Bisnis Indonesia - Bisnis.com


Ketika Slankers jadi TKW: Aku bukan budak

Large_buku_aku_bukan

Berita Terkait

Judul buku: Aku Bukan Budak

Penulis        : Astina Triutami

Penerbit      :Libri PT BPK Gunung Mulia

Jumlah hal. :xiv + 404 halaman

 

Ketika bicara mengenai tenaga kerja Indonesia (TKI) atau tenaga kerja wanita (TKW), pemerintah tak akan pernah lepas menyuguhkan deretan angka. Angka pertama yang disebut biasanya jumlah TKI yang mencapai 6 juta orang.

 

Angka berikutnya, rata-rata TKI tersebut memberi penghidupan pada 5 anggota keluarga di kampung halaman, maka sedikitnya 30 juta orang terbantu kehidupannya dari kegiatan tersebut.

 

Dan, angka terakhir biasanya soal remitansi. Nilai uang yang dikirim para TKI ini sedikitnya mencapai Rp100 triliun per tahun. Jumlah ini bukan angka yang kecil, jika dibandingkan dengan kisah derita maupun perjuangan untuk memperoleh hak hidup yang layak.

 

Menjadi TKI atau TKW merupakan pilihan, di tengah ketidakmampuan negara menyediakan lapangan kerja bagi warganya. Alasan ekonomi untuk mengangkat derajat keluarga menjadi pertimbangan kuat, mengapa bekerja di luar negeri masih menjadi pilihan sebagian perempuan Indonesia dengan tingkat pendidikan yang terbatas.

 

Pilihan itu pulalah yang melatarbelakangi Astina Triutami, perempuan asal Bandung Jawa Barat saat memutuskan bekerja di Hongkong sebagai TKW.

 

Penggemar grup musik Slank dan Rolling Stone ini tak pernah membayangkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang.

 

Berbekal ijasah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Tina begitu nama panggilannya memberanikan diri mendaftar ke sponsor keberangkatan tenaga kerja luar negeri.

 

Tina mengisahkan tak sedikit perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang menerapkan seleksi ketat bagi calon TKW yang akan berangkat ke luar negeri.

 

Namun, tak jarang pula terdapat PJTKI yang tak mengindahkan kualifikasi apapun. Praktek pencurian usia menjadi hal biasa, yang muda di tuakan agar memenuhi syarat tenaga kerja demikian sebaliknya.

 

Cerita Tina kala berada di salah satu PJTKI mengawali kisah perjalanannya sebagai buruh migran. Hidup satu atap bersama sesama calon TKW, tidur beralas ala kadarnya, hingga waktu keberangkatan yang tak jelas.

 

Kerap kali, awal penderitaan menjadi calon TKW justru dimulai dari negaranya sendiri. Pembekalan yang dilakukan PJTKI lebih kerap berjalan apa adanya dan sekedar formalitas belaka. Beruntung sosok seperti Tina mampu menguasai Bahasa Inggris, sehingga sejumlah tes bahasa mudah dilalui dibandingkan dengan rekan sesama calon TKW lainnya.

 

Penuturan Tina ini berangkat dari kisah nyata dari pengalamannya bekerja selama 2 tahun sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong.

 

Dari pengalaman tersebut, Tina menuliskannya dalam bentuk novel berjudul Aku Bukan Budak. Seluruh kisah hidupnya selama menjadi TKW terangkum dalam buku setebal 404 halaman.

 

Berangkat dari pengalaman ini, Tina seakan ingin memberi penekanan banyak kisah manis tentang nasib pahlawan devisa yang kerap digembar-gemborkan, namun tak sedikit pula yang hidup berkalung penderitaan di negeri seberang.

Discuss: Ketika Slankers jadi TKW: Aku bukan budak

Showing 1 - 5 of 6 comments

  • E54860ded23435726de586853c174fd3.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Remmy Novaris DM

    Rabu, 18 Januari 2012 | 23:24 WIB

    Kepada media Bisnis Indonesia on-line Melalui surat ini, saya ingin sampaikan permohonan untuk menghapus semua komentar pribadi saya, mengenai masalah buku tersebut. Saya tidak ingin terlibat perdebatan yang tidak jelas. Atas perhatian redaksi, saya ucapkan terimakasih Salam.

