Bisnis Indonesia - Bisnis.com


NILAI TUKAR: Rupiah melemah 0,3%

Large_dollar__4_

Berita Terkait

JAKARTA: Nilai tukar rupiah terdepresiasi dalam 2 hari ini sejalan penurunan mata uang kawasan Asia dan setelah pemotongan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.

Bank sentral menurunkan tingkat suku acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, sebuah langkah yang hanya diperkirakan oleh 4 dari 15 ekonom yang disurvei Bloomberg, sementara sisanya berharap tidak ada perubahan.

Penurunan juga sejalan langka investor asing menjual saham US$196 juta lebih tinggi dari yang mereka beli minggu ini hingga Kamis, sesuai dengan data Bursa Efek Indonesia.

Sementara itu, data Departemen Keuangan menunjukkan asing meningkatkan kepemilikannya pada surat utang pemerintah sebesar 5,7% menjadi Rp235,54 (US$26 miliar) tahun ini hingga 7 Februari.

"Obligasi bereaksi positif terhadap penurunan suku bunga," kata Wiwig Santoso, Kepala Treasury dan Pasar PT Bank DBS Indonesia di Jakarta hari ini Jumat 10 Februari 2012. Menurutnya, sejalan fundamen ekonomi yang solid, investor akan kembali ke ekuitas.

Data Bloomberg yang dikompilasi dari bank-bank lokal menunjukkan nilai tukar rupiah melemah 0,3% menjadi 8.985 per dolar pukul 15.59 di Jakarta. Rupiah sedikit turun dari penutupan pekan lalu pada 8.983 per dolar. Adapun kurs tengah BI berada pada 8.993 per dolar, melemah 0,9% dari posisi sebelumnya.
 
Pelemahan itu sejalan dengan penurunan mata uang regional yang dipimpin oleh dolar Singapura dan ringgit Malaysia sebesar 0,8% menjadi masing-masing 1,2483 per dolar dan 3,0085 per dolar. Diikuti won Korea Selatan  yang melemah 0,7% ke 1115,73 per dolar.

Depresiasi itu setelah para pemimpin Eropa mengadakan kembali paket bailout untuk Yunani. Perdana Menteri Luksemburg Jean-Claude Juncker mengatakan negara itu harus meluluskan paket penghematan terbaru sebelum para pemimpin Eropa memberikan dukungan pada bantuan 130 miliar euro (US$173 milar).

"Nilai tukar relatif stabil dan tidak akan banyak terpengaruh," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah setelah keluarnya keputusan suku bunga.

Sementara itu, Gubernur BI hari ini mengatakan bank sentral telah mengintervensi pasar valuta asing dan obligasi untuk mencegah volatilitas.

"Sebagai respons kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem makro dan keuangan, bank sentral menerapkan strategi intervensi ganda dalam valuta asing dan pasar obligasi pemerintah secara bersamaan," kata Darmin Nasution, Gubernur BI. Strategi itu menstabilkan baik mata uang dan obligasi.

Di sisi lain, BI hari ini merilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk keseluruhan 2011 yang mengalami surplus US$11,9 miliar. Transaksi berjalan dan transaksi modal dan keuangan masing-masing memberikan kontribusi surplus US$2,1 miliar dan US$14,0 miliar.

Menurut bank sentral, surplus transaksi berjalan ditopang oleh kinerja ekspor yang masih mampu tumbuh cukup tinggi kendati dihadapkan pada permintaan dunia yang melemah.

Surplus transaksi modal dan keuangan didukung oleh arus masuk investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang luar negeri sektor swasta yang meningkat seiring iklim investasi yang kondusif dan kestabilan makroekonomi yang terjaga.

Dengan tambahan itu, cadangan devisa bertambah dari US$96,2 miliar pada akhir 2010 menjadi US$110,1 miliar pada akhir 2011 atau setara dengan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.  Data BI menunjukkan pada akhir Januari 2012 devisa tercatat US$112,0 miliar. (faa)
 

Discuss: NILAI TUKAR: Rupiah melemah 0,3%

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area