TOKYO: Layanan order taksi melalui smartphone, yang mulai diperkenalkan tahun lalu di Jepang, terus dikembangkan oleh perusahaan taksi terbesar negara tersebut, karena terbukti mendongkrak penjualan.
Nihon Kotsu Co. Ltd, perusahaan taksi terbesar di Jepang dari sisi penjualan, yang mulai menerapkan teknologi ini tahun lalu mencatat pemasukan senilai US$1,5 juta (Rp13,5 miliar) pada 2011 dari order pelanggan melalui layanan tersebut.
Ichiro Ike Watanabe, Chief Executive Officer Nihon Kotsu mengatakan teknologi tersebut membantu meningkatkan kesediaan ulang pelanggan memakai jasa perseroan (willingness to repeat).
"Tahun ini, willingness to repeat rate kami mencapai 95%, naik dari tahun sebelumnya. Ini merupakan pertanda positif," tuturnya kepada pers, hari ini 21 Februari 2012.
Pada 2010, ketika fasilitas internet berplatform smartphone diterapkan, perseroan mencatat nilai rasio tersebut berada pada level 78% dan sempat di posisi 42% pada 2008.
Ichiro mengatakan aplikasi order melalui smartphone tersebut merupakan strategi transformasi dari picked taxi service (taksi yang dicegat di jalan), menjadi chosen taxi service (taksi yang dipesan) yang memberi average sales per service lebih besar.
Pihaknya merogoh investasi senilai 10 juta yen, dan biaya rutin sekitar 1 juta yen untuk pemeliharaan dan pembaruan fasilitas setiap bulannya.
Fasilitas yang telah diunduh 1.700 pelanggan sejak diluncurkan ini memungkinkan masyarakat melihat posisi taksi terdekat untuk disewa atau dipesan, semacam global positioning system (GPS) untuk mencari taksi.
"Dengan begitu, pelanggan bisa mencari dan memesan taksi tanpa harus menelpon ketika sedang sibuk dalam rapat," ujar pria berusia 41 tahun tersebut.
Nihon Kotsu meraup pendapatan sebanyak 60 miliar yen atau sekitar US$6 miliar pada tahun lalu, teratas di antara perusahaan taksi lain, meski jumlah armadanya lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan sejenis di Jepang.
Di Jepang, taksi hanya memegang 7% porsi dari seluruh moda transportasi yang digunakan di negeri tersebut, kalah dibandingkan dengan bus (8%), kendaraan pribadi (33%), dan kereta (52%).
Menurut Ichiro, transformasi layanan tersebut seharusnya juga diterapkan di industri taksi negara lain seperti Indonesia. Namun, saat ini pihaknya belum berencana untuk menjual aplikasi tersebut ke pasar luar negeri. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments