WASHINGTON: Gedung Putih pada Senin menyatakan Presiden Barack Obama telah memerintahkan pembekuan aset Iran yang berada di wilayah Amerika Serikat, termasuk Bank Sentral Iran.
Upaya tersebut merupakan langkah lanjutan yang dilakukan AS dan sekutunya untuk menekan Iran terkait program nuklirnya.
Dengan menyebut hal itu sebagai "langkah tambahan" terhadap Iran, Presiden AS itu memerintahkan seluruh aset dan dana yang dimiliki Iran, termasuk institusi keuangan negara Islam itu, untuk diblokir dan tidak boleh dialihkan, dibayarkan, diekspor, ditarik, maupun dicairkan. Aset sejumlah pribadi tertentu yang diduga memiliki keterkaitan dengan pemerintah juga dibekukan.
Dalam keputusan presiden yang ditandatangani Senin, Obama mengatakan langkah tersebut bertujuan untuk menangkal praktik penipuan yang dilakukan oleh Bank Sentral Iran serta sejumlah bank lain guna menyembunyikan transaksi sejumlah pihak.
Hal itu juga bertujuan untuk membuat mengurangi kekuatan rezim anti pencucian uang Iran dan pelemahan terhadap implementasinya, serta untuk mencegah ancaman berkelanjutan yang tidak dapat diterima terhadap sistem keuangan internasional yang disebabkan oleh aktivitas Iran.
Keputusan Obama yang efektif sejak Senin pukul 00.01 waktu setempat (02.00 WIB Selasa) itu, muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara negara Barat dan Iran terkait program nuklir terakhir dan berkembangnya rumor tentang rencana serangan mendadak Israel terhadap instalasi nuklir Iran.
Juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, menyebut langkah tersebut sebagai satu tindakan reflektif yang telah diambil cukup lama oleh pemerintah sebagai reaksi atas tingkah laku Iran, yang pada dasarnya berupa ‘dua jalur’ sanksi maupun diplomasi.
Dengan menuduh Iran terus berupaya mencapai tujuan berbahayanya, dalam jumpa pers Carney mengatakan kepada wartawan "Kami akan terus menambah upaya untuk mengisolasi dan menekan rezim, serta bekerja sama dengan sekutu internasional kami".
Dalam sebuah wawancara di jaringan televisi NBC, Minggu, Obama mengatakan Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Israel dalam rangka mencegah upaya Iran menjadi negara nuklir dan mendesak republik Islam itu untuk ‘menyerah’ dalam sengketa saat ini.
Ketika ditanya apakah Israel akan menyerang Iran, Obama menjawab dia pikir Israel belum membuat keputusan itu. Obama menegaskan tujuannya adalah menyelesaikan sengketa secara diplomatik, sekaligus mengulangi pernyataan bahwa ia belum mengambil pilihan apapun di luar jalur perundingan.
AS dan sejumlah negara Eropa telah memperluas sanksi terhadap Iran guna menargetkan ekspor minyak, yang menjadi kunci perekonomian negara itu, sehingga memaksa Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute minyak paling penting di dunia.
Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, seperti dikutip harian Washington Post mengatakan pada Kamis kemungkinan Israel menyerang Iran pada awal musim semi ini.
Sehari setelah itu, Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei mengingatkan tentang segala ancaman perang terhadap Iran. "Ancaman perang merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan perang itu sendiri sepuluh kali lebih merugikan bagi Amerika Serikat," tegas Khamenei. (Antara/ea)

Showing 0 - 0 of 0 comments