Bisnis Indonesia - Bisnis.com


Ironi 100 tahun revolusi China

Large_foto-tentarachina

Berita Terkait

Hari ini, 10 Oktober 2011 adalah 100 tahun revolusi daratan China. Dinasti kekaisaran China, Qing, tumbang oleh Revolusi Xinhai, sebuah gerakan nasionalis, sosialis dan komunis yang mendirikan Republik China.
 
Bagi pecinta karya layar lebar, bisa mengingat revolusi Xinhai pada sosok Puyi dalam film pemenang penghargaan Academy Award, The Last Emperor yang naskahnya ditulis Mark People dan disutradarai Bernardo Bertolucci.
 
10 Oscar berbagai kategori di tahun 1987 disabet film yang dibintangi John Lone, Joan Chen, Peter O'Toole, Ruocheng Ying, Victor Wong, Dennis Dun, Ryuichi Sakamoto, Maggie Han, Ric Young, Vivian Wu, hingga Chen Kaige tersebut.
 
Satu film yang pantas ditonton adalah The Beginning of the Great Revival yang menceritakan kisah para pendiri Partai Komunis di China sejak runtuhnya Dinasti Qing di tangan tokoh nasional Sun Yat-Sen.
 
Untuk menceritakan kisah Mao Zedong, sutradara Sanping Han dan Jianxin Huang menghadirkan lebih dari 100 para sineas asal Mandarin yang ngetop baik berkarir di Hongkong maupun China seperti John Woo, Andy Lau, Chow Yun-Fat, hingga Donnie Yen.
 
Dari kedua film ini akan mudah tergambar, sikap China (Republik Rakyat China) dan Taiwan (Republik China) dalam memaknai 100 tahu revolusi yang digelar Sun Yat-sen tersebut.
 
China daratan akan menandai peringatan dengan sebagian besar kegiatan resmi yang fokus pada revolusi dan Sun Yat-sen, bukan berdirinya republik atau prinsip Sun akan demokrasi.
 
Hal itu karena Partai Komunis, yang tidak ada hubungannya dengan revolusi, tidak mau memberikan kredit banyak kepada ROC dan pendirinya, Nasionalis atau Kuomintang, yang kemudian pada 1912 mendirikan Republik China yang beribukota di Nanjing.
 
Maklum, jika Anda tonton The Beginning of the Great Revival, komunis dan nasionalis saling libas yang berakhir dengan Kuomintang melarikan diri ke Taiwan pada akhir 1940-an dan mendirikan republik di sana pada 1949.
 
Selepas kekalahan yang dialami Jepang pada Perang Dunia II, Taiwan telah diberikan kepada tentara Sekutu dan diduduki oleh Republik Cina.
 
Sayang, republik itu diperintah oleh pemerintahan militer yang korup, lantas terjerumus ke dalam keadaan kelam yang mencapai puncaknya pada peristiwa 228 yang membuat Komunis menjadi kekuatan baru.
 
Pada tahun 1949, Republik China dipimpin oleh Chiang Kai Shek yang berhaluan nasionalis kalah dari perang saudara dengan Partai Komunis China  pimpinan Mao Zedong dan mundur ke Taiwan.
 
Mao Zedong kemudian memproklamirkan berdirinya negara baru Republik Rakyat China di Beijing, yang kemudian diubah namanya menjadi Beijing dan ditetapkan sebagai ibukota negara baru tersebut.

Sejarah yang kalah
 
Taiwan sendiri menggelar 100 tahun revolusi China dengan meriah. Dunia, khususnya Asia akan mencatat, berdirinya Republik China adalah sejarah terbesar dalam 5.000 tahun sejarah China dan perubahan besar dalam sistem politik dengan berdirinya republik pertama di Asia.
 
Apel bendera diikuti parade militer yang melibatkan lebih dari 1.000 personil militer, 71 pesawat dan 168 kendaraan tempur. Tak ketinggalan, nikah massal. Semarak ada di sudut-sudut daerah kepulauan Taiwan, Kepulauan Pescadores, Quemoy, dan Kepulauan Matsu.
 
Meskipun demikian, Republik China adalah sebuah ironi. Pasalnya status politik Taiwan di dunia internasional adalah terpenjara, sebelas dua belas mirip Palestina. Bahkan lebih menyedihkan.
 
Bukan saja, sejarah konyol Republik China di Taiwan yang mengaku-aku sebagai negara republik nasionalis namun pada kenyataannya baru menjadi sebuah negara demokratis pada 1987.
 
Sebelumnya, dari tahun 1948 hingga 1987, satu-satunya partai di Taiwan hanyalah Kuomintang, tak berbeda dengan Komunis yang mereka lawan di seberang lautan.
 
Pada sisi lain, pemerintah Republik China adalah salah satu pendiri utama Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan pernah menjadi salah satu anggota tetap Dewan Keamanan. Namun pada tahun 1971, Taiwan ditendang keluar dari PBB dan digantikan oleh RRC.
 
Semasa era Perang Dingin, Republik China ditampakkan Barat sebagai "Negara China yang bebas" dan suatu bentuk penentangan terhadap komunisme, sedangkan Republik Rakyat China telah dilihat sebagai "China Merah" atau "China Komunis".
 
Pemerintahan Republik China diakui sebagai satu-satunya pemerintah seluruh China Daratan dan Taiwan yang sah oleh PBB dan kebanyakan negara Barat hingga tahun 1970-an.
 
Meskipun begitu, pemerintah Republik China tidak mau mengembalikan status anggota tetap yang terpaksa dilepaskan pada masa itu. Kini, Republik China atau Taiwan hanya mau menjadi anggota PBB sebagai negara yang berbeda dari RRC.
 
Berkali-kali, Taiwan mencoba masuk PBB dari masa ke masa akan tetapi gagal karena tuntutan Republik Rakyat China atas Taiwan yang berujung hak veto selain itu Pemerintah Republik Cina tersandera oleh kampanye Kebijakan Satu China yang dipromosikan oleh pemerintah RRC. Kini, Republik Cina di Taiwan hanya diakui oleh 25 negara.
 
Belum lagi, kekuatan ekonomi dan politik China daratan memaksa kebanyakan negara-negara harus mengubah kebijakan dilomatiknya yang sebelumnya melawan pemerintah Beijing pasca peristiwa Tiananmen, kini merangkul mesra RRC dan sejarah ditulis oleh para pemenang. RRC lah pemenangnya. (ea)

>> BACA JUGA:

* Ini dia REKSADANA baru

* Ada Apa dengan BUMI RESOURCES?

* KANTONG MATA SBY: Presiden Sehat-sehat Saja

* Daftar 38 calon Komisioner OJK yang lolos uji kapabilitas

* ANGELINA SONDAKH, merek SEMPURNA!

 

*) Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com. Anda juga bisa berlangganan epaper Bisnis Indonesia dengan register langsung ke Bisnis Indonesia edisi digital.

 


 

Discuss: Ironi 100 tahun revolusi China

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area