BERLIN: Presiden Jerman Christian Wulff mengundurkan diri di tengah ancaman penyelidikan hukum atas dugaan korupsi.
Pengunduran diri Wulff ini memberikan pukulan bagi Kanselir Jerman Angela Merkel yang sedang menghadapi risiko gangguan akibat krisis utang di zona euro.
Wulff adalah presiden Jerman kedua yang berhenti dalam waktu kurang dari 2 tahun. Saat ini, Merkel terpaksa harus menemukan kandidat baru yang mendapat dukungan lintas partai untuk jabatan seremonial tersebut.
Merkel hari ini membatalkan rencana perjalanan ke Roma karena pengunduran diri ini. Sedianya, dia akan mengadakan pembicaraan mengenai krisis utang dengan Perdana Menteri Italia Mario Monti.
"Perkembangan di beberapa hari dan pekan terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan kemampuan saya untuk bertindak telah rusak," kata Wulff kepada wartawan di istana kepresidenan di Berlin hari ini.
Wulff, 52, mantan wakil pemimpin partai Uni Demokratik Kristen, dipilih oleh kanselir untuk menggantikan incumbent sebelumnya, Horst Koehler, setelah pengunduran diri yang mengejutkan pada Mei 2010. Wulff akhirnya terpilih oleh majelis nasional khusus pada 30 Juni.
Merkel mengatakan dia akan berkonsultasi dalam beberapa hari mendatang dengan para pemimpin oposisi politik. Dia menyatakan akan mencoba dan mengidentifikasi calon pengganti.
Calon potensial lainnya yang disebutkan dalam media Jerman a.l. Menteri Tenaga Kerja Ursula von der Leyen dan Presiden Bundestag Norbert Lammert.
Merkel menyesal
Sementara itu, Merkel menyatakan 'sangat menyesalkan' pengunduran diri Wulff. Namun begitu, dia mengatakan tetap menghormati keputusan tersebut. Dia juga menilai pengunduran diri ini menunjukkan betapa kuatnya hukum di Jerman yang memperlakukan semua orang dalam posisi yang sama.
Skandal Wulff disebabkan tuduhan yang berkaitan dengan pinjaman rumah pribadi sewaktu dia menjabat sebagai perdana menteri di negara bagian Lower Saxony. Kasus yang pertama kali dimuat di Bild pada tanggal 13 Desember ini membuat harian Jerman tersebut laris manis. Kasus ini kemudian ditindaklanjuti oleh majalah Der Spiegel. (aph)

Showing 0 - 0 of 0 comments