JAKARTA:Pemerintah Indonesia dan sejumlah perusahaan asing yang terkait dengan minyak sawit di dalam negeri menggodok jawaban ilmiah yang akan dilayangkan sebagai respons untuk mematahkan notifikasi Environmental Protection Agency yang diterbitkan pemerintah Amerika
Serikat.
Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal mengatakan Pemerintah Indonesia telah menyampaikan kepada Permerintah AS untuk tidak menganggap remeh masalah tersebut, mengingat berkaitan dengan 1,9 juta petani kelapa sawit skala kecil di dalam negeri yang menggantungkan kesejahteraan keluarganya pada komoditas itu.
“Argumentasinya harus ilmiah. [Kita sampaikan] data ilmiah bahwa keputusan mereka [EPA] kurang lengkap,” kata Dino menjawab pertanyaan wartawan di gedung Kementerian Luar Negeri hari ini.
Dalam responsnya, ujar dia, Pemerintah Indonesia akan menyatakan penolakan atas hasil dari EPA yang mengatakan bahan bakar nabati atau biofuel dari CPO Indonesia belum memenuhi standar terbarukan.
Standar batas pengurangan emisi gas rumah kaca yang ditetapkan oleh EPA untuk biodiesel dan renewable diesel dari bahan baku sawit minimal 20%.
“Kita telah menyatakan bahwa data mereka itu kurang akurat, kurang komprehensif, dan tidak konklusif karena didasarkan pada data-data lama,” kata Dino.
Untuk itu, Pemerintah Indonesia telah melakukan pertemuan dan koordinasi dengan pemangku kepentingan termasuk dari pihak swasta asing.
Negara lain penghasil minyak sawit seperti Malaysia, ujarnya, juga akan menulis jawaban sebagai responnya paling lambat tanggal 27 Maret.
Setelah mendapat respons dari pemerintah Indonesia dan Malaysia serta pihak swasta selanjutnya akan dikaji oleh pemerintah AS, dan hasilnya akan diberikan dalam bentuk tanggapan mereka.
“Mudah-mudahan atas dasar respons kita itu, mereka dapat memperbaiki hasil finding. Jadi merevisi finding mereka yang sebelumnya,” kata Dino.
Dino mengatakan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara yang paling banyak mengekspor minyak sawit ke AS. Indonesia memasok 5% dari total impor CPO yang dilakukan Amerika Serikat, sementara Malaysia mencapai 90%.
“Kita yakin pengurangan emisi gas rumah kaca dari sawit Indoneia] bisa lebih dari 20% , karena mereka [EPA] mengambil data sudah lama [dan] kurang akurat,” kata Dino.(msb)

Showing 0 - 0 of 0 comments