Bisnis Indonesia - Bisnis.com


INDUSTRI TEKSTIL: Jabar kekurangan tenaga terampil

Large_tekstil

Berita Terkait

BANDUNG: Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat mengeluhkan kekurangan tenaga kerja terampil yang mampu mengoperasional dan memelihara teknologi permesinan yang terus berkembang.

 

Keluhan tersebut tidak hanya datang dari industri TPT skala besar tapi juga dari para pelaku UKM tekstil di Jabar.

 

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar Kevin Hartanto mengatakan sampai saat ini belum kesesuaian antara kebutuhan dunia usaha dengan program pemerintah dan perguruan tinggi sebagai pencetak SDM.

 

“Banyak alumni seperti dari Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil misalnya, yang tidak bisa diserap karena skil yang dimilikinya tidak sesuai dengan kebutuhan industri TPT yang teknologinya berkembang pesat ini,” katanya kepada Bisnis, hari ini.

 

Data Dinas Industri dan Perdagangan Jawa Barat menunjukkan potensi penyerapan tenaga kerja untuk industri TPT itu cukup besar, seperti pada 2010 menyerap 127.780 tenaga kerja. Jumlah tersebut a.l terserap sektor UKM bordir 28.548 orang, UKM batik 3.025 pekerja, dan UKM tenun 386 pekerja.

 

Dia mengatakan faktor tenaga kerja yang terampil itu penting agar industri TPT Jabar tetap berdaya saing tinggi. Menurutnya, meski industri tekstil diramalkan tetap cerah, namun pemerintah tetap harus memerhatikan faktor SDM tersebut.

 

Sementara itu, pelaku UKM tekstil Majalaya juga meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jabar mengaktifkan fungsi Balai Latihan Kerja (BLK) Jabar untuk mendidik tenaga kerja terampil bagi industri padat karya itu.

 

Satya Nata Pura, pengusaha UKM tekstil Majalaya mengatakan, saat ini para pengusaha di sentra tekstil itu kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang mereka butuhkan.

 

“Ini ironis, di satu sisi pengangguran banyak dan di sisi lain pengusaha malah kesulitan cari tenaga kerja,” katanya. (arh)

Discuss: INDUSTRI TEKSTIL: Jabar kekurangan tenaga terampil

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area