Saya merasa beruntung dapat memperoleh kesempatan 'bergaul' dengan orang-orang sukses. Di bisnis properti, misalnya, ada Ciputra, yang saya kira kiprahnya tidak diragukan lagi.
Pak Ci, begitu biasa koleganya menyapa, dikenal luas sebagai pengusaha yang jatuh bangun dan sukses di bidang properti di Indonesia dan diakui di mancanegara.
Sekarang, yang menurut dia sebagai bentuk pengabdian untuk bangsa, Pak Ci begitu getol menyebarkan virus entrepreneurship ke berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Pak Ci bahkan pernah menginisiasi pelatihan kewirausahaan untuk para pembantu rumahtangga yang bekerja di luar negeri (TKI).
Motto 'mengubah rongsokan menjadi emas' sebagai ikon sukses entrepreneurial Pak Ci, telah menjadi inspirasi bagi banyak orang lainnya, terutama anak-anak muda, anak-anak kampus, yang kini banyak berburu gelar sebagai young entrepreneur, wirausahawan muda. Bahkan kini sejumlah lembaga menggelar penghargaan wirausaha muda, seperti Bank Mandiri yang selalu dijejali dengan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Apa sih kiat sukses entrepreneur versi Pak Ci? Dalam satu kesempatan, pemilik Ciputra Group itu mengatakan: inovasi.
Ya, tentu kata itu sudah sering Anda dengar. Tetapi, memaknai kata itu bukan perkara mudah. Bagi Chairul Tanjung, pemilik CT Corp, inovasi yang baik, leadership yang kuat, visi yang maju ke depan, akan percuma kalau tidak deliver. Untuk deliver, katanya, butuh passion.
Apa itu passion? Nah, jawabannya nyerempet filosofi bisnis Soebronto Laras, yang diringkas dalam tiga huruf saja: VIP, yakni Visioner, Innovative dan Perseverance. Visioner jelas, berpandangan ke depan. Inovatif, tak perlu diragukan lagi. Perseverance, nah ini dia kegigihan.
Maka, kombinasi filosofi para pebisnis itu klop sekali ketika Pak Sukamdani Sahid Gitosardjono, pengusaha senior yang menggeluti sektor pariwisata, menyebutkan bahwa semua orang pada dasarnya sama, punya kemampuan dan kepandaian. Yang membedakan orang berhasil atau tidak adalah kegigihan atau keuletan.
***
Satu kata tadi: kegigihan, membuat saya ingin sekali mendiskusikan fenomena Mobil Esemka, yang sedang menjadi pembicaraan di mana-mana.
Mobil Esemka juga telah mendongkrak citra politik Joko Widodo, Walikota Surakarta, yang semakin memperkukuh rivalitas bebuyutan dengan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah, yang secara struktural adalah boss Joko Widodo.
Jokowi, begitu ia biasa dipanggil, saya kira termasuk salah satu tokoh yang gigih tadi. Ia tidak hanya berhasil menjadi pengusaha mebel yang sukses, sekaligus menjadi walikota yang dinilai oleh banyak pihak begitu berhasil.
Tanpa mengerahkan 'pasukan' polisi pamongpraja pun, Jokowi berhasil menertibkan sejumlah tempat pedagang kaki lima menjadi peruntukan lain yang lebih produktif, dengan cara menggusur yang ekstra-manusiawi pula.
Ia pernah bercerita, perlu mengundang makan sekitar 50 kali para pedagang kaki lima itu, sampai akhirnya mereka menerima ketika rencana penggusuran itu dikemukakan dan kemudian jalan dengan mulus.
Namun bukan cuma urusan gusur menggusur ini Jokowi punya kegigihan. Ia, bahkan, mendapatkan manfaat politik yang luar biasa, berkat kegigihan menghargai karya anak bangsa. Barangkali tak berlebihan kalau Jokowi menjadi salah satu walikota paling terkenal di Indonesia saat ini.
Rivalnya barangkali, dan sah saja, ketika menyebut Jokowi cari muka. Tetapi yang pasti langkahnya untuk menggunakan Esemka sebagai mobil dinas telah merebut simpati luar biasa.
Sah-sah pula apabila para penggiat otomotif menganggap Mobil Esemka seperti hasil prakarya anak sekolah, tidak layak, masih butuh waktu panjang untuk bisa disebut sebagai produk industri massal, dan sederet cemoohan lainnya. Namun Jokowi tak peduli, seolah mendengar filosofi dan pujian Pak Ci: menyulap rongsokan menjadi emas.
Seperti kata Pak Ci, Jokowi mampu menyulap rongsokan menjadi emas, tentu tanpa bermaksud mengatakan Mobil Esemka karya anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan itu adalah rongsokan.
***
Kalangan industri otomotif, yang telah bertahun-tahun berkiblat ke Jepang --atau Eropa dan Amerika-- soal kecanggihan teknologi, manufacturing otomotif maupun standar pasar yang dipersyaratkan, memang terus mewanti-wanti bahwa Esemka adalah mobil yang masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab sebelum dapat dikatakan sebagai produk industri.
Tetapi saya setuju dengan nasehat para sesepuh kita soal nasionalisme pula.
