JAKARTA: PT Bayan Resources Tbk, emiten batu bara milik taipan Singapura bernama Low Tuck Kwong, menggugat balik dua mantan kliennya dalam kasus proyek bersama PT Kaltim Supacoal.
Direktur Bayan Resources Jenny Quantero mengatakan kedua mantan klien itu adalah BCBC Singapore Pte Ltd (BCBCS) dan White Energy Company Ltd.
Sebelumnya Bayan Resources, BCBCS, White Energy, dan Binderless Coal Briquetting Company Pty Ltd (BCBC) memiliki hubungan proyek bersama (joint venture) di Kaltim Supacoal.
"Kuasa hukum [Bayan Resources] di Singapura telah mengajukan bantahan hukum atas tuntutan yang diajukan oleh BCBC dan BCBCS sebelumnya, dan telah mengajukan gugatan balasan (counterclaim) terhadap BCBCS dan White Energy," ujarnya.
Gugatan balik itu disampaikan perusahaan yang berkode saham BYAN itu ke pengadilan di Singapura sejak 21 Februari 2012.
Hal itu disampaikan Jenny dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia sore ini, 23 Februari 2012.
Dia mengatakan perusahaan juga mengakhiri kerja sama dengan ketiga kliennya tersebut melalui surat pengakhiran perjanjian patungan (join venture) dan nota kesepahaman pembiayaannya (memorandum of understanding, funding agreements).
"Perusahaan sedang dalam proses mendiskusikan masalah tersebut dengan BCBC Singapore namun berpendapat hal tersebut tidak akan mempunyai dampak finansial terhadap laporan keuangan interim konsolidasi pada 30 September 2011," ujar manajemen perusahaan dalam laporan keuangan itu yang dirilis pada 25 November 2011.
Bayan merupakan pemegang 49% saham Kaltim Supacoal, perusahaan yang bergerak dalam pengoperasian fasilitas coal upgrading. Persentase sisa saham Kaltim Supacoal dimiliki BCBC Singapore.
Kepemilikan aset Bayan dalam Kaltim Supacoal terakhir tercatat masih defisit Rp261,2 miliar per akhir September. Defisit itu meningkat dari posisi akhir 2010 sebesar Rp118,72 miliar.
"Grup mengakui bagian rugi bersih KSC karena Grup telah mengkonfirmasi pemberian dukungan operasional kepada KSC."
BCBC Singapore merupakan anak usaha dari White Energy Company Ltd, emiten publik yang mencatatkan sahamnya di Bursa Australia.
Dalam laporan keuangan tersebut, Bayan menyatakan masih meminjamkan dana sebesar Rp369,76 miliar kepada Kaltim Supacoal yang masih belum dilunasi sejak 2008. Pada akhir 2010, pinjaman itu masih tercatat Rp367,43 miliar.
Namun, manajemen Bayan mengatakan perusahaan bersama dengan Kaltim Supacoal dan BCBC Singapore selaku pemegang saham masih melakukan diskusi mengenai ventura bersama tersebut.
Saham Bayan Resources ditutup stagnan di Rp18.050 sore ini dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp60,17 triliun dan rasio harga saham terhadap laba bersihnya 37,94 kali. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments