Bisnis Indonesia - Bisnis.com


RAMESH DIVYANATHAN: Tidak butuh yes man

Large_ramesh-divyanathan

Berita Terkait

Berbicara tentang mobil premium, nama Bayerische Motoren Werke (BMW) menjadi salah satu merek yang paling dikenal. Di Indonesia saat ini, BMW tak bisa dipisahkan dari sosok Ramesh Divyanathan. Sejak ditunjuk menjadi Presiden Direktur PT BMW Indonesia pada 2009 lalu, kiprah ATPM yang kantor pusatnya berada di Munich, Jerman, terus bersinar.

Apa saja pandangan Ramesh tentang pasar otomotif di Indonesia? Tantangan apa saja yang dia hadapi selama memegang kendali manajemen BMW di Indonesia? Seperti apa sisi lain dari seorang Ramesh? Kepada Bisnis, pria asal Singapura yang memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik ini bercerita. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan tentang kondisi BMW Indonesia saat ini?

Saya masuk ke Indonesia sejak 2009, tepat setelah pemilu berlangsung lancar dan aman. Sejak saat itu, optimisme tentang semakin cerahnya kondisi ekonomi di Indonesia terus menguat.

Hasilnya, dalam 2 tahun terakhir kami memang mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Hingga tahun lalu kami dapat menggandakan penjualan BMW di Indonesia. Market share kami meningkat di segmen mobil premium. Tahun lalu, penjualan kami tumbuh 25%. Kami percaya bahwa BMW mempunyai konsistensi performa yang boleh dikatakan terbaik di segmen premium sejauh ini.

Sangat jelas tujuan kami berikutnya, yaitu melanjutkan pertumbuhan dan memimpin segmen ini.

Bagaimana Anda melihat persaingan pada segmen mobil premium di Indonesia?

Menurut saya, secara umum kompetisi merupakan hal yang baik bagi kami. Dengan kompetisi yang kuat akan mendorong kami untuk menciptakan produk terbaik.

Jika kita berbicara tentang pasar mobil premium di Indonesia, angkanya bahkan tidak sampai merepresentasikan 1% dari total pasar hingga saat ini. Dengan begitu, sebetulnya potensi untuk tumbuh masih sangat tinggi.

Walaupun market secara umum ti dak tumbuh terlalu besar, kami memperkirakan pertumbuhan segmen premium masih kuat menyusul tingkat kesejahteraan yang mening kat dan pertumbuhan kelas menengah.

Saat ini, ada peningkatan kesa daran di antara orang-orang terhadap premium brand, mereka ingin untuk mengekspresikan diri sendiri dalam cara berbeda, tidak membeli sesuatu yang umum di pasaran.

Contohnya telepon, walaupun BlackBerry ada di mana-mana, orang-orang memakai wallpaper ataupun screen saver yang ber beda untuk membuatnya menjadi lebih personal. Nah, dengan premium brand seperti BMW maupun MINI, brand ini dapat mengeks presikan indivi dualitas Anda.

Apa situasi tersulit yang pernah dialami BMW Indonesia sejauh ini?

Saya rasa saya cukup beruntung sejak keberadaan saya di sini (belum ada situasi tersulit yang di alami). Namun, selama 10 tahun keberadaan BMW Indonesia di sini tentu saja ada masa suka duka yang kami alami. Selama masa turun naik itu, diler kami juga merasakannya kondisi tersebut dan kami menghargai apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Apakah Anda pernah membuat keputusan yang pada akhirnya Anda sesali?

Ya saya punya sedikit keputusan seperti itu, tetapi saya tidak mau menyebutkannya kepada Anda. Hahaha...

 

Namun tidak bijaksana untuk menyesal terlalu banyak dan selalu melihat ke belakang. Yang terpenting bagaimana kita bisa belajar dengan cepat dan move on, serta make sure bahwa kita tidak akan mengulanginya lagi. Mungkin salah satu yang saya pernah alami berkaitan dengan persepsi terhadap karyawan.

 

Pada awalnya ketika Anda merekrut seseorang dan mengharapkan kinerja yang tinggi darinya, ternyata pada akhirnya dia tidak bisa memenuhi standar di level yang diharapkan. Ini yang masih tetap menjadi tantangan.

 

Dengan populasi penduduk Indonesia yang besar, tantangannya adalah bagaimana menemukan mereka, menjaga mereka tetap di perusahaan, dan menjaga mereka agar tetap termotivasi.

 

Apa keputusan tersulit yang Anda ambil selama memimpin perusahaan ini?

