JAKARTA: Tanaman sirsak, menurut Lina Merdiana, peraih Traditional Medicine Award pada 2002 dari Forum Sarjana Award (Forsa) dan Juwita Ratnasari, sarjana pertanian IPB dengan program studi hortikultura dan mahasiswa pascasarjana, bermanfaat dari daun hingga akar tanaman sebagai obat.
Daun sirsak banyak mengandung zat antara lain annocatacin, annocatalin, annohexocin, annonacin dan gigantetronin. Secara tradisional biasa digunakan antara lain untuk mengobati abses, asma, bronkitis, batuk, diabetes, demam, gangguan empedu, jantung hipertensi, gangguan pencernaan, reumatik hingga tumor.
Bunga sirsak juga bisa untuk obat bronkitis dan batuk, sementara itu buahnya untuk obat diare, maag, disentri, demam, flu dan menjaga stamina. Bijinya bisa untuk mengobati parasit kulit, sebagai obat cacing dan sudah banyak digunakan untuk insektisida.
Kulit batang pohon sirsak antara lain mengandung atherosperimne, murin dan solamine, yang biasa digunakan untuk pengobatan asma, batuk, hipertensi dan obat penenang serta kejang.
Akarnya paling banyak mengandung zat di antaranya annocotacin, annomontacin , muricatin serta reticulatacin. Akar sirsak ini bisa untuk obat penenang dan mengobat kejang-kejang serta diabetis. Khusus diabetes yang digunakan adalah kulit akarnya.
Dalam bukunya yang sudah memasuki cetakan ke enam selama 2011 itu, baik Lina maupun Juwita mengupas secara gamblang tentang manfaat dari tanaman sirsak, hingga cara-cara menanam dan merawat tanaman serta pemaparan sejumlah ramuan herbal, tehnik meramu dan cara penggunaannya. (ea)

Showing 0 - 0 of 0 comments