Di satu kota tersebut lah nama seorang tokoh agama yang disegani. Meski menyandang predikat tokoh agama, lelaki punya anak yang terlibat pergaulan bebas di Jakarta. Mungkin anaknya gak sanggup menahan godaan Ibu Kota yang terlalu hedonis.
Singkatnya, setelah hitungan tahun hidup di Jakarta dan bergelimang dosa, kawan kita anak tokoh agama itu mendapat email tentang kisah si Pembaca Berita dengan jilbabnya. Tersentuh lah kawan kita sampai berlinang air mata kita membaca penuturan si Pembaca Berita itu. Dia pun merasa hidupnya bergelimang dosa dan jauh dari aturan agama.
Akhirnya dia memutuskan pulang ke kota kecil kelahirannya di Jawa Timur. Padahal di Jakarta dia sudah menempati posisi strategis di salah satu bank asing. Keputusan yang banyak disesalkan oleh teman sepergaulannya.
Sang Kiai juga mendengar anak kesayangannya berniat kembali ke kota kelahirannya. Rasa gembira membuncah di hatinya. “Biarlah anakku hidup dengan materi secukupnya di sini, daripada uang berlimpah, dosa pun berlimpah di Jakarta,” fikir sang tokok agama itu.
Syukuran kecil-kecilan dipersiapkan untuk menyambut si Anak. Kegiatan di pesantren milik sang kiai dihentikan sementara.
Hari yang ditunggu, sang Anak sampai di gerbang pesantren tanpa menenteng apapun. Hatinya sudah bulat melepas semua yang berbau keduniawian. Matanya masih terlihat sembab setelah menangis berhari-hari.
Dengan ‘langkah yang terbata-bata’ dia masuk ke dalam pesantren kebanggaan sang Ayah. Dari dalam rumah sederhana milik sang Kiai, terlihat ibunda dan keempat saudaranya menemani tokoh agama itu.
Setelah mengucap salam yang dijawab serempak oleh orang tua dan kakak dan adiknya, si Anak langsung memeluk kedua pahanya ibunya seraya meminta maaf. Kenapa Ibu? Karena sang anak tetap merasa Ibunda lah yang memang seharusnya didahulukan untuk dihormati.
Setelah bercerita panjang lebar mengakui kesalahannya dan ingin bertobat, si Anak mengutarakan keinginannya untuk mengenakan jilbab.
Mendengar keinginan anaknya, sontak sang Kiai bangkit dari duduknya dan menghardik dengan nada tinggi sambil menolak mentah-mentah niatan si Anak.
“Jadi ini yang kamu dapat dari bersekolah tinggi-tinggi di Jakarta. Menyesal aku mengirim engkau ke kota durjana itu kalau begini hasilnya. Lebih baik kau tinggalkan rumah ini” geram Kiai sambil mengusir si Anak.
Merasa tidak diterima oleh keluarganya, ABDUL MADJID, si Anak itu, merasa memang Jakarta lah sebaik-baiknya tempat bagi dirinya.

Showing 1 - 5 of 5 comments