Bisnis Indonesia - Bisnis.com


SOSIALITA SOLO (1): Tas Rp25 juta, ‘tiket’ masuk komunitas tajir

Large_cartier

Berita Terkait

 

TANGAN MARIA diangkat ke atas sementara kaki rampingnya yang terbalut legging hitam diayun ke depan. Kepalanya mengangguk dan menggeleng mengikuti irama musik pop yang mengentak ceria di Restoran Atria, pusat kota Solo, Rabu (15 Februari 2012) siang.

 

Sejumlah wanita turut melantai. Mereka menggerakkan tubuh biar karbohidrat serta lemak makan siang terbakar.

 

Namun tak semua yang hadir ikut melantai. Di bagian tengah ruangan, beberapa wanita punya kesibukan sendiri. Mereka asyik mengaduk-aduk tiga kardus kecil berisi aksesori dari bahan tembaga.

 

Aksesori dagangan itu mereka sandingkan dengan perhiasan yang sudah menempel di leher serta tangan. Dalam waktu kurang dari 2 jam, puluhan aksesori seharga Rp200.000 hingga Rp300.000 itu ludes terjual.

 

Walau sebagian sibuk berjoget serta berbelanja, banyak juga yang memilih duduk bersantai sambil mengobrol termasuk rekan saya. Beruntung dia tak sibuk sendiri karena dari dialah saya bisa tahu siapa saja yang tergabung dalam kelompok arisan Pelepas Santai Sejenak (PSS) ini.

 

“Yang joget di samping Bu Maria itu istri pengusaha batik. Di belakangnya pengusaha berlian. Pelanggannya banyak lho, dari yang hanya orang-orang sini saja sampai istri pejabat di Ibukota. Kalau yang itu dokter, itu istri pengacara dan yang itu pengusaha ruko. Rukonya banyak lho,” ujar Endah yang juga istri eksportir mebel ini sambil menepuk-nepuk tas Cartier merah bata miliknya. Sebuah tas edisi terbatas keluaran Prancis yang harganya lebih dari Rp25 juta.

 

Endah memang penggila merek Cartier. Bukan hanya untuk tas namun juga arloji. Sebuah arloji mungil dengan ukiran nama yang melingkar indah di tangan kirinya. Walau awalnya tak mau menyebut harga namun rekannya, Tiwik, langsung menyebut angka.

 

“Itu harganya Rp99 juta. Karena asli dan diukir jadinya memang mahal. Soal harga, saya memang hafal sekali karena saya selalu berusaha mengikuti tren tas, sepatu maupun aksesori. Saya juga jadi member belanja online untuk barang ori [original],” tukas Tiwik diikuti derai tawa Endah.

 

Seorang tamu datang menghampiri meja kami. Tak kurang dari dua detik, Tiwik langsung bisa mendeskripsikan kualitas bahan serta harga tas yang ditenteng sang tamu. “Bukan ori,” ujar Tiwik diamini Endah beberapa waktu kemudian.

 

Menurut Endah, yang bisa membedakan tas maupun sepatu itu asli atau replika hanyalah komunitas pengguna. Mereka yang selama ini terbiasa menggunakan barang replika dengan kualitas super prima alias di atas KW I pun kesulitan membedakannya.

 

“Bagi pengguna barang ori seperti kami, membedakan sebuah barang asli ataukah replika memang relatif mudah. Bagaimana ya menjelaskannya…. Alamiah saja. Karena sering pakai makanya hafal,” ujar Endah.

 

Disangka tas murah

 

Tiwik menimpali untuk tas branded biasanya modelnya sangat sederhana. Saking sederhananya, imbuh dia, kadang sampai banyak yang mengira tas itu murah. Tas jinjing warna krem yang ia pakai saat itu harganya Rp15 juta. 

 

Meski sederhana namun tas buatan Prancis berlabel Salvatore Ferragamo tersebut adalah salah satu tas eksklusif dengan edisi sangat terbatas.

 

“Biasanya orang awam kalau lihat tas ini mengira tas murah. Jadi kalau saya menyebut Rp15 juta pasti mereka tidak akan mengerti. Tapi begitulah tas-tas bermerek itu, jangan salah, justru menang di detail namun sangat simpel. Desainnya tidak ramai seperti tas imitasi yang dipajang di mal-mal itu,” tandasnya.

