakarta akhir pekan kemarin.
Dengan perubahan itu, kebutuhan investasi untuk proyek itu diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat. Semula, investasi proyek diperhitungkan sebesar Rp2 triliun, namun berdasarkan studi yang dilakukan Mcdonalds, menyebutkan kebutuhan investasi mencapai Rp4 triliun.
Pasalnya, jalur pipa tersebut akan dibangun secara elevated atau layang sehingga membutuhkan alokasi dana yang lebih besar. Selain itu, diproyek itu juga akan dibangun sistem pemompaan air untuk mengalirkan ke pipa sepanjang 58 kilometer tersebut.
Dengan peningkatan investasi tersebut, katanya, mereka akan mengajukan dukungan dana pemerintah lewat Viability Gap Fund (VGF). Selain itu, mereka juga akan mengajukan proyek air baku untuk wilayah Karawang, Bekasi dan Jakarta itu mendapatkan jaminan pemerintah melalui Penjaminan Infrastruktur Indonesia.
Mengenai progres pelaksanaan proyek, lanjutnya, saat ini masih dalam proses feasibilty study, dan ditargetkan tuntas April 2012. Artinya, proyek tersebut dapat ditenderkan paling cepat pada pertengahan semester II 2012 dan beroperasi pada 2014.
"Prosesnya sudah masuk studi finansial dan aspek legalnya. Selain itu, kami juga akan adakan studi khusus terkait tiga wilayah yang akan dialiri dari Jatiluhur, yaitu Bekasi, Kerawang, dan Cikarang, karena kondisi lingkungan dan masyarakatnya berbeda-beda," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perusahaan Air Minum (PAM) DKI Jaya Sriwidiyanto mengatakan nantinya proyek SPAM Jatiluhur akan dilelang dengan sistem terbuka, dan diharapkan bisa dilaksanakan tahun ini juga sesuai dengan target Bappenas.
Menurutnya, lelang tersebut kemungkinan juga akan diikuti juga oleh salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta. Pasalnya, kata dia, pengelolaan air baku dari SPAM Jatiluhur nantinya juga akan dilakukan sebagian di Jakarta.
"Kita belum tahu siapa yang akan ikut dalam tender ini, tapi ini proyek terbuka siapa saja boleh ikut jika dinilai kemampuan dan pengalamannya baik," ujarnya.
Sriwidiyanto mengatakan sistem penyediaan air yang akan menyuplai air bersih sebesar 5.000 liter air perdetik tersebut dapat berproduksi paling lambat 2015 untuk memenuhi kekurangan suplai air di ibukota.
Saat ini, kebutuhan air bersih di DKI Jakarta mencapai 27 ribu liter per detik, sementara suplai air hanya 18 ribu liter per detik. Jika SPAM Jatiluhur dapat berproduksi mulai 2014, maka suplai air bersih di ibukota diperkirakan akan meningkat hingga 21.000 liter per detik.
Pembangunan SPAM Jatiluhur mencakup pekerjaan instalasi pengolahan air berkapasitas 5.000 liter per detik, dengan rincian kapasitas 1.000 liter per detik untuk saluran irigasi di kawasan Bekasi, Karawang, serta 4.000 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan 400.000 sambungan rumah di Jakarta.(api)

Showing 0 - 0 of 0 comments