Rencana pembelian pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV) dari Israel menjadi perdebatan hangat di parlemen.
Sebenarnya rencana pembelian pesawat UAV yang memiliki fungsi inteligence, reconnaissance, dan surveillance (IRS) sempat akan disamarkan dengan membeli dari Filipina, padahal negara tersebut sudah jelas tidak memiliki industri persenjataan yang bagus.
TNI berencana membangun 1 skuadron pesawat UAV yang berpangkalan di Pangkalan Udara, Pontianak.
Perdebatan ini wajar karena Israel tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia dan dinilai oleh masyarakat sering melanggar hak asasi negara Palestina. Namun, Indonesia sebenarnya pernah menjalin hubungan militer dengan Israel.
Pada level paling minimal sejumlah senjata buatan Israel seperti senapan Galil dan Uzi juga digunakan secara sangat terbatas oleh militer ataupun polisi di Indonesia.
Upaya pembelian senapan Galil oleh satuan khusus TNI-AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sempat juga menimbulkan perdebatan di Komisi I DPR.
Indonesia pernah menggelar operasi Alpha membeli 32 pesawat A-4 Skyhawk buatan McDonell Douglas AS pada 1979 yang dimiliki oleh Israel. Pembelian jet tempur ini berikut paket pelatihan di pangkalan udara Eliat, Israel.
Pesawat tersebut menjadi salah satu tulang punggung TNI AU selama 30 tahun. Orang kepercayaan alm Presiden Soeharto yaitu alm Jenderal Leonardus Benny Moerdani (saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen ABRI) yang mengendalikan operasi pembelian pesawat tersebut dari Israel.
Israel memang memiliki kekuatan militer maupun industri persenjataan yang diakui di dunia. Meskipun besarnya dukungan AS yang menjadi faktor utama kuatnya militer Israel.
Pasukan komando Israel juga memiliki reputasi yang bagus setelah menggelar sejumlah operasi militer dengan sukses. Pada saat yang sama Kopassus juga memiliki reputasi yang setara apalagi setelah sukses menggelar operasi pembebasan sandera Woyla dan Mapenduma.
Industri senjata Israel juga menghasil senjata yang diakui kualitasnya seperti Uzi, Galil, Tank Merkava, Jet Tempur Kfir, dan sejumlah peralatan elektronik perang.
Namun, keandalan Tank Merkava sempat dipertanyakan ketika pecah perang dengan Lebanon pada 2006. Tank yang dibanggakan Israel ternyata memiliki kemampuan terbatas dalam menahan gempuran mortir maupun rudal anti tank milik Gerilyawan Hizbullah yang dilakukan secara nekad dalam jarak dekat..
Hubungan militer sejumlah negara tetangga dengan Israel
Israel juga memasok senjata ke sejumlah negara tetangga Indonesia. Thailand yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan baru bulan lalu mengakui negara Palestina menjalin kerja sama dengan negara Zionis tersebut.
Upaya peningkatan kemampuan pesawat F5-E milik Thailand melibatkan Israel sehingga jet tempur tersebut bisa menggendong sistem rudal Rafael Phyton III dan IV serta diintegrasikan dengan helm Dash yang memungkinkan pilot mengunci sasaran tembak dengan menoleh ke arah sasaran.
Hasil peningkatan kemampun tersebut diberi nama F-5T Tigris. Israel juga memperkuat persenjataan Sri Lanka ketika militer negara itu memadamkan pemberontakan bersenjata Macan Tamil. Sri Lanka memperoleh pasokan Jet Tempur Kafir dari Israel.
Selanjutnya, Israel juga menjalin kerja sama militer dengan Singapura dengan memasok instruktur militer, sistem persenjataan anti pesawat Barak-1 maupun pesawat UAV.
Supaya tidak menimbulkan perdebatan politis yang berkepanjangan, TNI bisa mengalihkan pembelian UAV ke negara lain. Atau kalau mau sedikit bersabar menunggu pengembangan pesawat UAV buatan dalam negeri.
PT Dirgantara Indonesia sedang mengembangkan prototipe UAV-530. Selain itu, Kementerian Pertahanan dengan BPPT sedang mengembangkan pesawat udara nir awak (PUNA) T-01 Gagak.
Jangan lupa, pesawat UAV Eitan buatan Israel baru saja jatuh di dekat lokasi yang bernama Moshav Yesodot pada 29 Januari. Pesawat ini merupakan pengembangan pesawat UAV Heron-TP dengan rentang sayap 26 meter, panjang 24 meter, dan dirancang dapat bertahan di udara selama lebih dari 24 jam.
Pesawat buatan Israel Aerospace Industries tersebut dapat terbang dengan ketinggian 13.000 meter dan membawa peralatan seberat 1 ton.
Kalau TNI membeli pesawat UAV tersebut tentunya harus mempertimbangkan faktor dukungan suku cadang yang menandakan berlanjutnya kerja sama militer antara Indonesia dengan Israel.
Ini akan menjadi sebuah isu yang bisa terus menerus dibahas dan merepotkan TNI. Setidaknya, TNI perlu mempertimbangkan sentimen publik dalam membelanjakan anggaran pembelian alat utama sistem persenjataan yang mencapai Rp156 triliun pada periode 2010 hingga 2014.
Senjata canggih memang diperlukan untuk meningkatkan daya gentar TNI. Namun, faktor pasokan suku cadang, kecanggihan, dan kemandirian industri senjata dalam negeri harus menjadi pertimbangan utama dalam belanja alutsista.
Memberikan kesempatan belajar bagi industri senjata dalam negeri harus menjadi prioritas. Iran sudah memberikan contoh yang bagus ketika berhasil membajak pesawat UAV RQ-170 Sentinel milik AS secara elektronik pada Desember tahun lalu.
Padahal, negara tersebut menghadapi embargo senjata, politik, dan ekonomi terutama dari AS dan sejumlah negara di kawasan Eropa. (munir.haikal@bisnis.co.id)(api)

Showing 0 - 0 of 0 comments