  • E54860ded23435726de586853c174fd3.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Remmy Novaris DM

    Rabu, 18 Januari 2012 | 23:18 WIB

    Kepada Yth Redaksi Bisnis Indonesia on-line Melalui surat ini, saya ingin mengakhiri masalah pembicaraan novel tersebut di atas. Untuk itu, saya harapkan redaksi Binsis Indonesia menghapusnya. Atas perhatian redaksi saya ucapkan terimakasih salam.

  • 4682370263e4cac198ea4a5de92315e5.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Remmy Novaris DM

    Rabu, 18 Januari 2012 | 23:10 WIB

    Saudara Ramadhani, maaf, saya tidak mengenal Anda. Terimakasih, karena Anda tidak berada pada posisi saya. Saya tidak tahu, apakah anda mengenal Asti atau tidak. Yang saya heran dari Anda, saya memutar balikan fakta yang mana? Tolong dijelaskan. Dan saya tidak bermaksud bersikap sombong, tapi orang harus taku etika dan aturan pergaulan. Asti jelas tidak meminta ijin pada saya dan juga Fanny J Poyk, soal pemutan nama kami di kata pengantar. Jelas? Dia juga tidak mengundang pada acara peluncuran. Jelas? Dia menolak ketika saya mengedit karyanya yang hancur lebur tapi kemudian diberikan pada orang lain. Jelas? Semua data awal pribadinya sesuai yang saya katakan di atas ada pada saya, Jelas? Saya akan mengirimkan pada anda jika memang anda membutuhkan sebagai fakta. Ketika dia pulang dari Hongkong dan tidak tahu mau ke mana, dia menginap langsung di rumah saya selama tiga hari, baru kemudian saya carikan tempat kos untuknya. Sekarang dia masih di tempat kos itu, tapi tidak berani menemui saya karena merasa bersalah. Saya juga merasa bersalah karena menyuruhnya pulang dan membuatnya terlantar. Apakah anda tahu kalau dia sekarang terlantar, tidak bisa membayar kos? Dia numpang kos dengan teman-temannya? Itu informasi terakhir yang saya dapat. Dan dia bukan kecewakan saya saja tapi juga Gerson Poyk dan keluarganya yang juga telah banyak membantunya. Dia menumpang kos di teman-temannya karena tidak mampu membayar kos. Itu semua karena kesombongannya, karena merasa sudah menjadi penulis besar dan tidak mau mendengar senior-seniornya. Sekarang, tolong jelaskan di mana saya membalikan fakta. Kalau tidak mejelaskan faktanya, anda berarti hanya sekedar memfitnah. Terimakasih

  • 23542e8d4a68aabbbb99871abbadaf87.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Ramadhani

    Rabu, 28 Desember 2011 | 00:16 WIB

    Waah, bung Remmy... Anda ternyata pendendam dan sombong... Seorang Remmy yg sudah cukup makan asam garam di dunia sastra sangat tidak pantas memutar balik fakta... Saya sangat tahu siapa anda....

  • 3d351d77ee59345c3322030eead91e93.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Remmy Novaris DM

    Jum'at, 11 November 2011 | 06:23 WIB

    Ketika saya menyuruhnya pulang dari hongkong tujuannya adalah menjadi penulis, bukan pembohong. Catatan buat Astina, 1. Kamu tidak minta ijin pada saya dan juga keluarga Gerson Poyik, khusunya Mbak Fanny, memasukan nama kami di dalam pengantar buku itu. 2. Juga, kamu tidak mengundang keluarga Gerson Poyik yang sudah banyak membantu kamu yang mengenalkan kamu ke penerbit, pada saat peluncuran buku di Bentara Budaya. 3. Data penulisan awal kamu yang amburadul itu, yang sebagian sudah saya edit, masih saya simpan sebagai bukti konkrit. 4. Dvd yang bersisi pergaulan kamu di Hongkong, juga masih saya simpan.

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area