JAKARTA: Masyarakat yang pergi berobat ke luar negara lain terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2011 diperkirakan devisa yang lari keluar lebih dari Rp110 triliun di sektor kesehatan, untuk biaya pengobatan di negara lain.
Banyaknya masyarakat yang berobat ke luar negeri, karena sedikitnya rumah sakit di Indonesia yang mempunyai kualitas pelayanan kesehatan standar internasional, yang ditandai dengan kepemilikan akreditasi yang diakui secara internasional.
"Tren pengobatan ke negara tetangga terus meningkat. Hal itu antara lain akibat minimnya rumah sakit di Indonesia yang memiliki pelayanan berstandar internasional, atau terakreditasi secara internasional," kata Handojo Rahardjo, Direktur RS Premier Jatinegara, Jumat 10 Februari 2012.
Menurut dia, akreditasi pelayanan rumah sakit yang diakui internasional saat ini adalah Joint Commision International (JCI). Yaitu suatu badan sertifikasi yang berfokus pada pelayanan kesehatan dan berpusat di Amerika Serikat.
Dia menuturkan JCI memiliki kewenangan untuk menilai standar pelayanan kesehatan yang berkualitas, dan berfokus pada keselamatan pasien.
Untuk memperoleh akreditasi JCI ini cukup sulit. Sebab, katanya, pengakuan ini menunjukkan komitmen RS yang tidak main-main dalam memberikan pelayanan yang terbaik demi keselamatan pasien.
"RS Premier Jatinegara merupakan rumah sakit pertama di Jakarta yang terakreditasi JCI, dan melengkapi sertifikasi akreditasi 16 bidang dari Kementerian Kesehatan, sertifikasi ISO 9001:2008, dan sertifkasi Pengendalian Infeksi HICMR Australia," ungkap Handojo.
Dia menambahkan pencapaian akreditasi JCI itu, merupakan peningkatan dari tahapan perjalanan rumah sakitnya dalam hal kualitas pelayanan. "Ke depan, kami akan terus meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan bagi pasien, memastikan keselamatan dan kenyamanan pasien, serta menyediakan struktur menajemen yang diperlukan untuk mempertahankan keunggulan dalam standar pelayanan," ujarnya.
Kebanyakan masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, karena masih mempercayai kualitas pengobatan di negara orang jauh lebih baik dibandingkan dengan di rumah sakit yang ada di dalam negeri.
Padahal mutu pengobatan di negeri ini tidak jelek, tidak jauh berbeda dengan di luar negeri. Tapi RS di Indonesia dinilai masih lemah dalam mutu pelayanan kesehatan, dan keselamatan pasien.
Menurut data dari World Bank pada 2004, ada sekitar Rp70 triliun devisa Indonesia yang terbang ke luar negeri di sektor kesehatan ini. Dan semenjak itu terus meningkat. Pada 2010 sekitar Rp100 triliun, dan 2011 mencapai Rp110 triliun. (bas)
Showing 0 - 0 of 0 comments