TANGERANG SELATAN: PT Dirgantara Indonesia siap menjual converter kit atau perlengkapan konversi kendaraan dari BBM ke bahan bakar gas sebesar Rp9 juta per unit jika diproduksi secara massal.
Project Manager PT DI Ahmad Saichu mengatakan saat ini converter kit yang diproduksi PT DI termasuk tabung Liquified Gas for Vehicle (LGV) tipe silinder, pemasangan, perawatan, serta garansi 5 tahun adalah sebesar Rp12 juta.
“Saat ini Rp12 juta untuk satu unit. Nanti kalau massal bisa Rp9 juta,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela kunjungan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo di bengkel PT Autogas Indonesia di daerah Serpong, Tangerang Selatan, Kamis 12 Januari.
Ahmad mengatakan PT DI telah memproduksi sebanyak 200 unit converter kit Compressed Natural Gas (CNG/BBG) untuk kendaraan umum di Palembang. PT DI juga telah menyiapkan 300 unit converter kit LGV untuk kendaraan di Jakarta.
Terkait dengan program pembatasan BBM bersubsidi mulai 1 April, PT DI siap memproduksi hingga 68.000 unit converter kit setahun untuk mendukung program ini.
“Target 68.000 unit converter kit kita akan siapkan tahun ini. Bengkelnya sendiri kami kerja sama dengan PT Autogas Indonesia, di Palembang kita akan membuat 4 bengkel dan di Jakarta [selain di Serpong] juga akan ditambah, masih lihat-lihat lokasinya,” jelasnya.
Di sisi lain, Ahmad mengklaim tabung LGV/CNG yang diproduksi PT DI lebih bagus dari yang diproduksi di Thailand. Kelebihannya adalah tabung buatan PT DI jauh lebih ringan. Selain itu, produk converter kit PT DI juga sudah mendapat sertifikasi internasional.
“Kita lebih unggul dari yang Thailand. Kelebihan converter kit kita adalah kita sudah menggunakan pelapis tabung. Selain itu, tabungnya lebih ringan. Tabung CNG kita cuma 15—16 kg, untuk LGV kurang dari itu sekitar 10 kg-an. Kalau tabung produksi Thailand 30 kg-an,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur PT Autogas Indonesia Dipo Tju mengatakan pihaknya siap bekerjasama dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang ada di Indonesia terkait pemasangan converter kit secara massal.
“Memang belum ada pembicaraan resmi antara kita dengan ATPM, karena ini juga masih terlalu awal, terhitung masih baru di Indonesia. Tapi bisa saja ATPM mulai kerja sama dengan kita,” ujarnya.
Dipo Tju mengatakan bisnis converter kit dan bengkel untuk kendaraan berbahan bakar gas sangat bergantung pada permintaan pasar. Ia enggan menyebut target pendapatan maupun laba mengingat program konversi BBM ke gas ini akan digenjot oleh pemerintah.
“Kita ikuti pasar, kita tidak bisa memasang target. Kalau pasar merasa pemilik kendaraan pribadi mau konversi, ya peminatnya akan banyak,” ujarnya. (ea)

Showing 1 - 2 of 2 comments