Bisnis Indonesia - Bisnis.com


Kim Weon Dae : Saya jauh dari sempurna

Large_kim-weon-dae

Berita Terkait

Chief Executive Officer PT LG Electronics Indonesia Kim Weon Dae merupakan sosok yang penuh optimisme. Dia merupakan satu di antara pemimpin perusahaan di Indonesia yang percaya ekonomi domestik cukup kuat dan tetap tumbuh di tengah bayang-bayang krisis finansial glo bal.

 

Kepada Bisnis, Kim berbicara lugas mulai soal ekonomi Indonesia, persoalan KKN, ambisi dan obsesinya, rencana aksi korporasi hingga menu masakan dan olahraga favoritnya. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana kondisi pasang surut bisnis LG?

 

Saya bergabung dengan LG Electronics Indonesia [LGEIN] sejak 2010, setelah menghabiskan banyak waktu di LG wilayah Eropa dan Korea Selatan. Pertumbuhan bisnis LG di Indonesia saya lihat semakin baik dari tahun ke tahun.

 

Tahun ini pertumbuhan bisnis memang dibayangi isu krisis finansial di kawasan Eropa, namun saya yakin pasar di Indonesia tetap tumbuh positif, tidak akan terlalu terkena pengaruh. Kondisi iklim bisnis di sini juga semakin membaik. Segala tantangan yang terjadi pasti ada, tetapi saya ingin mentransformasi situasi, mengubah tantangan menjadi peluang.

 

LGEIN menerapkan standar pertumbuhan bisnis yang agresif, sejauh mana optimisme Anda di tengah rencana pembatasan konsumsi BBM bersubsidi?

 

Rencana pembatasan konsumsi BBM bersubsidi maupun opsi kenaikan harga dipastikan akan berdampak pada semua industri, tidak hanya di LG. Paling terasa pada biaya transportasi yang akan mengalami kenaikan langsung. Saya pribadi menghormati segala keputusan pemerintah dan tetap optimistis melihat target yang ditetapkan bisa tercapai. Saya melihat permintaan pasar tahun ini masih bisa meningkat, meskipun nanti terjadi kenaikan harga BBM.

 

Soal harga, produk elektronik memiliki kecenderungan turun karena produsen terus berinovasi sehingga selalu ada produk baru. Apalagi industri elektronik senantiasa diwarnai oleh ketatnya kompetisi antarprodusen yang membuat harga cenderung turun.

 

Isu tarif listrik yang semakin mahal dan terbatas juga berdampak pada pilihan belanja produk elektronik. Masyarakat semakin memperhatikan dan menyukai produk hemat energi, yang diindikasikan dari tingkat konsumsi listrik.

 

Pengaruh terhadap daya beli pasti ada, tetapi kami memiliki produk bagi semua segmen pasar. Ketika penjualan di pasar low end terkena dampaknya, LG masih memiliki potensi menggarap pasar premium.

 

LGEIN membagi segmen pasar menjadi empat, premium yang saat ini menyumbang 13% dari total penjualan, medium 50%, menengah ke bawah 20%, dan sisanya 17% produk low end. Segmen kelas menengah dalam definisi kami adalah orang dengan rata-rata konsumsi US$300--US$400 per bulan.

Optimisme lain hadir dengan menyadari bahwa Indonesia merupakan pasar yang sangat unik. Masyarakat di sini suka SMS-an, berbeda dengan negara lain yang lebih menyukai percakapan suara. Indonesia merupakan negara dengan populasi SMS terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

 

Pernahkah menghadapi situasi bisnis yang bernuansa KKN?

 

KKN memang isu yang sering dibicarakan dan ditemui di Indonesia, namun saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan masa sebelumnya. Hal ini memberikan indikasi positif dan optimistis bagi para investor dan pelaku bisnis.

 

Situasi tersulit apa yang pernah Anda alami?

