MEDAN: Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menuding tanaman kacang kedele lebih merusak kawasan hutan dibandingkan dengan tanaman kelapa sawit.
Sekjen Apkasindo Asmar Arsjad menuding tanaman kedele di Eropa dan AS luasnya mencapai jutaan hektate. Sementara perkebunan kelapa sawit, kata dia, baru mencapai 14 juta ha.
"Coba Anda bandingkan. Untuk membuka satu hektare perkebunan kacang kedele, berapa luas hutan yang harus dikorbankan. Demikian juga tanaman kelapa sawit, berapa luas hutan yang dikorbankan," ujarnya di Medan Senin (20/02)
Menurut dia, saat ini berdasarkan data resmi luas kebun sawit hanya di dunia baru 14 juta hektare. Sekarang mari kita ikuti alur perhitungan negara maju, dia menjelaskan, ada 14 juta hektare hutan di dunia ini dihancurkan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.
Untuk membuka perkebunan kacang kedele, jelasnya, sedikitnya 50 juta hektare hutan telah dirusak di Amerika dan Eropa.
"Mengapa negara maju meributi areal yang 14 juta hektare, sedangkan areal yang 50 juta hektare tidak diusik sama sekali," tuturnya.
Perlu diketahui, kata dia, areal kedelai di dunia ini mencapai 102,7 juta hektare atau tujuh kali lipat lebih luas dari sawit.
Produsen kedelai terbesar di jagad ini adalah Amerika Serikat, yang menguasai 38 persen pangsa pasar. Baru di belakangnya menyusul Argentina kemudian Brasil, lalu Eropa.
Dia menegaskan, langkah Amerika untuk membatasi impor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Indonesia adalah kebijakan yang tidak taktis hanya ingin menang sendiri dan menyalahkan negara lain.
Dia menyebutkan luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 8 juta ha yang 80% di Sumatra dan 20% di Kalimantan. Dari data ini saja, mereka tidak memahami dan tidak mengerti perkelapsawitan.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Balaman Tarigan mengatakan tanaman kelapa sawit masuk tanaman hutan.
Areal yang selama ini ditanam menjadi perkebunan sawit adalah eks hak pengusahaan hutan (HPH) yang sudah gundul. Para pekebun memanfaatkan lahan itu untuk dihijaukan kembali dengan menanam sawit.
Dia menjelaskan, daerah Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut dulu sudah tinggal padang ilalang dan tidak bermanfaat lagi bagi masyarakat, dan kemudian dijadikan areal perkebunan sawit.
"Manfaatnya luar biasa. Kemiskinan di daerah itu dapat ditekan. Curah hujan makin tinggi dan daerah itu hijau kembali. Tanaman sawit dapat diperbaharui sekali 30 tahun," tuturnya. (Bsi)

Showing 1 - 1 of 1 comments