BANDUNG: Target penjualan properti di Jawa Barat pada 2012 diperkirakan sulit terkejar apabila perbankan belum bisa menurunkan suku bunga kredit dan merevisi aturan program fasilitas likuiditas pinjaman perumahan.
Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Indonesia (AP2ERSI) Jabar Ferry Sandiyana mengatakan permasalahan suku bunga FLPP membuat penjualan rumah periode Januari sampai awal Februari ini menjadi stagnan.
“Agak sulit mengejar target apabila FLPP masih belum jalan. Pada tahun lalu saja, target penjualan rumah di Jabar meleset dari target,” katanya kepada Bisnis, Sabtu (11/02).
AP2ERSI Jabar menargetkan penjualan rumah sekitar 6.000 unit—8.000 unit untuk 2012, atau sama dengan target tahun lalu. Pada 2011, realisasi penjualan rumah anggota AP2ERSI Jabar diperkirakan hanya mencapai 4.000—5.000 unit.
“Kami khawatir realisasi target tahun ini tidak jauh berbeda dengan 2011,” katanya.
Ferry mengatakan pemerintah telah membatasi rumah minimal 36 dalam program FLPP. Sementara itu, katanya, pengembang mengaku keberatan bila rumah tipe 36 dibanderol senilai Rp100 juta.
Pengembang, katanya, terus dihadapkan dengan kenaikan harga bahan baku, terutama tanah. Oleh karena itu, lanjutnya, aturan pembatasan tersebut dianggap merugikan.
“Hitungan kami, FLPP akan berjalan lancara apabila batasan tipe rumah diturunkan. Sejauh ini permintaan rumah sederhana terbanyak di Jabar untuk tipe 30, yang notabene telah dikenakan bunga komersial,” katanya.
Ferry menilai pertumbuhan daya beli masyarakat Jawa Barat tidak terlalu tinggi, karena sebagian calon konsumen perumahan merupakan masyarakat kelas pekerja. Artinya, katanya, kemampuan daya beli dari tahun ke tahunnya tidak banyak mengalami perubahan,” ujarnya.
Tidak bergairah
Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Marketer Developer Bandung (AMDB) Yuyun Yudhiana, menurutnya mandeknya penyaluran FLPP membuat penjualan rumah selama awal tahun ini tidak bergairah.
“Pasar rumah sederhana masih belum bagus, karena FLPP terhenti. Untuk rumah kelas menengah sudah ada penjualan, tapi jumlahnya masih sedikit,” ujarnya.
Yuyun memperkirakan penjualan rumah nonsederhana di Jabar periode Januari-awal Februari masih di bawah 200 unit. Apabila dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya tidak jauh berbeda.
Dia mengatakan permasalahan bunga kredit juga masih menjadi penghambat untuk penjualan rumah kelas menengah. Sejumlah konsumen, lanjutnya, masih menganggap suku bunga kredit pemilikan rumah terlalu mahal.
“Walaupun BI Rate sudah turun lagi, tidak secara otomatis membuat bank memangkas bunga KPR,” ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, pihaknya menyiapkan pameran perumahan pada bulan depan untuk mempercepat realisasi penjualan perumahan, setidaknya agar dapat mengejar target triwulan I/2012.(k35/k29/Bsi)

Showing 0 - 0 of 0 comments