 

Tidak ada tantangan yang paling sulit. Sebab, setiap saat selalu ada tantangan yang datang, baik dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan. Paling penting adalah mempertahankan kerja sama tim yang solid.

 

Kami di LG memilih untuk lebih banyak memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia lokal. Sebanyak 99% pegawai di LGEIN adalah orang lokal, dan tidak sedikit yang menempati posisi level manajerial ke atas.

 

LG di Indonesia tidak hanya berjualan produk. Kami juga mempersiapkan produk keseluruhan, mulai dari research and development, produksi, hingga sales and marketing. Sekarang kami memiliki dua pabrik, satu di Cibitung yang memproduksi LCD dan LED TV, cinema TV, monitor, audio, serta home theater. Pabrik lainnya ada di Tangerang yang memproduksi lemari pendingin. Produksi alat pendingin ruangan [AC] ada di Thailand, sedangkan untuk ponsel masih diimpor langsung dari Korea Selatan.

 

Pernahkah mengambil keputusan keliru?

 

Sering. Saya masih manusia biasa yang jauh dari sempurna. Pasti ada keputusan yang ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan, atau bahkan gagal. Saya tidak selalu bisa menghasilkan keputusan bagus, namun saya belajar mengurangi jumlah keputusan jelek dari waktu ke waktu.

 

Keputusan yang dibuat juga harus memperhatikan waktu terbaik. Kadang keputusannya bagus, namun waktunya sudah terlewat sehingga hasil yang dicapai tidak lagi maksimal.

 

Pernahkah berada pada situasi dilematis?

 

Ya, hal ini juga pernah saya alami dan ternyata membenani juga. Keputusan yang dilematis bagi diri saya dan perusahaan adalah jika apa yang saya putuskan salah sehingga perusahaan bisa mengalami kerugian finansial.

 

Apa ambisi Anda?

 

Saya ingin LG semakin terasa sebagai nasional brand di Indonesia, dekat di hati masyarakat.
Orang merasa dekat dengan brand ini jika menjadi bagian dari kehidupan keseharian.

 

Caranya, kepercayaan pelanggan menjadi kunci utama agar LG tetap bertahan sebagai peraih market share terbesar di setiap lini produknya. Adanya Korean Wave cukup membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan brand LG, meskipun belum berpengaruh langsung terhadap penjualan.

 

Jika terjadi krisis langkah prioritas apa yang Anda lakukan?

 

Saya tidak melihat Indonesia akan mengalami situasi krisis. Sejauh ini perekonomian masih stabil. Berbicara mengenai situasi krisis, saya rasa LG merupakan perusahaan yang serius berbisnis di Indonesia, termasuk tidak segan berinvestasi di sini.

 

Hal ini terlihat dari kejadian beberapa waktu lalu. Kenapa LG bisa menjadi peraih market share terbesar sekarang, salah satunya karena memanfaatkan momentum krisis di Asia dan Indonesia pada 1997.

 

Saat ini banyak perusahaan asing keluar dari Indonesia, tetapi LG malah menambah investasi dan berjuang bersama masyarakat dan berbagai pihak lainnya untuk membangun kembali pertumbuhan ekonomi.

 

LGEIN meraih market share terbesar di hampir seluruh lini produk, kecuali mobile produk, mengapa?

 

Kami memang terlambat mengembangkan bisnis mobile phone di Indonesia. Namun, sejak akhir tahun lalu divisi ini lebih fokus mengembangkan pasar dengan produk berbasis sistem operasi Android melalui jajaran LG Optimus.

 

Target pasar kami untuk mobile phone juga lebih fokus, membidik segmen middle high dengan produk ponsel pintar [smartphone].

 

Ke depannya, potensi LG untuk berkembang masih sangat besar, apalagi kami menjadi perusahaan yang menguasai 24% paten LTE [long term evolution] global, teknologi masa depan setelah 3G yang akan segera diaplikasikan diberbagai negara, termasuk Indonesia.

