JAKARTA: Ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka asalkan indikator inflasi ke depan masih stabil di level rendah. Rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak pun tak akan berdampak besar terhadap inflasi.
Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan inflasi pada tahun ini ada kecenderungan tetap rendah karena harga komoditas dunia menunjukkan tren penurunan.
“Kalau pada 2011 di luar minyak komoditas naik 16,1%. Berdasarkan data terkini pada 2012 komoditas perbankan turun 12,8%. Jadi ada negative growth. Dengan penurunan ini maka tekanan inflasi barang impor juga mengalami penurunan,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Selasa 14 Februari 2012.
Dia menerangkan dengan adanya skenario kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga pembelian pemerintah (HPP) beras pada semester ini hanya akan menambah inflasi masing-masing sebesar 0,2% dan 0,1%, sehingga total 0,3%.
Begitu juga saat subsidi bahan bakar minyak (BBM) dibatasi untuk kawasan Jawa-Bali, lanjutnya, akan memberikan dampak inflasi sebesar 0,7%. Apabila pemerintah memilih skenario menaikkan harga BBM, ungkapnya, tiap kenaikan Rp500 per liter menambah inflasi secara langsung 0,3%.
“Jika kenaikan TDL, HPP dan pembatasan subsidi dilakukan inflasi akan menjadi 5,0%. Masih sesuai target 4,5% plus minus 1%,” tuturnya.
Saat ditanya dengan proyeksi inflasi berada di level 5% apakah ruang penurunan BI Rate masih ada, Perry membenarkan karena rentang bunga riilnya sebesar 75 poin dari selisih bunga acuan 5,75%.
Namun, dia enggan memastikan penurunan itu akan dilakukan pada bulan depan. “Bisa saja kongklusi tidak ada informasi baru, masih ada ruang gerak [penurunan BI Rate]. Namun, ke depan kami masukkan kalkulasi proyeksi lebih dulu,” terangnya. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments