KUALA LUMPUR: Harga CPO diprediksi naik setelah menteri keuangan zona euro menyepakati paket dana talangan kedua untuk Yunani yang meningkatkan optimisme permintaan bahan baku melonjak.
Harga kontrak CPO penyelesaian Mei naik 0,3% menjadi 3.254 ringgit (US$1.077) per ton di Malaysia Derivatives Exchange dan mengakhiri sesi pagi pada 3.242 ringgit.
Menkeu menyepekati dana talangan 130 miliar (US$173 miliar) untuk Yunani. Menurut Ryan Long, wakil presiden divisi berjangka dan opsi OSK Investment Bank Bhd, kesepakatan itu membawa sentimen positif di pasar. Ekspektasi penurunan stok di Malaysia juga mendukung harga.
Long memperkirakan stok bisa turun menjadi 1,9 juta ton pada Februari karena ekspor bakal segera pulih. Dewan Sawit Malaysia menyatakan selama Januari stok menurun untuk bulan keempat, menjadi 2,01 juta ton.
Sementara itu, surveyor Intertek kemarin menyebutkan pengiriman ke luar negeri dari Malaysia turun 2% menjadi 783.112 ton dalam 20 hari pertama Februari dari 799.210 ton pada periode yang sama bulan lalu. Societe Generale de Surveillance menyatakan ekspor turun 0,6% menjadi 777.728 ton pada periode itu.
Kenaikan harga CPO sejalan apresiasi harga pada produk subtitusi. Harga kedelai untuk pengiriman Mei naik 0,2% menjadi US$12,7575 per bushel di Chicago Board of Trade. Minyak kedelai untuk pengiriman bulan yang sama naik 0,2% menjadi 53,90 sen per pon.
Minyak sawit untuk penyelesaian September sedikit berubah pada 8.340 yuan (US$1.324) per ton di Dalian Commodity Exchange. Adapun, harga minyak kedelai untuk penyerahan bulan yang sama juga sedikit berubah pada 9.384 yuan per ton.
Harga CPO penyelesaian Mei di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia sedikit turun ke Rp9.565 per kilogram pada pukul 13.05 waktu Jakarta, dibandingkan penutupan kemarin Rp9.600 per kg. (Bloomberg/Taufikul Basari/23)

Showing 0 - 0 of 0 comments