Bisnis Indonesia - Bisnis.com


HARGA BBM: ‘Mau tidak mau tentu mesti disesuaikan’ (Presiden SBY)

Large_img_7608

Berita Terkait

 

JAKARTA: Pemerintah nampaknya makin mengerucutkan keputusan jangka pendek, untuk menekan subsidi bahan bakar minyak di tengah  gejolak harga minyak mentah dunia, dengan cara menaikkan harga bahan bakar minyak di dalam negeri.

 

Presiden  Susilo Bambang Yudhyono mengatakan saat ini pemerintah tengah melakukan exercise untuk menetukan apa yang akan dilakukan negara dalam usulan APBN-P yang akan menjadi payung hukum atau sebagai kebijakan dasar guna mengatasi dampak perekonomian global.

 

“Harga BBM mau tidak mau tentu mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat, kenaikan tertentu,” kata Presiden Yudhoyono saat memberikan pengantar di sidang kabinet paripurna setelah melakukan rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa 23 Februari 2012.

 

Pemerintah, ujarnya, tentu saja telah memikirkan dampak jika kebiijakan kenaikan BBM  yang ditempuh, seperti terjadinya peningkatan inflasi yang berdampak pada tingkat daya beli masyarakat terutama kalangan miskin.

 

Untuk itu, ujarnya, pemerintah juga tengah memikirkan adanya pemberian bantuan langsung seperti halnya yang pernah dilakukan sebelumnya.

 

Bentuk bantuan tersebut tengah dilakukan pembahasan, seperti kemungkinan dilakukannya modifikasi atau tambahan rumusan baru sehingga menjadi paling tepat.

 

“Nanti pada saatnya, setelah kita bersama DPR merumuskan dengan baik, baru kita tetapkan sebagai kebijakan. Jadi ini semua dalam perencanaan. Tapi perlu saya jelaskan pada publik karena sebenarnya sudah dibicarakan pada minggu-minggu terakhir ini,” kata Yudhoyono.

 

Opsi menaikkan BBM tersebut, ujarnya, menjadi salah satu bahasan saat SBY bersama Wapres Boediono dan sejumlah menteri  melakukan rapat terbatas hari ini di Kantor Presiden yang membahas  perkembangan perekonomian global serta dampaknya pada perekonomian nasional dan khususnya pada APBN, serta kebijakan subsidi BBM yang mesti ditanggung negara.

 

Dia mengatakan  dalam dua  bulan terakhir ini perkembangan perekonomian global tetap menghadirkan kerawanan dan ketidak pastian bahkan dampak secara langsung serta tidak langsung mulai dirasakan bangsa  di dunia.

 

“Sementara krisis  ekonomi di euro zone belum bisa diatasi sepenuhnya, tiba -tiba muncul geopolitik baru di Timur Tengah,” kata SBY.

 

Kondisi tersebut, tambahnya, tentunya memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian banyak  negara, termasuk Indonesia. Terutama dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.

 

Untuk itu,  jelasnya, pemerintah mesti merespons perkembangan tersebut dengan.mengembangkan  berbagai opsi dan kebijakan untuk mengatasinya.

 

Dengan tujuan menyelamatkan perekonomian Indonesia, khususnya APBN serta kondisi fiskal.

 

Dari  situasi yang berkembang, Presiden Yudhoyono  mengatakan pemerintah menginginkan konstruksi kebijakan yang akan kita tempuh dalam jangka menengah dan jangka panjang adalah melakukan konversi BBM ke BBG.

 

Kebijakan lainnya adalah, harga BBM di dalam negeri dinilai mesti disusesuaikan dengan kenaikan yang tepat.

 

Lainnya, memberikan bantuan langsung agar masyarakat utamanya dari golongan miskin tidak terkena dampak signifikan atas kemungkinan segala dampaknya  jika kenaikan harga BBM ditempuh oleh pemerintah.

 

“Kalau kita harus menghadapi kenaikan BBM ini,   akibatnya  kita harus memberikan bantuan kepada masyarakat miskin, maka sumber anggaran harus kita pastikan dari sumber yang tepat,” kata SBY.

 

SBY  juga  memutuskan anggaran pendidikan yang sangat besar, harus ada komponen bantuan pada masyarakat miskin  dari aspek pendidikan yang bisa diambil dari  anggaran pendidikan yang dikelola Kemendikbud dan Kementerian Agama.

 

Di samping itu, Presiden SBY jua mengiinginkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN khusus tahun ini dalam rangka menghadapi krisis harga minyak dunia dengan segala implikasi, agar mengarahkan CSR  untuk membantu rakyat kelompok miskin, terutama di bidang pangan.

 

 “Itu sangat penting sehingga rakyat bisa merasakan langsung ,meski ada kenaikan BBM,” kata SBY.

 

Pemerintah, ujarnya, sampai saat ini masih melakukan pembahasan perumusan exercise untuk menentukan kebijakan yang ditempuh dalam APBN-P.

 

SBY menginstruksikan anggota kabinet bekerja penuh  dan terpadu di Kantor Kemenko, dan Wapres melakukan mensupervisi.

 

“Kita pernah menaikkan harga BBM 3 kali dalam sejarah. Meskipun kita juga pernah menurunkan harga BBM juga 3 kali,” kata SBY.

 

Kepala Negara optimistis jika  semua dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab, maka Indonesia bisa mengatasi keadaan dengan kebijakan tepat dengan mempertimbangkan kemungkinan dampaknya  pada rakyat msikin dengan cara memberikan bantuan yang diperlukan

 

SBY mengatakan  dirinya juga banyak menerima pendapat pihak lain yang menggambarkan  repotnya melakukan  konversi BBM ke BBG, yang dinilai belum tentu bisa selesai dalam 1-2  tahun ini. Kemudian disarankan menyesuaikan harga BBM  yang pantas.

 

Dia mengatakan pandangan tersebut juga diperolehnya dari  pimpinan lembaga negara ketika belum lama ini melakukan pertemuan dengannya.

 

“Sebelum ini menjadi keputusan final sifatnya adalah perencanaan yang harus kita selesaikan dengan baik,” kata SBY.

Discuss: HARGA BBM: ‘Mau tidak mau tentu mesti disesuaikan’ (Presiden SBY)

Showing 1 - 1 of 1 comments

  • C7f2ff35474d7daeadf73c3608cc8cdd.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Hen

    Rabu, 22 Februari 2012 | 18:06 WIB

    Ya allah, cuma celana aja yang melorot ... semua pada naik ...

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area