Konsep narsisme merupakan konsep dalam ilmu psikologi yang dikenalkan oleh Freud pada 1914. Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang mementingkan citra eksternal sehingga berkeyakinan bahwa orang lain akan mencintainya. Dalam perkembangannya, narsisme menjadi suatu konsep yang dipersepsi memiliki sejumlah muatan negatif.
Menurut Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders, sejumlah muatan negatif tersebut antara lain mencari keuntungan demi ketenaran sendiri, meyakini diri sebagai individu yang spesial dan penting, mengharapkan pujian dari yang lain, membutuhkan banyak perhatian, keinginan menunjukkan prestasi, cenderung menyalahkan lingkungan eksternal atas kegagalan diri serta ambisi untuk mendapatkan reputasi dan pengaruh.
Individu yang terjangkiti narsisme merasa bahwa dirinya tidak merasa bersalah sehingga tidak membutuhkan terapi diri. Produk-produk yang dikonsumsi cenderung tidak memenuhi kebutuhan utama. Seorang narsis tidak mau berdiam diri apabila orang lain berusaha menyaingi kesuksesan dia dalam segala lain. Mereka membutuhkan uang, kepemilikan dan penampilan baik fisik maupun sosial agar bisa menyaingi orang lain. Hal ini menjadikan seseorang memiliki orientasi pada kepemilikan materi secara terus-menerus untuk diusahakan.
Narsisme ini sudah menggejala di seluruh lapisan masyarakat. Kalau meminjam istilah yang dikemukakan oleh Oliver James dalam harian The Guardian (2007), masyarakat sudah terjangkiti oleh affluenza. Konsep ini hampir sama dengan konsep penyakit influenza yang virusnya cepat menular pada kehidupan kita.
Narsis tak selalu negatif
Menurut Geoffrey Miller dalam Spent: Sex, Evolution, and Consumer Behavior (2009), narsisme merupakan suatu bentuk perilaku konsumen yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan. Kesenangan ini bisa diperoleh bila ditunjang oleh sejumlah indikator kesuksesan misalnya kekayaan yang dimiliki, kecantikan yang diupayakan terus-menerus, kepandaian diri atau tingkat intelijensi yang tinggi. Perilaku dengan narsisme merupakan sesuatu yang sah saja, namun semua ada kadar kontrol untuk tidak membiarkan seseorang menjadi mengabaikan orang lain, tidak memiliki empati dan merugikan lingkungan. Narsisme tidak selalu negatif, namun bisa saja dipersepsi positif pada tingkat tertentu.
Pertama, pada dasarnya individu adalah makhluk sosial. Keberadaan kita sebagai individu adalah tergantung pada dukungan lingkungan sosial di sekitar kita. Hal ini telah membentuk cara berpikir bahwa apa yang kita lakukan akan dinilai oleh orang lain. Dengan demikian individu akan berusaha untuk mendapatkan penilaian baik dari orang lain. Individu akan menunjukkan penampilan diri sesuai dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, apabila individu menggunakan atribut diri dalam bentuk pemakaian produk atau merek, akan memperhatikan lingkungan, karena mengharapkan dukungan atau pujian.
Kedua, narsisme merupakan bentuk alami dari dorongan seseorang untuk bisa selalu menunjukkan prestasi. Berdasarkan teori Maslow pada hirarki terakhir yaitu aktualisasi diri, dijelaskan bahwa dalam konsep ini terkandung adanya self-addicted. Artinya, seseorang yang memiliki kemampuan untuk aktualisasi diri akan terus berusaha untuk meningkatkan aktualisasi diri karena individu merasa 'ketagihan' untuk mengulangi di masa yang datang.
Hal ini merupakan sebuah bentuk untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kemampuan diri adalah indikator-indikator fitness bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dengan baik. Aspek 'ketagihan' ini merupakan daya pendorong yang sangat alamiah dalam diri seseorang untuk terus ada sepanjang individu mampu mengupayakannya. Individu menjadi berusaha untuk terus tampil sukses daripada waktu sebelumnya.
