JAKARTA: Komitmen kalangan mahasiswa untuk berwirausaha semakin besar, sehingga dibutuhkan bimbingan agar mereka memiliki dasar pijakan awal yang kuat berupa perencanaan bisnis.
Bico Budianto, Managing Patner Indonesia Technopreneur Community, menilai gaung entrepreneur telah memberikan dampak positif di kalangan masyarakat terutama mahasiswa, meskipun kegiatan pelatihan wirausaha bagi dosen dan mahasiswa yang tiga tahun lalu dipelopori oleh Ditjen Dikti di bawah kepemimpinan Fasli Jalal sudah tidak terdengar aktivitasnya lagi.
Oleh karena itu upaya pembibingan membutuhkan peran serta dan kepedulian sektor swasta dan organisasi yang dipimpinannya agar ada kesinambungan program untuk mencetak 2% pengusaha baru dari total jumlah penduduk Indonesia.
"Indonesia Technopreneur Community ingin anak muda Indonesia memiliki kemandirian finansial dengan berwirausaha. Meski hingga Juni 2011 jumlah UMKM kita sudah 53,2 juta unit, namum banyak usahanya masih kategori informal," ujarnya hari ini.
Usaha informal memiliki ciri tidak berbadan hukum, tidak bankable, tidak ada pencatatan keuangan, tidak ada kontrak tertulis, cash-based, tidak ada standarisasi, tidak tersentuh pajak resmi, hidup di kaki lima atau pinggir jalan sehingga banyak UMKM Indonesia berjalan tanpa rencana tertulis bahkan tanpa business plan,” kata NicoBudianto
Untuk mencetak wirausaha baru, Indonesia Technopreneur Community mendorong masyarakat membangun usaha formal dengan menyelenggarakan workshop entrepreneurship selama satu hari pada Maret mendatang di gedung II BPPT, Jakarta untuk membimbing masyarakat memantapkan komitmen sebagai startup.
Menurut dia, mmulai usaha dengan model yang komprehensif membantu perusahaan untuk tetap fokus pada misi utama, sedangkan penelaahan berkala dan update membantu untuk menjaga model bisnis yang relevan untuk kondisi ekonomi saat ini dan tuntutan konsumen
“Jadi kami akan perkenalkan yang namanya business model dan isinya itu apa yang akan dibahas disini bersama fasilitator dan mentor berpengalaman. Mereka juga akan praktek langsung membuat Business Model Canvas ( Alexander Osterwalder) untuk membangun Business Model sesuai ide sendiri,” jelas Nico.
Dia berharap dengan membuat Business model maka peserta akan menciptakan bisnis yang bisa memberikan serta menangkap nilai tambah (value). Jadi bukan sekadar menghasilkan barang dan jasa tapi sumbangsih apa dari bisnis yang dipilih itu bisa dinikmati oleh para pelanggannya nanti melalui produk yang ditawarkannya. (sut)
Showing 0 - 0 of 0 comments