Selepas menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Jambi, Kamis sore, saya langsung pulang ke Jakarta bersama sejumlah wartawan serta beberapa eksekutif perusahaan swasta dan BUMN yang menghadiri perhelatan tahunan kalangan wartawan tersebut.
Seperti pemeo P4, pergi pagi pulang petang, begitulah adanya. Berangkat dari Cengkareng dengan flight pagi, dan pulang petang karena hanya satu-satunya penerbangan Garuda dari Jambi ke Jakarta di sore hari.
Maka, dari gedung DPRD Jambi tempat acara berlangsung, saya bergegas untuk dapat segera menuju bandara Jambi karena jadwal penerbangan dengan pesawat Garuda sangat mepet, sekitar pukul 16.55 waktu setempat. Padahal, acara baru selesai sekitar pukul 16.15, dan itu pun harus menunggu rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono keluar dari kompleks gedung DPRD.
Rupanya beruntung, lantaran kehadiran Presiden Yudhoyono di acara itu, kami serasa kecipratan 'nikmat' tanpa harus merasakan kemacetan. Di sepanjang perjalanan, di kiri kanan jalan, terutama di perempatan-perempatan jalan, dijaga oleh aparat keamanan sehingga perjalanan ke bandara begitu lancar.
Jadwal penerbangan Garuda relatif tepat waktu dan hanya sedikit tertunda, karena ternyata sebagian besar penumpang yang ikut penerbangan tersebut adalah peserta Hari Pers Nasional. Jika terbang on time, bisa dipastikan pesawat itu hampir kosong.
Ringkas cerita, penerbangan selama sekitar 2 jam dari Jambi ke Jakarta terasa menyenangkan, karena saya mendapatkan teman ngobrol seorang direktur perusahaan perkebunan, yang juga hadir di acara Hari Pers tersebut. Ia memberikan banyak perspektif tentang rantai bisnis ban di Tanah Air, yang tak banyak saya pahami sebelumnya.
Sayangnya, tatkala hampir mendarat di bandar udara Soekarno Hatta, Cengkareng, pesawat Garuda yang saya tumpangi terpaksa harus berputar-putar terlebih dahulu sebelum mendapatkan slot untuk landing. Pengumuman yang dikemukakan oleh awak kabin menyebutkan lalulintas penerbangan di bandara terbesar di Indonesia itu padat, sehingga pesawat harus berputar dulu untuk mendapatkan giliran mendarat.
Maka, eksekutif teman ngobrol saya tersebut komentar, "Sayang ya pak, selain bahan bakar yang terbuang, catatan jam terbang pesawat jadi bertambah hanya karena infrastruktur bandara yang tidak berkembang."
Tentu saja, saya mengiyakan komentar tersebut. Kondisi bandara Soekarno Hatta memang sudah lampu kuning sekarang ini. Tidak hanya lalulintas penerbangan yang padat, namun buntut ikutannya begitu panjang.
Pesawat sering tidak kebagian 'tempat parkir', dan akhirnya penumpang harus terlebih dahulu diangkut oleh bus bandara untuk keluar dari pesawat menuju tempat kedatangan begitu pula sebaliknya. Areal parkir mobil pun juga semakin terbatas karena penumpang semakin membeludag.
Bukan itu saja, kondisi terminal bandara juga semakin semrawut, apalagi jika Anda terbang dengan pesawat low cost carrier, yang umumnya berada di terminal I. Banyak penumpang duduk-duduk lesehan di koridor ruang tunggu, mirip terminal bus antarkota, apalagi sejumlah airline sering terlambat. Alasan airline, mereka terlambat lagi-lagi karena sulit mengatur kecocokan penerbangan dan slot untuk parkir pesawat di bandara.
Keterlambatan penerbangan satu jam sudah menjadi cerita biasa untuk airline tertentu. Coba deh hitung, berapa biaya yang terbuang percuma, karena hilang waktu dan kesempatan?
***
Cerita yang kontras itu sengaja saya sampaikan di sini, untuk menggambarkan betapa infrastruktur menjadi begitu penting dan bukan omong kosong belaka.
Ketika menikmati lancarnya perjalanan dari lokasi Hari Pers Nasional di gedung DPRD ke bandara Sultan Thaha Jambi, saya merasakan betapa efisien perjalanan jika infrastruktur jalan tersedia dan tidak macet.
Anda mungkin akan nyeletuk, ya terang saja, kelancaran tersebut terjadi karena adanya intervensi otoritas yang mengalahkan pengguna jalan yang lain. Namun, intinya kelancaran arus lalulintas akan membuat waktu tempuh menjadi singkat, efisien, dan tidak ada bahan bakar yang terbakar percuma karena macet di jalanan.
