SURABAYA: Tren pasar MICE (meeting, incentive, conference and exhibition) diperkirakan masih mendominasi bisnis industri jasa perhotelan di Surabaya tahun ini.
Namun, diperkirakan triwulan pertama tahun ini sebagian besar hotel masih kesulitan mendongkrak okupansi.
Windiarto, General Manager Mercure Grand Mirama Surabaya mengatakan potensi wisatawan MICE di Surabaya tahun ini tidak akan jauh beda dengan kondisi2010. Tahun lalu sebagian besar hotel mengandalkan bisnisnya darisektor tersebut.
Tren tersebut, lanjutnya, sudah mulai terlihat dengan adanya sejumlah biro perjalanan dan beberapa asosiasi profesi yang menjajaki untuk melakukan kegiatan meeting, atau pameran di Surabaya.
"Mereka sudah mendatangi sejumlah hotel untuk melakukan penjajakan,” ujarnya kepada Bisnis hari ini.
Namunn pergerakan pasar MICE ini baru bisa terlihat pada Maret mendatang hingga memasuki Bulan Ramadhan. Dia berharap kegiatan MICE tahun ini akan mampu mendongkrak okupansi hotel di Surabaya.
Di Mercure Surabaya, lanjutnya, tingkat hunian hotel per akhir 2011 sempat terkoreksi dari posisi 89% pada akhir 2010 menjadi 88%.
"Akhir tahun kemarin memang diluar perkiraan kami karena mulai 19 Desember okupansi terlihat menurun daru baru rame pada malam Tahun Baru," tuturnya.
Windi mengatakan lesunya okupansi hotel tersebut masih berlansung hingga sekarang. Bahkan boleh dikatakan pada awal 2012 ini tingkat hunian hotel di Jatim mulai memasuki masa-masa sulit. "Mungkin setelah Perayaan Imlek kondisinya akan membaik."
Data dari PHRI Jatim menyebutkan okupansi hotel di Jataim pada awal tahun ini rata-rata turun 50%.
Yusak Anshori, General Manager Surabaya Plaza Hotel, membenarkan awal tahun 2012 rata-rata okupansi hotel bintang dan nonbintang di Surabaya hanya sekitar 41,4%.
Rendahnya tingkat hunian tersebut diperkirakan berlangsung hingga tiga bulan mendatang.
Setelah itu, lanjutnya optimistis bisnis perhotelan tersebut akan kembali normal.
"Sekarang ini okupansi di Surabaya Plaza Hotel sendiri turun menjad
70% dari kondisi normal yang rata-rata mencapai 80%," ujar Yusak yang juga Ketua Dewan Pariwisata Jatim itu.
Saat ini di Surabaya tercatat 25 hotel berbintang Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah menyusul kehadiran 18 hotel bintang dan non bintang yang diperkirakan selesai akhir tahun ini.
Namun menurut Windi, pertumbuhan properti hotel tersebut belum berdampak signifikan terhadap tingkat persaingan bisnis di sektor bersangkutan.
Dia membenarkan bisnis perhotelan akan lebih kompetitif dengan bertambahnya jumlah kamar. Apalagi hotel yang baru juga sudah mulai menunjukkan eksistensinya, akan tetapi kondisinya masih dalam batas wajar. (sut)
Showing 0 - 0 of 0 comments