Bisnis Indonesia - Bisnis.com


DRIVING: Lamborghini Aventador si banteng petarung

Large_lambor

Berita Terkait

Sejak awal, anak petani anggur bernama Ferruccio Lamborghini memiliki satu visi menjulang saat mendirikan pabrik mobil: menciptakan mobil avant garde sport seperti halnya Ferrari.

Dengan lambang banteng siap menanduk, Lamborghini adalah perwujudan maskulinitas seperti halnya Kuda Jingkrak Ferrari.

Sebuah produk avant garde, Lamborghini adalah karya yang eksperimental atau inovatif. Setiap mobil Lamborghini membawa semangat perlawanan terhadap batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan.

Bukan saja soal proses pengerjaan yang mengandalkan sentuhan tangan, Lamborghini memiliki bentuk, kemampuan dapur pacu dan tentu saja harga yang di atas batas nalar normal. Pendek kata, Lamborghini adalah mainan orang-orang super kaya.

Hal ini ditunjukkan saat Lamborghini Aventador LP 700-4 pekan ini resmi mengaspal di Indonesia lewat tangan PT Artha Auto selaku APM (Agen Pemegang Merek) Lamborghini di Indonesia.

Harga sebuah sport car ini jelas bikin geleng-geleng: U$1,08 juta (off the road) atau setara  Rp9 miliar. Dengan harga setinggi langit ini pun, mobil ini sudah diantre sehingga konsumen baru bisa menerima kendaraan ini di garasinya pada 2014.

Chief Operation Officer (COO) Artha Auto Endy Kusumo mengatakan penjualan mobil mewah sport tersebut pada tahun ini hanya ditargetkan terjual 8 unit, tapi pemesanannya sudah mencapai di atas 10 unit.

Nama Aventador sendiri diambil dari nama seekor banteng paling berani dalam sejarah adu banteng di Spanyol (Spanish Corrida). Banteng tersebut pernah meraih penghargaan tertinggi untuk bull fighting dengan meraih Trofeo de la Pena La Madronera pada Oktober 1993 di Saragossa Arena.

Mengedepankan performa, struktur bodi yang ringan dan pengendalian terbaik. Semua itu dikombinasikan dengan desain sempurna yang terlihat seperti pesawat tempur.

12 Silinder

Aventador mengusung mesin 12 silinder dengan kapasitas 6.500 cc yang diklaim mampu menghasilkan tenaga sebesar 700 tenaga kuda dan kecepatan yang dapat mencapai 350 km/jam.

Dari posisi diam ke angka 100 km/jam, Aventador hanya membutuhkan 2,9 detik. Bicara soal torsi, jantung kendaraan ini memiliki 690 Nm pada 5.500 rpm. Performa mesin didukung dengan bobotnya yang ringan untuk ukuran mobil sport di kelasnya, berat banteng ini hanya 1.575 kg sehingga memiliki weight to ratio hanya 2,25 kg per tenaga kuda.

Aventador mengkonsumsi bahan bakar dan emisi C02 sebesar 20% lebih baik dibanding Murcielago. Padahal seri ini mengalami peningkatan performa sekitar 8%. Teknologi transmisi ISR menjamin pergantian transmisi tercepat, hanya 50 milidetik.

Selain itu teknologi unik dikedepankan mulai dari chassis monocoque yang terbuat dari carbon fiber, beranjak ke interior terdapat layar TFT dengan sistem drive select mode yang memberikan kenyamanan pilihan bagi pengendara untuk memilih sport, strada atau corsa.

Dengan bekal chassis ringan dikombinasikan suspensi pushrod terinspirasi dari Formula 1, kendaraan ini memberikan presisi pengendalian yang istimewa khas mobil balap.

Selama ini, ungkapnya, Lamborghini merupakan mobil yang diproduksi oleh balutan tangan manusia termasuk mesin, komponen, dan rangkaian desainnya sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Menurut Endy Kusumo, untuk kawasan Asean, Indonesia termasuk wilayah yang memiliki pertumbuhan penjualan Lamborghini terbaik. Namun, secara kuantitas, masih kalah jauh dibandingkan dengan Singapura yang pada tahun lalu mampu mebukukan penjualan sekitar 90 unit.

Sementara China tetap menjadi negara terdepan dalam penjualan Lamborghini. "Untuk seluruh model, penjualan Lamborghini di China mencapai di atas 200 unit pada tahun lalu," paparnya. (algooth.putranto@bisnis.co.id) (tw)
 

Discuss: DRIVING: Lamborghini Aventador si banteng petarung

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area