JAKARTA: Selain memperbaiki struktur pendanaan dan pemangkasan beban operasional, regulator dan pelaku industri perlu menciptakan kompetisi yang ketat dalam segmen kredit tertentu. Pasalnya bank yang peduli terhadap sektor itu masih terbatas.
Ekonom Senior ISEI Mirza Adityaswara mengatakan bukan hanya faktor bunga dana dan premi risiko yang membuat bunga kredit tinggi, tetapi juga struktur pasar kredit yang masih ada jurang pemisah antara segmen satu dengan lainnya.
Dia menyebutkan hanya segmen kredit perumahan rakyat dan kredit korporasi yang memiliki kompetisi tinggi, sehingga suku bunga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan dengan segmen lainnya.
“Kredit mikro dan ritel yang memiliki low competitive market. Jadi bunga kredit yang diberikan cenderung tinggi dan sulit turun, karena kurang pesaing dan kurang supply,” ujarnya kepada Bisnis hari ini.
Dia menerangkan kredit korporasi harus bersaing dengan obligasi, kredit dari luar negeri, dan surat utang luar negeri, sehingga bunga kredit yang ditawarkan harus lebih kompetitif agar debitur mau mengakses kredit.
Adapun pemain kredit usaha kecil masih terbatas beberapa bank. Sejumlah bank yang konsen pada segmen itu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Danamon Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk dan PT Bank OCBC NISP Tbk.
“BPR yang peduli pada kredit mikro dan jumlahnya mencapai 1.800 bank hanya memiliki portofolio kredit Rp40 triliun. Padahal mayoritas usaha di Indonesia dikuasai usaha kecil,” kata Mirza.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit usaha kecil menguasai hampir 70% portofolio kredit perbankan nasional yakni mencapai Rp1.458,7 triliun, tumbuh 26,56% dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Namun, pertumbuhan kredit usaha kecil lebih rendah dibandingkan dengan kredi konsumsi yang mencapai 29,17% menjadi Rp647,5 triliun.
Penyaluran kredit usaha kecil terbesar dikuasai bank swasta nasional yang mencapai Rp502,8 triliun, kemudian bank BUMN Rp404,6 triliun, bank pembangunan daerah Rp156,4 triliun dan bank asing/campuran Rp67,55 triliun. (sut)
Showing 0 - 0 of 0 comments