MANILA: Asian Development Bank (ADB) mengestimasikan negara donor kemungkinan akan membutuhkan US$13 miliar dari 2013 hingga 2016, untuk digunakan sebagai pinjamanan keuangan dan hibah untuk sejumlah proyek di negara-negara berkembang.
Dirjen Departemen Strategi dan Kebijakan ADB Kazu Sakai menyatakan sejumlah negosiasi dengan para donor mencapai US$12 miliar hingga US$13 miliar, dari dana yang sedang dikucurkan akan habis pada Mei tahun ini. Berdasarkan laporan dari Asian Development Fund X Donor disampaikan dana penambahan terakhir sebesar US$11,3 miliar.
Sakai menyatakan negara-negara Asia diharapkan untuk memberikan lebih banyak dana agar dapat berkontribusi menyusul krisis utang Eropa. Sejumlah proyek di negara-negara berkembang di Eropa, termasuk Vietnam, Laos, Mongolia.
“Kesulitan atas situasi fiskal di sejumlah negara di kawasan Eropa kemungkinan akan berdampak pada kontribusi dari sejumlah donor,” ujar Sakai.
Menurutnya, dengan kinerja perekonomian yang kuat di kawasan Asia, terdapat harapan bahwa negara-negara ini akan berkontribusi besar pada Asian Development Fund pada saat ini, dibandingkan pada penambahan dana sebelumnya.
Dari Beijing dilaporkan Managing director Asian Development Bank (ADB) Rajat Nag menyatakan pemerintah China harus mulai mempertimbangkan pemberian stimulus fiskal, jika krisis utang Eropa mulai merembet ke Amerika Serikat.
“Krisis Eropa merupakan masalah besar dalam situasi global ini. Sejumlah negara seperti China harus mulai mempertimbangkan kemungkinan pemberian stimulus fiskal, jika krisis kawasan Eropa mulai lebih serius, dan dampaknya mulai merembes ke Amerika,” ujarnya. \
Beberapa hari lalu, International Monetary Fund menyatakan bahwa memburuknya krisis utang Eropa telah berpengaruh pertumbuhan rata-rata China. Sebelumnya kreditor memproyeksikan rata-rata pertumbuhan negara Tirai Bambu sebesar 8,2% pada 2012. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch menyatakan anjloknya perekonomian negeri itu merupakan risiko kunci, pereknomian global.
" Penilaian kami terhadap situasi tersebut kemungkinan tidak sampai terjadi penurunan ekonomi yang tajam. Jika krisis kawasan Eropa dapat terselesaikan, maka China masih dapat bertumbuh lebih dari 8% per tahun,” katanya.(Bloomberg/Diena Lestari) (api)

Showing 0 - 0 of 0 comments