Seperti apakah karakter manusia unggul? Inilah barangkali jawabannya: manusia yang bermental rosh gadol atau big head. Istilah ini dipakai luas sebagai bahasa slank di kalangan militer Israel, untuk melukiskan karakter gigih, ulet, pantang menyerah, kreatif, inovatif, inisiatif dan berani ambil risiko. Pokoknya lengkap sebagai atribut sumberdaya manusia unggul yang Anda cari, ketika mencantumkan persyaratan dalam iklan lowongan pekerjaan.
Lawan kata rosh gadol adalah rosh kattan atau small head. Istilah yang terakhir ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter seperti jasa taksi. Mohon maaf kalau Anda berprofesi sebagai sopir taksi, karena bukan bermaksud mengerdilkan profesionalisme Anda. Istilah ini hanya untuk menggambarkan, karakter rosh kattan bekerja berdasarkan argo meter saja. Bekerja sesuai argo. Tidak lebih. Malah kadang kadang pakai argo kuda, boros, atau korupsi waktu kerja.
Maka, jika karyawan Anda bermental rosh kattan, jangan berharap organisasi atau perusahaan Anda akan maju. Banyak mengeluh, atau hanya mau bekerja kalau disuruh. Kalau melihat masalah, enggan mencari solusinya. Kalau menghadapi halangan atau hambatan, mudah menyerah.
Kalau mengerjakan tugas, paling banter sesuai instruksi saja, tidak lebih. Jadi, jangan berharap Anda memperoleh hasil di atas ekspektasi. Paling mentok hasil rata-rata. Ini beda dengan manusia bermental rosh gadol seperti di pembuka tulisan ini. Kalau mendapatkan perintah, dikerjakan melebihi ekspektasi. Kalau terhalang tembok, tidak menyerah melainkan mencari cara mendobrak tembok, atau melompatinya, tidak berhenti atau balik badan.
Kaum rosh gadol memiliki inisiatif tinggi untuk babat alas alias membuka jalan untuk sesuatu yang baru dan beda, tanpa perlu takut dengan risiko yang muncul. Tidak takut salah, karena salah adalah bagian dari pembelajaran. Karena itu, improvisasi atau bahkan inovasi adalah menu sehari-hari.
Maka, mental rosh gadol mengantarkan orang-orang Yahudi di Israel menjadi bangsa yang unggul. Kegigihan dan keuletan orang-orang Yahudi menjadikan Israel negara yang sangat dikenal inovasinya di berbagai bidang, dan kini menjadi salah satu eksportir produk hi-tech terbesar di dunia.
Negara yang tidak memiliki sumber daya alam dan tak banyak sumberdaya manusia, dan selalu hidup dalam ancaman perang, itu justru menjadi penghuni daftar keajaiban ekonomi dunia. Sektor pertanian maju pesat berkat instalasi pengolahan yang mengonversi air laut menjadi air yang bisa dikonsumsi dan menjadi pemasok irigasi pertanian.
Kisah itu bukan sekadar mengutip buku bacaan, melainkan saya lihat sendiri dan berinteraksi langsung ketika tahun lalu berkesempatan keliling ke sejumlah tempat di negeri Yahudi tersebut. Bahkan risiko perang yang terus-menerus berkecamuk di Israel tidak membuat mereka tenggelam, justru mampu menciptakan teknologi maju, yang diekspor ke berbagai negara di dunia.
Maka, kalau Anda sering membaca label Intel inside di komputer meja, saya ingin menggantinya dengan Israel inside. Bahkan tidak hanya di komputer Anda, tapi nyaris di semua peralatan teknologi yang melibatkan hidup manusia.
***
Apabila saya mengusung mental rosh gadol bangsa Yahudi, ini bukan tanpa sebab, tetapi memang ada semacam rasa iri dengan mereka. Kok mereka bisa ya?
Apalagi, belakangan ini, di Indonesia tengah demam apa yang disebut mobil Esemka. Anak-anak sekolah menengah kejuruan yang dulu disebut STM, yang mungkin bagi sebagian Anda menganggap sebagai sekolahan kelas dua, memang tengah naik daun, ketika dilaporkan mampu merakit mobil yang dinamai Kiat Esemka itu.
Namun, semangat anak-anak itu mendapatkan ‘perlawanan solid' dari kaum mapan yang berpikir dan berperilaku serba instan.
Bahkan, seorang diplomat dari negeri sebelah beberapa hari lalu bilang kepada saya kurang lebih begini: “Adalah salah jika Indonesia ingin mengembangkan mobil nasional sendiri”. “You harus berpikir resources allocation,“ begitu katanya. Kalau you punya uang, dia menjelaskan, lebih baik dipakai untuk mengembangkan yang lain. Lebih efisien dan efektif mana membangun industri sendiri atau membeli yang sudah jadi, begitu penjelasannya.