 

Selama saya di sini, bisa dikatakan kami tidak terlalu banyak berurusan dengan situasi sulit. Namun jika balik ke masa ketika saya menjadi Direktur Marketing BMW di Singapura pada 2008-2009 saat terjadinya krisis finansial, mungkin ini adalah salah satu periode tersulit.

 

Tahun lalu penjualan BMW di sana mencapai 5.000 unit. Ini adalah angka yang besar. Namun pada saat terjadinya krisis tidak ada konsumen yang datang ke showroom. Ini adalah kondisi yang langka di Singapura.

 

Pada awal 2009, angka pemesanan mobil rendah karena saat itu masih berada di tengah-tengah krisis finansial, sehingga banyak orang yang bertahan dulu untuk melihat perkembangan situasi yang ada.

 

Saat itu menjadi dilema bagi saya apakah akan memangkas harga atau tidak. Jika memangkas harga, untuk jangka pendek penjualan memang akan meningkat. Tetapi, bagi merek premium seperti BMW, strategi semacam ini tidak baik untuk jangka panjang.

 

Yang kami lakukan, pada saat pelanggan mampir ke showroom, ketika itu kami mengajak mereka mengobrol tentang banyak hal seperti krisis finansial yang tengah terjadi, berbicara mengenai kondisi perekonomian, dan bagaimana mereka berinvestasi. Pembicaraan-pembicaraan semacam ini banyak yang membuat mereka termotivasi dan lebih memahami situasi yang terjadi saat itu.

 

Jika terjadi krisis, apakah yang akan Anda lakukan agar perusahaan Anda bisa bertahan?

 

Jika terjadi krisis, ada dua hal yang akan saya lakukan. Pertama, mempertahankan good people. Kedua, menjamin rekanan dan jaringan diler tetap bertahan. Inilah dua hal kritis yang akan saya ambil jika berada dalam situasi krisis.

 

Apakah aksi korporasi yang akan Anda lakukan dalam beberapa tahun ke depan?

 

Yang jelas kami harus membuat rencana strategi, mengikuti strategi itu, dan tidak mengubah pikiran kami, fokus kami. Satu hal yang perlu kami lakukan juga adalah menjamin bahwa kami, termasuk diler dan rekan bisnis kami, fit and ready dengan strategi yang direncanakan. Tujuan kami tentu saja bagaimana meningkatkan penjualan dan market share, tetapi kami juga harus memberikan peningkatan pelayanan dan kepuasan bagi pelanggan.

 

Bagaimana Anda melihat kompetitor?

 

Ke depannya akan semakin kompetitif. Apalagi saat ini semua orang membicarakan Indonesia karena rating yang dikeluarkan Moody's misalnya.

 

Kompetisi akan semakin ketat, orang-orang akan semakin banyak yang datang ke Indonesia, akan makin banyak headquarters yang dibuka. Indonesia akan semakin mendapatkan atensi dan investasi akan semakin banyak mengalir.

 

Bagaimana Anda memperlakukan pelanggan?

 

Pelanggan kami adalah konsumen premium yang menginginkan perlakukan premium way. Tentu saja mereka harus diperlakukan dengan layanan yang premium. Misalnya saja jika ada feedback dari mereka, mereka tidak senang akan sesuatu, maka menanggapi feedback itu secara personal.

 

Pernahkah Anda dihadapkan pada situasi ketika karyawan Anda tidak mengikuti peraturan Anda?

 

Kami mempunyai pelatihan bagi karyawan. Satu hal yang selalu saya tekankan kepada mereka adalah mereka harus independent, strong minded. Saya tidak butuh dengan orang yang hanya bisa berkata yes, yes man. Jika mereka memang tidak setuju dengan satu kebijakan, mereka bisa mengatakannya dengan menyampaikan argumentasinya. Saya sangat menghargai karyawan yang kritis.

 

Bagaimana Anda mencapai posisi saat ini? Siapa figur di balik kesuksesan Anda?

 

Saya sangat bersyukur karena diberkahi dengan keluarga, terutama istri yang sangat men-support. Tentu saja dalam 15 tahun lebih karier saya, saya banyak belajar dari managing director yang pernah bekerja bersama saya. Dari masing-masing mereka, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai hal tertentu, misalnya saja mengenai analisis finansial, marketing, dan lain-lain.

 

Bagaimana Anda memotivasi karyawan?