Ketiga, setiap individu tidak diciptakan sama. Ada individu yang memiliki tingkat kepribadian tertentu. Ada individu yang memiliki tingkat keterbukaan terhadap pengalaman tinggi dan ada yang rendah. Ada individu dengan tingkat keteraturan dan konsistensi yang tinggi dan ada individu dengan tingkat yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kepribadian tertentu, misalnya tingkat keterbukaan tinggi, akan mudah memiliki aspek narsisme. Individu ini akan mudah menerima hal-hal baru, mencoba produk inovatif, menggunakan keluaran produk pemasaran.
Dengan menjadi orang pertama dalam menggunakan suatu produk baru, bisa menjadi penyemangat diri, kebanggaan diri dan pasti mendapatkan sejumlah pujian dari masyarakat. Karakteristik ini tentu saja ada pada sekelompok individu di dunia.
Keempat, kemampuan individu untuk menampilkan indikator-indikator fitness merupakan suatu bentuk survival diri dalam jangka tertentu. Survival diri di sini untuk individu tertentu bisa berkaitan dengan survival untuk diri sendiri, menjalin hubungan sosial, membina hubungan dengan partner atau pasangan hidup. Indikator-indikator fitness selalu diupayakan oleh diri sendiri agar individu bisa bertahan dalam masyarakat. Individu ini berkeyakinan bahwa masyarakat akan menilai diri individu apabila memiliki indikator-indikator fitness.
Selain itu, individu dengan narsisme tertentu berpikir bahwa masyarakat akan lebih menghargai pada sekelompok orang yang berprestasi karena mereka berusaha untuk bekerja, berjuang keras, dan termotivasi untuk terus hidup maju mengejar sejumlah ketertinggalan hidup. Ada kalanya pada titik tertentu, usaha untuk mengoptimalkan diri melalui perwujudan indikator-indikator fitness merupakan cara untuk memanfaatkan semua talenta yang ada dalam diri individu untuk mencapai prestasi-prestasi yang tentu saja pada akhirnya mampu mengundang pujian dari masyarakat.
Kelima, adanya kebutuhan untuk bahagia. Narsisme dalam bentuk lain tidak hanya berkaitan ingin showing off atau pamer pada masyarakat. Narsisme juga mengandung aspek self-stimulating. Stimulasi diri merupakan suatu usaha untuk mendorong diri sendiri agar maju, bisa lebih berkarya dan menghargai diri sendiri. Perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari bisa didorong karena kebutuhan alamiah yaitu ingin bahagia. Kebahagiaan yang diraih merupakan penghargaan diri sendiri atas segala upaya yang sudah diusahakan. Kebahagiaan menjadikan seseorang merasa menjadi tenang dan terhindar dari konflik batin. Aspek fun-fulfillment merupakan bagian dari titik-titik kehidupan sebagai penyemangat, penghilang rasa kebosanan, menciptakan suasana baru, dan menjadikan seseorang menjadi lebih bergairah dalam menghadapi kehidupan yang sarat persaingan.
Keenam, narsisme menjadi pendorong suksesnya kegiatan pemasaran. Produk-produk yang dikeluarkan oleh pemasar bisa meraih sukses dengan tingkat indikator penjualan atau pangsa pasar yang tinggi dengan didorong oleh salah satunya individu dengan tingkat narsisme moderat ke tinggi. Produk-produk ini dibeli karena ada tujuan tersendiri dari sisi konsumen. Dengan demikian, baik pemasar maupun individu saling diuntungkan. Pada kenyataan lain, pemasar juga menjadi pendorong terbentuknya narsisme melalui strategi mengeluarkan produk yang bervariatif dengan tingkat kecepatan peluncuran dalam hitungan waktu yang pendek.
Namun, tidak berarti kita sebagai individu harus menerapkan narsisme. Narsisme adalah hal ilmiah, namun kita sebagai konsumen yang rasional dan memiliki kapasitas berpikir serta keterbatasan dalam hal-hal tertentu, tidak perlu terjebak dalam narsisme ekstrim. Semua ada kadar kontrolnya.
*) Iin Mayasari adalah Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina, Jakarta (iin.mayasari@paramadina.ac.id).
* Untuk membaca berita-berita harian Bisnis Indonesia, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com. Atau klik epaper Bisnis Indonesia jika Anda ingin berlangganan koran Bisnis Indonesia edisi digital.
Showing 0 - 0 of 0 comments