JAKARTA: Produksi karet alam Indonesia, yang terbesar kedua di dunia, diperkirakan menurun 3,2% tahun ini karena hujan lebat mengurangi penyadapan, membalik estimasi sebelumnya bahwa akan terjadi kenaikan pasokan.
Asril Sutan Amir, ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), mengatakan produksi bisa jatuh menjadi 3 juta ton dari 3,1 juta ton tahun lalu. Pada bulan lalu asosiasi memperkirakan bakal terjadi peningkatan 6,5% menjadi 3,3 juta ton.
Jatuhnya pasokan dari Indonesia yang merupakan produsen kedua terbesar setelah Thailand, dapat membantu memperpanjang reli harga karet alam 21% tahun ini. Penguatan harga didukung pula ekspektasi permintaan dari industri otomotif yang bakal meningkat.
"Saya telah mengunjungi ke perkebunan di daerah penghasil utama di Sumatera dan Kalimantan dan masih ada hujan lebat di sana," kata Amir seperti dikutip Bloomberg. Dia menambahkan bahwa saat ini masuk musim produksi rendah dan pasokan akan lebih tertekan jika hujan terus berlanjut hingga kuartal kedua.
Menurutnya, ekspor bisa menurun menjadi sekitar 2,45 juta ton dari 2,6 juta ton pada tahun lalu. Dia memperkirakan harga karet bergerak di kisaran US$3,7—US$4 per kilogram sampai akhir kuartal kedua.
Harga karet untuk penyerahan Juli naik 1,3% menjadi 318,1 yen atau setara US$4 per kilogram di Tokyo Commodity Exchange kemarin.
Daud Husni Bastari, anggota dewan penasihat Gapkindo juga mengatakan bahwa asosiasi menentang rencana Departemen Perindustrian untuk menarik pajak atas ekspor karet.
"Tidak ada urgensi untuk memaksakan hal tersebut," kata Bastari pada konferensi pers di Jakarta. Pajak, katanya, diperlukan jika ada kekurangan pasokan ke pembeli domestik, tetapi hingga saat saat ini belum ada masalah tersebut.
Dia menambahkan pajak ekspor hanya akan merugikan petani karena prosesor dapat memotong harga pembelian. (Taufikul Basari/api)

Showing 0 - 0 of 0 comments