 

Saya yakin, para karyawan mempunyai passion sebagaimana yang saya dan perusahaan miliki. Dengan berbagi misi tim hal itu dapat memotivasi dan menjaga fokus mereka. Selain itu, misalnya juga dengan memberikan paket kompetitif dan asuransi kesehatan. Bagaimana bersikap terhadap mereka, yakni dengan memperlakukan mereka dengan baik, menghargai, doing what you say, saying what you mean, serta menghargai opini mereka sehingga mereka merasa percaya diri dalam menyampaikan pendapatnya.

 

Bagaimana Anda menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan?

 

Sedapat mungkin saya memanfaatkan waktu akhir pekan untuk beristirahat karena pada hari kerja kegiatan saya tidak memungkinkan untuk itu. Pada saat weekend merupakan kesempatan bagi saya untuk me-recharge diri saya.

 

Apakah Anda sudah mempersiapkan seseorang untuk menjadi pengganti Anda?

 

Sebagai perusahaan multinasional, saya tidak mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan pengganti. Itu adalah tugas dari atasan saya, bersama dengan bagian SDM di kantor pusat. Namun, yang bisa saya jamin adalah mereka harus cukup aware terhadap Indonesia, terhadap market, mengetahui partner saya dengan baik. Semakin mereka tahu tentang Indonesia, semakin mudah bagi mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi penggantinya.

 

Apa cita-cita Anda sewaktu kecil?

 

Haha... Waktu kecil sebetulnya saya ingin menjadi pilot. Sayangnya, di Singapura aturan untuk siwa yang ingin belajar penerbangan sangat ketat, syarat utamanya adalah tidak berkacamata. Maka, ketika saya harus memakai kaca mata, sejak itulah saya berhenti bermimpi ingin menjadi pilot.

 

Apa persiapan Anda menghadapi pensiun?

 

Saya rasa saya masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Saya sangat menyukai pekerjaan saya, perusahaan ini, brand ini. Mungkin suatu saat jika saya pensiun saya akan melakukan beberapa hal. Tentu saja saya akan mempersiapkan finansial untuk masa pensiun.

 

Apa yang Anda lakukan dalam waktu senggang Anda? Berapa jam Anda tidur dalam sehari?

 

Saya tidak mempunyai hobi khusus. Saya melakukan exercise tiga kali seminggu. Bermain tenis pada Minggu pagi. Normalnya 6--7 jam sehari dan jika sedang sibuk sekitar 4--5 jam. Namun, pada weekend saya memanfaatkannya untuk me-recharge diri saya.

 

Jenis musik apa yang Anda sukai?

 

Saya tidak mempunyai jenis musik yang khusus saya sukai, tergantung mood saja. Kadang-kadang saya suka sesuatu yang agak rock, kadang sentimental, bahkan jazz. Saya tidak punya penyanyi favorit tertentu, kadang saya bisa mendengarkan Katy Perry, kadang Adelle, semua tergantung mood saja.

 

Apakah Anda ingin anak Anda mengikuti karier Anda?

 

Tidak. Saya ingin anak saya mempunyai karier yang dia sukai, yang dia bagus di situ, dan mempunyai passion atas karier itu, sehingga dia bisa berkarier dengan baik. Dia hendaknya be creative, be unique, be different.

 

Pernahkah menghadapi situasi tender proyek bernuansa KKN? Bagaimana menghadapinya?

 

Secara teknis, penjualan tidak ditangani oleh ATPM, tetapi diler.

 

Secara filosofis, bagi kami orientasi utama dalam memegang brand BMW di Indonesia adalah untuk jangka panjang. Dengan prinsip itu, jika ada tender yang berbau KKN, kami tentu akan mundur. Kalau kalah ya tidak apa-apa, toh kami hanya kalah dalam jangka pendek, tetapi menang dalam jangka panjang. Kami tidak mau menang dalam jangka pendek, tetapi hal ini pada akhirnya berdampak pada jangka panjang.

 

*) Tulisan ini diadopsi dari harian Bisnis Indonesia. Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

>>>BACA JUGA:

* HIRAMSYAH S THAIB, curhat soal anak

 

Discuss: RAMESH DIVYANATHAN: Tidak butuh yes man

Showing 1 - 1 of 1 comments

  • Af3876495098af5b360394d30f9dff2a.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Negara Bali Independence

    Jum'at, 03 Februari 2012 | 17:38 WIB

    The 1 billion indian people and hinduism are ready to invade indonesia especially Bali to eliminate islam and its muslim terrorists. Democracy supports the first Hindus President of indonesia and middle east. Indian poeple can make better Negara BALI for Independence.

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area