 

Kami terus berusaha memperkecil gap dengan pesaing di pasar Indonesia. Di pasar dunia penjualan ponsel LG sudah berada di peringkat keempat sepanjang 2011 berdasarkan data lembaga riset IDC.

 

Apa rencana aksi korporasi berikutnya?

 

Kami ada rencana untuk membangun pabrik baru di Indonesia dan meningkatkan kapasitas pabrik untuk memproduksi televisi guna memenuhi tingginya permintaan pasar domestik dan ekspor, khususnya negara tetangga.

 

Pendirian pabrik baru akan dilakukan dalam 2 tahun ke depan untuk memproduksi barang yang termasuk dalam kategori home appliances.

 

Soal lokasinya, besar investasi, dan produk apa yang diproduksi jujur saja belum bisa saya publikasikan sekarang. Tunggu saja ya...

 

Bagaimana memersepsikan pelanggan maupun pesaing?

 

Bagi saya kompetitor terbesar bukanlah vendor, namun pelanggan. Bagaimana menjaga kepercayaan pelanggan terhadap produk LG dan mengerti apa keinginan mereka merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab. Harus dicatat bahwa pelanggan di setiap negara tidak bisa disamakan.

 

Sudah mempersiapkan untuk menghadapi masa pensiun?

 

Jujur, pensiun sama sekali tidak terpikirkan selama ini. Saya malah berpikir bagaiman bisa bekerja lebih lama, khususnya di LG Electronics Indonesia Saya baru beberapa tahun di sini [Indonesia], masih banyak hal yang bisa dieksplorasi.

 

LG saat ini beroperasi di 120 negara, dengan penyumbang pendapatan terbesar dari Amerika Serikat. Indonesia kontribusinya masih di bawah 2%, namun di Asia posisi Indonesia berada di urutan ketiga setelah China dan India.

 

Bagaimana menyeimbangkan urusan keluarga, pekerjaan dan kesehatan?

 

Sebagian besar waktu saya habis untuk urusan kerja, namun jika ada waktu luang setiap akhir pekan saya pasti olahraga. Jika di Jakarta biasanya saya berenang atau golf. Saya juga suka mendaki gunung atau bersepeda gunung.

 

Indonesia memiliki banyak lokasi menyenangkan untuk dua kegiatan tersebut. Beberapa waktu lalu saya menikmati jungle tracking di Bali dan Kalimantan, serta mountain bike di Bali.

 

Bagi saya dan keluarga, di mana bumi dipijak, di situ langit harus dijunjung. Jakarta kini sudah serasa layaknya rumah kedua bagi saya, apalagi banyak hal dari negeri ini yang bisa dieksplorasi, budayanya, cuacanya, hingga interaksi antarmanusia.

 

Saya rutin mengunjungi seluruh kantor cabang dan service center LG, tiap bulan rata-rata dua hingga tiga kali keluar Jakarta, bergantian mengunjungi mereka, dari tempat terdekat di Bandung hingga ke Kendari.

 

Makanan kesukaan?

 

Saya sangat suka nasi goreng dan mi goreng. Ini menu favorit.

 

Punya tokoh idola?

 

Ada. Dia adalah seorang atasan saya dahulu di LG yang selalu memberikan bimbingan dan tutorial. Saat ini beliau sudah pensiun. Saya juga banyak belajar dari tim LG di manapun, kami tidak segan untuk saling membagi ilmu.

 

Adakah obsesi yang belum tercapai?

 

Keinginan saya simpel yakni sukses menjalankan operasional per usahaan, minimal sesuai dengan target dan memberikan kesejahteraan bagi karyawan. Kesejahteraan tidak hanya diukur dari penghasilan, namun juga kesempatan mereka untuk maju dan mengembangkan karier.

 

*) Tulisan ini diadopsi dari harian Bisnis Indonesia. Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

Discuss: Kim Weon Dae : Saya jauh dari sempurna

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area