Meski sebenarnya saya tak begitu paham karena terlalu teoretis, saya nyahut saja: “Ya, saya sepakat soal alokasi sumber daya ekonomi. Tapi ini soal kebangsaan, kebanggaan sebagai bangsa.“ “Saya senang dengan kreativitas anak-anak SMK itu. Daripada dibiarkan tawuran di jalanan, lebih baik diasah kemampuannya untuk menghasilkan karya, yang tentu tidak komparabel jika dibandingkan dengan industri yang sudah mapan dan sudah dibangun puluhan tahun lalu di Eropa, Amerika maupun di Jepang,“ begitu saya mencoba menjelaskan.
“But, kapan?“ begitu komentarnya lebih lanjut, dengan bahasa gado-gado, antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Saya menjawab: Ya, semua perlu proses. Kalau usaha ini konsisten dan di-support oleh pelaku industri, tentu hasilnya pun makan waktu, bukan langsung dinikmati sekarang. Barangkali baru akan dicapai 30 tahun lagi, kata saya. Akan tetapi kalau tidak dimulai dari sekarang, ya Indonesia tidak akan pernah bisa, dan terus akan menjadi bangsa konsumen saja, saya melanjutkan.
Singkat cerita, kami seperti berdebat soal kepentingan Indonesia dalam kacamata saya, dan cara pandang diplomat itu yang membuat saya curiga: Jangan-jangan ia tidak senang Indonesia maju.
***
Saya jadi ingat sekitar 15 tahun lalu, saat Indonesia sedang terseret tsunami krisis ekonomi 1997/1998.
Saat itu, media, elite politik dan elite bisnis dunia ramai-ramai menghujat Indonesia sebagai bangsa yang tidak efisien dan bergelimang KKN alias korupsi, kolusi dan nepotisme. Praktik busuk itu merajalela di mana-mana.
Dalih itulah yang kemudian dipakai untuk memberangus industri pesawat terbang nusantara.
Industri pesawat yang dulu dikenal dengan nama Nurtanio, lalu IPTN, itu dianggap menghambur-hamburkan uang negara. Ia dianggap sebagai penyumbang defisit anggaran yang besar, tidak efisien, dan sejumlah tudingan lainnya. Maka, demi mengencangkan ikat pinggang alias berhemat, melalui tangan IMF atau Dana Moneter Internasional, industri itu diberangus. Padahal, waktu itu IPTN tengah mengembangkan produk pesawat CN 235 dan N 2130, yang diyakini bakal menjadi produk andalan meskipun baru dijual ke Thailand dengan barter beras ketan dan menjadi bahan ledekan.
Karena diberangus atas nama program IMF, industri strategis Indonesia kehilangan masa depan. Saya dengar, Pak Habibie selaku ahli pesawat terbang yang membesarkan IPTN, belakangan menolak ketika diminta mengembangkan lagi industri itu karena telah kehilangan momentum. Pasalnya, sumber daya manusia unggul IPTN telah lari ke berbagai industri pesawat di luar negeri, termasuk Airbus dan Boeing.
Ringkas kata, Indonesia mengalami apa yang disebut brain drain. Banyak sumberdaya unggul dan berpendidikan tinggi, termasuk sejumlah kenalan saya, lebih memilih bekerja di Singapura, atau di Petronas, Malaysia. Dan setelah itu China menjadi pemain industri pesawat terbang, yang ironisnya, salah satu produknya dibeli maskapai Merpati Nusantara beberapa tahun lalu. “Andai saja IPTN tidak diberangus,“ begitu kira-kira.
Maka, merujuk cerita itu, demam mobil Esemka bagi saya adalah momentum lainnya, untuk membina mental rosh gadol orang-orang Indonesia agar pantang menyerah, tidak goyah oleh berbagai ledekan, cemoohan apalagi hujatan.
Kata Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, jangan takut pada kritikus, tapi takutlah pada sejarawan. Saya sependapat dengan kata-kata Anis, yang saya kira juga punya mental rosh gadol itu. Kalau mau membuat sejarah, tak perlu surut oleh kritik. Itulah yang seharusnya tertanam dalam jiwa kita; jiwa pendobrak, pencetus, pencipta.
Jiwa itu hanya bisa tertanam oleh semangat dan keyakinan akan masa depan. Bukan perilaku instan atau menganggap kehidupan hanya terjadi hari ini, apalagi selalu menoleh kaca spion atau terus-menerus melihat masa lalu.
Buat saya, kemampuan anak-anak SMK merakit mobil, dan bisa jalan, adalah bukan sekadar prakarya, melainkan buah keuletan, kegigihan, dan mimpi besar. Saya percaya, telah tumbuh mental rosh gadol dari anak-anak SMK.
Saya juga percaya, di sekitar kita ini banyak mental rosh gadol dari bidang-bidang lainnya, yang berpotensi mewujudkan mimpi “Indonesia pasti bisa!“. Yang penting, bagaimana bisa menyatukan potensi mereka melalui sinergi dan kerjasama, tak perlulah saling curiga karena latar belakang politik yang berbeda. Bagaimana menurut Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)
*) Artikel ini diadopsi dari kolom POJOK KAFE koran Bisnis Indonesia edisi 21 Januari 2012. Untuk membaca berita dan artikel lainnya, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com atau klik epaper Bisnis Indonesia jika Anda ingin berlangganan koran Bisnis Indonesia edisi digital.

Showing 0 - 0 of 0 comments