Bisnis Indonesia - Bisnis.com


KASUS WISMA ATLET: Ini jawaban Nazaruddin soal saham Garuda

Berita Terkait

JAKARTA: Tersangka kasus Tindak Pidana Pencucian Uang Muhammad Nazaruddin mengaku uang berupa pinjaman yang digelontorkan untuk membeli saham penawaran perdana PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk turun pada 8 Februari 2011 sehingga tidak terkait dengan uang wisma atlet.

“Di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Uangnya kan turun tanggal  8 Februari,” ujarnya kepada wartawan hari ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor).

Dia mempertanyakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menudingnya telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Peminjaman uang yang belakangan digunakan untuk membeli saham perusahaan aviasi tersebut berlangsung sebelum dirinya dituding menerima uang aliran dana wisma atlet sebesar Rp4,6 miliar.

Sebagai informasi turunnya uang untuk pembelian saham Garuda pada 8 Februari bertepatan pada saat Garuda berada di masa akhir penawaran sahamnya. Uang tersebut turun hanya sehari sebelum masa penjatahan saham dimulai.

Adapun terkait dengan pinjaman tersebut, Nazaruddin bersikukuh dia memberikan pinjaman atas perintah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.  Awalnya dia diperkenalkan dengan Direktur Utama Mandiri Sekuritas Hary M. Supoyo lewat salah satu politisi Demokrat lainnya Munadi Herlambang.

“Setelah saya  ketemu Munadi dia bilang soal mau beli IPO (Initial Public Offering) saham Garuda. Dalam 2 minggu akan dikasih keuntungan 29%. Setelah itu terjadilah pertemuan antara saya, Munadi sama Hery,” ujarnya.

Nazaruddin menjelaskan pada saat itu pembelian saham Garuda merugi sehingga dirinya atas perintah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta pertanggungjawaban dari Hary. Namun begitu Nazar tidak dapat menjelaskan apakah uang yang dipinjam Hary untuk membeli saham perusahaan aviasi tersebut akhirnya dikembalikan atau tidak. “Selanjutnya kan Yulianis yang tahu saya tidak tahu,” tegasnya. (faa)

Discuss: KASUS WISMA ATLET: Ini jawaban Nazaruddin soal saham Garuda

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area