Itulah gambaran sebaliknya dengan kondisi normal di banyak kota besar, terutama Jakarta, yang saban hari selalu macet, yang tentu saja membakar percuma bahan bakar yang masih sebagian besar disubsidi pemerintah.
Maka, kondisi seperti itulah yang kurang lebih bernada sama, agak minor, ketika membicarakan keterbatasan infrastruktur bandara kita, termasuk bandara Soekarno-Hatta. Bandara yang sudah over dosis lebih dari dua kali lipat itu semakin kelebihan beban, karena keterlambatan antisipasi dan 'pembiaran' yang telah terjadi sekian lama. Padahal, pemerintah seharusnya concern terhadap peningkatan kapasitas infrastruktur secara terus menerus, sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi.
Ibarat telur dan ayam, laju pertumbuhan ekonomi membutuhkan peningkatan kapasitas infrastruktur, begitu pula sebaliknya. Kondisi infrastruktur yang memadai akan mendorong percepatan laju pertumbuhan dengan lebih efisien, dan tidak kepanasan, tidak seperti mesin mobil Anda yang kepanasan karena kekurangan oli.
Sayangnya, kondisi itu tidak (atau belum) terjadi. Bayangkan saja, setiap tahun terjadi penambahan mobil baru hampir 1 juta unit, tetapi tambahan jalan tidak seberapa.
Jika Anda mengamati Puncak, yang tadi malam terjadi kecelakaan maut menewaskan sedikitnya 13 orang, nyaris tidak ada penambahan infrastruktur sejak dua dekade terakhir. Jalan alternatif dari dan ke Puncak masih itu-itu saja, sehingga kalau terjadi perjalanan orang sangat penting atau VVIP ke kawasan tersebut, kemacetan panjang hingga belasan jam pun kerap terjadi.
Saya merasakan kondisi tersebut kok kontras dengan seruan yang baru saja disampaikan oleh Presiden SBY saat memberikan sambutan kunci pada peringatan Hari Pers Nasional di Jambi itu.
Presiden menyerukan agar jajaran birokrasi, aparat keamanan dan pejabat daerah tidak melakukan pembiaran-pembiaran dan menyelesaikan secara tuntas persoalan yang muncul ke permukaan.
Memang seruan itu secara spesifik ditujukan terhadap penanganan berbagai masalah konflik sosial, konflik perburuhan, perselisihan antarumat bergama dan beberapa isu sosial politik lainnya.
Namun, Anda tentu paham, pembiaran juga banyak terjadi atas proyek pemerintah yang tidak jalan, utamanya berkaitan dengan agenda peningkatan kapasitas infrastruktur.
Kebetulan pula, agenda Hari Pers Nasional yang diisi dengan konvensi media itu buntut-buntutnya juga membicarakan perlunya percepatan pembangunan infrastruktur. Bahkan, konvensi itu menghadirkan pembicara utama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Dahlan Iskan, yang dari sono-nya adalah orang pers tulen, menantang Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, apakah memilih pembangunan jalan atau mengeruk sungai?
Tetapi, rupanya, Gubernur lebih memilih membuat jalan baru. Namun, merujuk celotehan Ketua Umum PWI Pusat Margiono, yang mengaku pusing dan tidak nyambung dengan diskusi tersebut, masih ada yang kurang, yakni perlunya Jambi membangun pabrik dan industri pengolahan hasil perkebunan.
Mengapa? "Buat apa bangun jalan kalau tidak ada yang diangkut, percuma saja," kata Margiono. Nah, lho!
Saya tentu sependapat. Membangun negeri tidak bisa sepotong-sepotong. Infrastruktur harus jalan, industri juga mesti dibangun, lalu sumberdaya manusia perlu disiapkan. Elemen lainnya, jika didaftar, rasanya akan sangat panjang.
Namun, lebih dari itu, ada pesan Presiden yang patut dicamkan oleh awak media. "Pers jangan cuma melihat sisi buruknya saja. Berikan solusi untuk menyelesaikan masalah," kata Kepala Negara.
Anda perlu tahu, pesan Presiden ini bukan soal pemberitaan mengenai infrastruktur, karena lebih banyak bicara soal konflik sosial-politik. Pers memang gaduh sekali soal isu sosial politik, termasuk kasus yang melibatkan partai politik bentukan Presiden Yudhoyono, Partai Demokrat.
Entah nyambung atau tidak, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, saat menutup pidato sebelum sambutan Presiden, sempat berpantun ria: "Peter Sondakh sedang bersedih. Sekian dan terimakasih."
Bagaimana menurut Anda?(arief.budisusilo@bisnis.co.id)
*) Tulisan ini diadopsi dari kolom POJOK KAFE harian Bisnis Indonesia.Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya lainnya dari harian Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.
>> BACA JUGA:

Showing 0 - 0 of 0 comments