JAKARTA: Pemerintah nampaknya makin mengerucutkan keputusan jangka pendek, untuk menekan subsidi bahan bakar minyak di tengah gejolak harga minyak mentah dunia, dengan cara menaikkan harga bahan bakar minyak di dalam negeri.
Presiden Susilo Bambang Yudhyono mengatakan saat ini pemerintah tengah melakukan exercise untuk menetukan apa yang akan dilakukan negara dalam usulan APBN-P yang akan menjadi payung hukum atau sebagai kebijakan dasar guna mengatasi dampak perekonomian global.
“Harga BBM mau tidak mau tentu mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat, kenaikan tertentu,” kata Presiden Yudhoyono saat memberikan pengantar di sidang kabinet paripurna setelah melakukan rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa 23 Februari 2012.
Pemerintah, ujarnya, tentu saja telah memikirkan dampak jika kebiijakan kenaikan BBM yang ditempuh, seperti terjadinya peningkatan inflasi yang berdampak pada tingkat daya beli masyarakat terutama kalangan miskin.
Untuk itu, ujarnya, pemerintah juga tengah memikirkan adanya pemberian bantuan langsung seperti halnya yang pernah dilakukan sebelumnya.
Bentuk bantuan tersebut tengah dilakukan pembahasan, seperti kemungkinan dilakukannya modifikasi atau tambahan rumusan baru sehingga menjadi paling tepat.
“Nanti pada saatnya, setelah kita bersama DPR merumuskan dengan baik, baru kita tetapkan sebagai kebijakan. Jadi ini semua dalam perencanaan. Tapi perlu saya jelaskan pada publik karena sebenarnya sudah dibicarakan pada minggu-minggu terakhir ini,” kata Yudhoyono.
Opsi menaikkan BBM tersebut, ujarnya, menjadi salah satu bahasan saat SBY bersama Wapres Boediono dan sejumlah menteri melakukan rapat terbatas hari ini di Kantor Presiden yang membahas perkembangan perekonomian global serta dampaknya pada perekonomian nasional dan khususnya pada APBN, serta kebijakan subsidi BBM yang mesti ditanggung negara.
Dia mengatakan dalam dua bulan terakhir ini perkembangan perekonomian global tetap menghadirkan kerawanan dan ketidak pastian bahkan dampak secara langsung serta tidak langsung mulai dirasakan bangsa di dunia.
“Sementara krisis ekonomi di euro zone belum bisa diatasi sepenuhnya, tiba -tiba muncul geopolitik baru di Timur Tengah,” kata SBY.
Kondisi tersebut, tambahnya, tentunya memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Terutama dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Untuk itu, jelasnya, pemerintah mesti merespons perkembangan tersebut dengan.mengembangkan berbagai opsi dan kebijakan untuk mengatasinya.
Dengan tujuan menyelamatkan perekonomian Indonesia, khususnya APBN serta kondisi fiskal.
Dari situasi yang berkembang, Presiden Yudhoyono mengatakan pemerintah menginginkan konstruksi kebijakan yang akan kita tempuh dalam jangka menengah dan jangka panjang adalah melakukan konversi BBM ke BBG.
Kebijakan lainnya adalah, harga BBM di dalam negeri dinilai mesti disusesuaikan dengan kenaikan yang tepat.
Lainnya, memberikan bantuan langsung agar masyarakat utamanya dari golongan miskin tidak terkena dampak signifikan atas kemungkinan segala dampaknya jika kenaikan harga BBM ditempuh oleh pemerintah.
“Kalau kita harus menghadapi kenaikan BBM ini, akibatnya kita harus memberikan bantuan kepada masyarakat miskin, maka sumber anggaran harus kita pastikan dari sumber yang tepat,” kata SBY.
SBY juga memutuskan anggaran pendidikan yang sangat besar, harus ada komponen bantuan pada masyarakat miskin dari aspek pendidikan yang bisa diambil dari anggaran pendidikan yang dikelola Kemendikbud dan Kementerian Agama.
Di samping itu, Presiden SBY jua mengiinginkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN khusus tahun ini dalam rangka menghadapi krisis harga minyak dunia dengan segala implikasi, agar mengarahkan CSR untuk membantu rakyat kelompok miskin, terutama di bidang pangan.
“Itu sangat penting sehingga rakyat bisa merasakan langsung ,meski ada kenaikan BBM,” kata SBY.
Pemerintah, ujarnya, sampai saat ini masih melakukan pembahasan perumusan exercise untuk menentukan kebijakan yang ditempuh dalam APBN-P.
SBY menginstruksikan anggota kabinet bekerja penuh dan terpadu di Kantor Kemenko, dan Wapres melakukan mensupervisi.
“Kita pernah menaikkan harga BBM 3 kali dalam sejarah. Meskipun kita juga pernah menurunkan harga BBM juga 3 kali,” kata SBY.
Kepala Negara optimistis jika semua dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab, maka Indonesia bisa mengatasi keadaan dengan kebijakan tepat dengan mempertimbangkan kemungkinan dampaknya pada rakyat msikin dengan cara memberikan bantuan yang diperlukan
SBY mengatakan dirinya juga banyak menerima pendapat pihak lain yang menggambarkan repotnya melakukan konversi BBM ke BBG, yang dinilai belum tentu bisa selesai dalam 1-2 tahun ini. Kemudian disarankan menyesuaikan harga BBM yang pantas.
Dia mengatakan pandangan tersebut juga diperolehnya dari pimpinan lembaga negara ketika belum lama ini melakukan pertemuan dengannya.
“Sebelum ini menjadi keputusan final sifatnya adalah perencanaan yang harus kita selesaikan dengan baik,” kata SBY.

Showing 1 - 1 of 1 comments