JAKARTA: PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), BUMN asuransi kredit, mencatatkan perolehan laba bersih setelah pajak Rp131,56 miliar pada 2011, melonjak dari rugi Rp191,21 miliar pada 2010.
Lonjakan laba bersih tersebut dipengaruhi oleh lonjakan hasil pengelolaan premi (underwriting) dan kenaikan hasil investasi.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hari ini, perseroan mencatatkan hasil underwriting Rp159,28 miliar pada 2011, melompat signifikan dari minus Rp114,67 miliar pada 2010.
Hasil tersebut diperoleh dari pendapatan underwriting pada 2011 sebesar Rp447,05 miliar (tumbuh 46,12% dari Rp305,94 miliar pada 2010) dikurangi beban underwriting sebesar Rp287,77 miliar (berkurang 31,57% dari Rp420,61 miliar pada 2010).
Perusahaan yang dipimpin oleh Antonius Chandra SN ini memperoleh total premi bruto sebesar Rp560,33 miliar sepanjang 2011, tumbuh 69,74% dari Rp330,10 miliar pada 2010.
Dari total premi bruto tersebut, perseroan membukukan premi yang menjadi tanggungan sendiri (premi netto) sebesar Rp530,14 miliar, tumbuh 68,56% dari Rp314,51 miliar pada 2010.
Sementara itu, sebanyak Rp30,19 miliar premi dilimpahkan kepada perusahaan reasuransi, tumbuh 93,65% dari Rp15,59 miliar pada 2010.
Adapun hasil investasi bersih mencapai Rp125,57 miliar pada 2011, tumbuh 60,14% dari Rp78,41 miliar pada 2010.
Sepanjang 2011, Askrindo menanamkan dana investasi senilai Rp2,857 triliun, tumbuh 43,35% dari Rp1,993 triliun pada 2010. Sebagian besar dana tersebut diinvestasikan pada instrumen investasi pendapatan tetap (fixed income).
Dana investasi yang ditempatkan pada deposito berjangka dan sertifikat deposito mencapai Rp2,57 triliun; obligasi Rp42,96 miliar; serta surat berharga dijamin pemerintah/BI Rp1,04 miliar.
Sementara itu jumlah dana yang diinvestasikan pada instrumen saham pada 2011 mencapai Rp24,24 miliar; pada reksadana Rp34,35 miliar; dan Rp184,69 miliar pada penyertaan langsung.
Total kekayaan yang dimiliki perseroan sampai dengan akhir Desember 2011 mencapai Rp3,50 triliun, tumbuh 41,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,47 triliun. (ANO/TW)

Showing 1 - 1 of 1 comments