LONDON: International Monetary Fund memprediksikan bahwa keuangan Singapura dipenuhi dengan tingkat ketidakpastian yang sangat besar.
“Pertumbuhan yang diharapkan akan melambat secara signifikan pada 2012, didorong karena perlemahan permintaan luar negeri, dan ketidakpastian keuangan global. Di luar masalah yang terjadi di eksternal dan internal, diharapkan inflasi akan mengendor lebih tajam pada 2012,” ujar IMF dalam laporan yang dikeluarkan di Washington.
Dalam laporan itu jajaran dewan ekskutif meminta agar otoritas di Singapura lebih proaktif terhadap kondisi makroekonomi dan kebijakan keuangan, yang saat ini sedang berusaha untuk mulai membaik.
Para direktur IMF menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Singapura mulai melambat pada termin ini karena dipengaruhi lingkungan global, dan terjadi risiko penurunan signifikan. Meskipun demikian, para direktur IMF setuju bahwa Singapura masih memiliki ruang yang cukup dan instrument yang dapat digunakan sebagai bantalan jika terjadi guncangan eksternal, dan dapat juga digunakan sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi makro.
Sementara itu, dari Singapura dilaporkan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long memprediksikan pertumbuhan ekonomi Singapura akan terus melambat pada 2012, setelah perlambatan yang dimulai pada tahun sebelumnya terjadi diakibatkan kesulitan pada situasi global dan ditambah upaya pemerintah untuk memangkas jumlah pekerja asing.
Lee menyatakan produk domestik bruto 2011 mencapai 4,8% pada tahun lalu. Angka ini lebih rendah dibandingkan prediksi pemerintah sebelumnya sebesar 5%, sementara jika dibandingkan degan perolehan pada 2010, meningkat 14,5%. Perekonomian, tambah Lee, akan bertumbuh 1% hingga 3% pada 2012.
"Masalah utang pemerintah jauh dari upaya terselesaikan. Pada tahun ini kelihatannya masalah ini akan terus menjadi kesulitan untuk ekonomi global. Sebagai negara yang terbuka, Singapura akan terkena dampaknya juga,” ujarnya.
Pemerintah Singapura pada Oktober menyatakan akan terjadi perlambatan pencapaian mata uang menyusul yang terjadi dengan sejumlah negara di kawasan Asia yang terus berupaya untuk melindungi perekonomiannya, dari dampak perlambatan pertumbuhan yang terjadi di Eropa dan China. Pada saat yang sama, pemerintahan Lee berupaya untuk mencegah terjadinya peningkatan imigrasi dengan menetapkan kebijakan pembatasan jumlah imigran.
“Soft landing di China akan terus terjadi, sementara upaya pemulihan ekonomi di Amerika dan risiko turunan atas apa yang terjadi di kawasan Eropa adalah tiga hal penting yang menjadi dasar Singapura untuk melihat 2012,” ujar Irvin Seah, ekonom DBS Group Holdings Ltd, Singapura.
Dia menyatakan perlambatan arus dari pekerja asing akan menjadi salah satu halangan pada pertumbuhan, menyusul meningkatnya biaya berusaha. Rata-rata pertumbuhan yang diestimasikan Lee pada 2011 berimplikasi pada terjadinya kontraksi pada pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2011, tambah Seah, dan akan lebih buruk dari yang diharapkan oleh pasar.
Pertumbuhan ekonomi Singapura kemungkinan besar akan turun dan hanya berada diangka rata-rata 5% pada Kuartal IV, dibandingkan sebelumnya. Departemen Perdagangan akan mengeluarkan produk domestik bruto Singapura pada 3 Januari.
Para pengambil kebijakan di kawasan Asia berkeinginan untuk menjaga pertumbuhan di 2012, menyusul tingginya risiko atas pemangkasan suku bunga atau diberlakukannya stimulus fiskal yang berpengaruh terhadap upaya itu.
Strategis Royal Bank of Scotland Group Plc India Lim Su Sian menyatakan kemungkinan terjadinya kesalahan penerapan kebijakan pada 2012 akan meningkat karena terus terjadinya perlambatan ekonomi global yang menekan sejumlah lembaga keuangan untuk menurunkan biaya pinjaman, meskipun inflasi masih terus meningkat.
Negara-negara di Asia dari Thailand hingga Indonesia, dan Malaysia telah memangkas suku bunga, atau tidak mengubah suku bunga pada hasil keputusan rapat dewan gubernur bank sentral, dengan tujuan untuk melindungi perekonomian dalam negeri dari dampak krisis utang Eropa. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch menaikkan prediksi perolehan harga di kawasan Asia pada tahun ini, dan tahun depan, menyusul rendahnya estimasi pertumbuhan, dan menyatakan bahwa sejumlah pengambil keputusan ekonomi di Asia telah menerapkan kebijakan tanggap darurat, seperti yang dilakukan di China dan India.
"Sejumlah bank sentral akan merasa bahwa mereka harus memangkas suku bunga tapi apakah mereka dapat mengelola isu yang baru atau tidak. Untuk beberapa negara, mereka akan merasakan adanya perubahan karena di sisi lain, pertumbuhan memang lambat tapi inflasi masih terjaga. Hal ini akan membuat potensi untuk kesalahan pengambilan kebijakan."
Menggaris bawahi mengenai risiko yang terjadi di Eropa, produksi industri di Korea Selatan turun pada November. Badan Pusat Statistik Korea menyatakan produksi turun 0,4% dibandingkan pada Oktober, dimana penurunan mencapai 0,6%. Bank Sentral Korea menahan kenaikan suku bunga dalam enam bulan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. (sut)
Showing 0 - 0 of 0 comments