 

Lantas seberapa penting tas bermerek asli bagi para sosialita Solo? Menurut Endah, yang terpenting dari sebuah tas adalah model serta kenyamannya. Soal harga urusan kedua.

 

“Bagi saya buatan Cartier sangat nyaman. Karena saya mampu beli, ya saya beli. Kalau saya tak mampu beli, ya saya tidak akan beli. Lebih baik beli tas dengan harga lebih murah dengan tingkat kenyamanan yang sama daripada beli tas atau sepatu bermerek tapi palsu. Beli barang imitasi itu kan sama dengan membohongi diri sendiri. Begitulah, diri sendiri saja tega dibohongi apalagi ke orang lain,” tandas Endah.

 

Sebenarnya, sambung Tiwik, daripada membeli tas atau sepatu bermerek namun palsu lebih baik membeli tas yang asli namun tak bermerek.

 

“Bagi kami yang suka barang ori memang itu adalah kesukaan. Jadi ya meski kadang banyak teman-teman kami tidak tahu seberapa mahal sebenarnya tas kami, tidak masalah. Yang penting kami suka,” ujarnya.

 

Begitu pentingnya simbol status yang diwakili barang-barang bermerek tersebut juga disampaikan istri mantan pejabat di Pemkab Sukoharjo, Sri Rejeki. Walau bukan penggila tas buatan Eropa, dia merasa harus punya beberapa buah. Terbukti dari sekian banyak koleksi tasnya, dua di antaranya terselip tas eksklusif buatan Eropa berlabel Prada serta Gucci.

 

“Yang Gucci ini saya beli waktu jalan-jalan di Eropa. Saya lupa tokonya tapi seingat saya toko itu benar-benar eksklusif karena untuk masuk ke toko saja masing-masing pengunjung hanya diberi waktu 10 menit. Saat itu sedang diskon juga untungnya sehingga saya dapat Gucci ini hanya Rp15 juta,” jelasnya.

 

Untuk tas Prada, dia mengaku lupa harganya. “Saya benar-benar lupa karena yang gesek kartu kan suami. Tapi yang jelas lebihlah kalau Rp10 juta,” tambah dia lagi.

 

Menurut dia, tas buatan Eropa penting untuk bisa masuk dalam kalangan atas. Dia menyebut ketika harus menghadiri pertemuan dengan komunitas pengusaha farmasi atau kalangan dokter, Gucci serta Prada miliknya pun dipakai.

 

Berani menggunakan tas palsu sama dengan bunuh diri karena semua yang berada dalam komunitas itu pasti bisa langsung mengenali. Masalahnya, tidak menggunakan tas bermerek juga belum tentu akan diterima dalam komunitas tersebut. Satu-satunya solusi memang harus punya tas <I>branded<I>.

 

“Karakter menghadiri pertemuan bisnis itu berbeda dengan ketika kita pergi berlibur. Kalau berlibur ke Eropa, bagi saya lebih bagus menggunakan tas kerajinan tangan lokal karena di sana kan tidak ada yang tahu. Malah kelihatan etnis sekali. Akan malu sekali ketika ke Eropa pakai tas branded Eropa tapi palsu karena begitu sampai di Eropa, petugas bandara akan langsung mengguntingnya. Amit-amit,” tukasnya.

 

Dentum suara drum berbunyi. Suara itu menandakan acara arisan berakhir sudah. Sang penyanyi segera turun dari panggung untuk beristirahat namun para wanita masih saja sibuk mengobrol dalam beberapa kelompok.

 

Endah melirik arlojinya. Dengan cekatan dikeluarkannya scarf cokelat berpadu hitam merek Dior seharga Rp8 juta dari dalam tas. Kain itu memang sangat cantik apabila dililitkan di lehernya. Saya pun pamit pulang. Benar kata pepatah You are what you wear, kamu adalah apa yang kamu pakai. (Ayu Prawitasari/ea)


Baca juga:

Heboh Polisi Ganteng Bripda Saeful Bahri Menghipnotis Twitterland

Ghost Rider Penampakan Angker Di Kebakaran Jaya Toys Solo

Discuss: SOSIALITA SOLO (1): Tas Rp25 juta, ‘tiket’ masuk komunitas tajir

Showing 1 - 1 of 1 comments

  • 314cf338da19e1cef81eb0256e2ad6b0.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    lukman

    Minggu, 18 Maret 2012 | 00:43 WIB

    http://www.viralgen.com/jvslapia/lgadrian

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi

Most Read


Other area