Saya kira benar, bagi yang kontra, mobil yang dipasang plat nomor AD 1 oleh Jokowi itu boleh jadi masih jauh dari sempurna untuk ukuran standard industri otomotif, ketentuan sertifikasi, maupun standard industri lainnya. Namun saya kira benar pula, bagi yang pro, bahwa mengecilkan hasil karya anak-anak siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Jawa Tengah itu, apalagi memberangusnya, adalah tindakan yang tidak pada tempatnya.
Dalam membangun nasionalisme dan kemandirian bangsa, semangat untuk menjadi pemenang memang harus dibangun. "Hidup harus ada semangat dan harapan," begitu kata orang-orang bijak.
Pijakan itulah yang saya kira pas sekali dengan filosofi sukses entrepreneurship para pengusaha senior, yakni: Visi, inovasi dan kegigihan.
Jika memang Indonesia punya visi untuk memiliki industri domestik yang kuat, mengapa tidak dari sekarang dimulai saja? Jika memang punya visi untuk membangun industri otomotif domestik yang mandiri, mengapa tidak mendorong inovasi-inovasi anak negeri? Jika memang punya visi untuk membangun industri domestik yang kuat, mengapa tidak mendorong dan membangun kegigihan anak bangsa melalui kebanggaan terhadap hasil karya sendiri?
Terus terang, saya iri dengan Malaysia yang --meskipun terseok-seok, pemimpin Malaysia memberikan dukungan politik yang besar--telah memiliki proyek mobil nasional yang dinamai Proton. Hebat pula China, yang punya industri otomotif sendiri, begitu pula India, yang mengembangkan mobil Tata.
Hebat lagi Korea Selatan. Negeri itu sejak awal 1970-an telah memiliki industri otomotif. Meskipun di awalnya terseok-seok, tetapi saat ini menjadi salah satu pemain besar, the big five, di dunia. Semangat untuk mengalahkan Jepang yang begitu membara di Korsel menjadi kunci penting, sehingga Hyundai, misalnya, yang kalau salah ucap bisa tertukar dengan Honda, kini mampu menyalip di tikungan pasar mobil Jepang di berbagai negara. Dan, hasil ini tidak datang tiba-tiba: butuh waktu, proses dan kegigihan.
***
Maka, saya jadi ingat APBN kita. Seandainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mau menggunakan diskresinya untuk menopang proyek mobil nasional --dan revitalisasi industri domestik lainnya, alangkah dahsyatnya. Tidak hanya dukungan politik, tetapi juga dukungan dana.
Tanpa perlu bermaksud untuk berkompetisi mencari simpati, jika ada politik fiskal yang kuat dari pemerintahan Yudhoyono, didukung komitmen kemandirian yang besar dari para menteri yang membantunya --menteri perindustrian, menteri riset, menteri pendidikan, menteri keuangan, dan lainnya--niscaya mobil nasional bukan perkara sulit untuk diwujudkan.
Sekaranglah saatnya, mumpung semangat nasionalisme, bahwa "anak Indonesia bisa", sedang terpatri dan membara oleh demam Mobil Esemka.
Sayang kan, jika melihat defisit anggaran yang direncanakan 2%, cuma terealisasi 1,2%. Kelihatannya menghemat 0,8% atau sekitar Rp50 triliun jika dihitung dari volume anggaran Indonesia, tetapi sebenarnya angka itu memperlihatkan bahwa pelaksanaan anggaran tidak efektif.
Dan politik fiskal yang kuat rasanya bisa pula diadopsi untuk keperluan lain yang bahkan bisa menjadi legacy Pak SBY. Boleh dong, kepikiran, seandainya 0,5% saja anggaran pendidikan kita tiap tahun dialokasikan untuk diklat sepakbola dan penyediaan segala fasilitas pendukungnya, betapa dahsyatnya. Berapa sih 0,5% itu? "Besar broer," kata anak gaul sekarang. Hitung saja, kalau anggaran pendidikan sekitar Rp250 triliun setahun, 0,5% berarti sama dengan Rp1,25 triliun!
Jika pemerintah mau, kok rasanya kita bisa. Dan kalau sepakbola kita tangguh, pemainnya punya skill bagus, punya sikap dan semangat gigih dan ulet di lapangan, nggak bakalan lagi deh Malaysia ngremehin Indonesia. Dan bagi anak Indonesia, akan kian bangga mengatakan: ada Garuda di Dadaku!
Dengan begitu, takkan ada lagi penggiat sosial media Malaysia menulis seperti ini: "Garuda kan cuma burung khayalan. Kalau Harimau Malaya kan binatang nyata."
Ahh, atau saya yang semakin ngoyoworo (ngelantur ke mana-mana) ya? Bagaimana menurut Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)
*) Tulisan ini diadopsi dari kolom Pojok Kafe harian Bisnis Indonesia edisi 7 Januari 2012. Untuk membaca berita-berita Bisnis Indonesia lainnya, silahkan kunjungi www.epaper.bisnis.com, atau klik epaper Bisnis Indonesia untuk berlangganan dan mendownload kontennya.

Showing 1 - 5 of 6 comments