Bisnis Indonesia - Bisnis.com


Resensi: Sisi gelap dan sisi terang tembakau

Large_dgs_4193

Berita Terkait

Judul Buku : Hitam-Putih Tembakau

Penulis : Andi Rahman Alamsyah

Penerbit: Fisip UI Press

Terbit pertama: Oktober 2011

Tebal: 201 halaman

 

Tembakau, bagi sekitar 30 juta masyarakat di Jawa, merupakan komoditas  yang menjadi sumber penghasilan utama. Bahan baku rokok ini sejak lama sudah menjadi bagian hidup sehari-hari dan merasuk ke dalam budaya masyarakat.

 

Syukuran atau selamatan hasil panen, ritual sebelum menanam, hajatan spritual, hingga depresi masalah telah menjadi bagian sehari-hari petani tembakau di Jawa. Ini bisa dilihat di lima daerah utama penghasil tembakau yaitu Sumedang, Demak, Temanggung, Malang, dan Pamekasan.

 

Buku Hitam-Putih Tembakau sangat jelas mendeskripsikan kehidupan petani tembakau di lima wilayah itu. Data-data produksi, luas lahan, potensi pendapatan, dan kontribusi tembakau terhadap pendapatan asli daerah (PAD) serta produk domestik regional bruto (PDRB) juga dipaparkan dengan angka.

 

Di Sumedang, misalnya, dari total PAD pada 2010 sebesar Rp54 miliar, sebesar Rp4,1 miliar berasal dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Selain itu, sektor pertanian termasuk didalamnya tembakau menyumbang Rp1,54 triliun dari total PDRB Sumedang Rp5,36 triliun pada 2009.

 

Di empat daerah lainnya juga hampir mirip. Di Pamkeasan dan Temanggung, tembakau menjadi komoditas dominan yang menggerakkan perekonomian desa dan memberikan kontribusi signifikan bagi pertembuhan ekonomi daerah. Pemerintah pusat juga menikmati harum tembakau melalui cukai rokok.

 

 Pada 2010, pendapatan dari cukai rokok yang diraih pemerintah mencapai Rp62,14 triliun atau melampaui target yang ditetapkan Rp59,26 triliun.

 

Sayang, semua data-data positif itu kini bertolak belakang dengan apa yang dirasakan petani tembakau. Mereka kini dihadang dengan sejumlah regulasi kesehatan nasional dan internasional. Pemerintah berencana melakukan pengendalian tembakau melalui peraturan pemerintah maupun rancangan undang-undang.

 

Gaya populer

Kontroversi pengendalian tembakau ini bermula dari adanya kerangka kerja konvensi tembakau dengan organisasi kesehatan dunia (WHO). Kerangka kerja sama itu menyebutkan bahwa tembakau sebagai zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan.

 

Buku yang diterbitkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini ingin menunjukkan dua sisi perbedaan itu: tembakau sebagai penopang perekonomian, dan tembakau sebagai bahan zat aditif berbahaya.

 

Para peneliti dan dosen FISIP UI menggandeng Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) sebuah divisi kehumasan di PBNU untuk menyusun dua sisi kelebihan dan kekurangan tembakau ini ke dalam sebuah buku.

 

 Andi Rahman, Dosen Sosiologi UI, memimpin penelitian yang melibatkan lima rekannya di PBNU dan UI. Kelima orang itu diterjunkan untuk mengkaji kondisi petani dan industri tembakau di lima sentra bahan baku rokok tersebut, meliputi wilayah Sumedang, Demak, Temanggung, Malang dan Pamekasan sejak Februari 2011.

 

 “Buku ini merupakan hasil konversi dari laporan penelitian LTN PBNU dan FISIP UI  tentang dinamika kehidupan petani tembakau di lima sentra di Jawa,” ujar Andi yang menjadi editor penyusunan buku saat peluncuran di Kampus FISIP UI, pertengahan Oktober.

 

Hasilnya kemudian dirangkai menjadi sebuah buku dengan gaya ilmiah populer. Buku setebal 201 halaman ini menggambarkan bagaimana petani tembakau menghadapi dua sisi kebijakan dari pemerintah yang berbeda.

 

 Buku tersebut juga diluncurkan sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib petani tembakau di Indonesia yang selama ini dibuat resah dengan berbagai kebijakan pemerintah soal tembakau. Masalah juga kemudian ditambah dengan adanya fatwa haram merokok dari organisasi keagamaan.

 

Dia berharap kompleksitas yang disajikan dalam buku tersebut menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan baik peraturan pemerintah maupun rancangan undang-undang mengenai tembakau.

 

"Selama ini, sikap pemerintah masih menggantung, tembakau ini dilanjutkan atau tidak. Jika memang dihilangkan pemerintah akan kehilangan potensi triliunan rupiah, dan jutaan petani kehilangan pekerjaan," kata Andi yang juga tercatat sebagai Ketua Bidang Riset LTN PBNU.

 

Hanneman Samuel, Sosiolog UI, yang memberikan epilog terhadap buku yang diterbitkan FISIP UI Press ini menyebutkan tembakau menjadi tulang punggung perekonomian sejumlah daerah di Jawa, namun sekarang semakin dipojokan dengan regulasi yang tidak sensitif dengan kehidupan para petaninya.

 

Menurut dia, pemerintah harus bisa membedakan dengan jelas kebijakan yang diterapkan terhadap tembakau sebagai komoditas, dan rokok sebagai produk kesehatan dan barang kena cukai.

 

 “Era globalisasi telah mengubah kondisi petani di desa. Petani tembakau menjadi korban globalisasi yang semakin menguat,” katanya.

 

 Dosen Fakultas Pertanian IPB Gunawan Wiradi menyoroti peranan pemerintah yang memang sangat kecil terhadap kalangan petani. Sistem perekonomian pertanian di Indonesia lebih mementingkan nasib pengusaha, yang notabene menggantungkan usahanya kepada petani sebagai pelaku di tingkatan paling bawah.

 

Namun, buku ini juga bukan tanpa catatan. Sejumlah ahli yang dihadirkan saat bedah buku di kampus UI memberikan beberapa kekurangan, di antaranya minimnya elaborasi mengenai dampak kesehatan dan kontroversinya. Kaitannya tembakau dengan budaya dan kegiatan juga kurang dipaparkan lebih dalam. Namun, deskripsi dan gambaran mengenai kondisi petani dan tata niaganya dipaparkan cukup lengkap(dadan.muhanda@bisnis.co.id)

 

 

 

Discuss: Resensi: Sisi gelap dan sisi terang tembakau

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area