JAKARTA: Pemerintah mengingatkan otoritas moneter mengimbangi penurunan suku bunga acuan dengan peningkatan manajemen risiko perbankan agar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi positif.
Bambang Permadi Sumantri Brodjonegoro, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal, menilai penurunan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% sejalan dengan tingkat inflasi di bulan Januari yang tidak terlalu tinggi.
Idealnya, selama laju inflasi yang terjaga diikuti dengan penurunan BI rate, maka akan member dorongan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Kita tahu di Indonesia penurunan BI rate tidak otomatis bisa menurunkan suku bunga kredit. Menurut saya ini bagus, tapi harus diikuti upaya serius untuk mengurangi lending rate supaya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya di sela rapat pimpinan Kementerian Keuangan, hari ini (09/02).
Untuk itu, lanjut Bambang, manajemen risiko perbankan harus ditingkatkan agar margin bunga bersih (nett interest margin/NIM) bisa turun.
Dengan demikian perbankan merasa cukup keuntungannya dan terjadi pertumbuhan kredit yang bagus. “Ini lebih ke upaya untuk meyakinkan perbankan Indonesia untuk mengkalkulasi risiko.”
Yakinkan pasar
Sementara itu, Ekonom Universitas Gajah Mada Tonny Prasetyantono menilai bank sentral sedang berusaha meyakinkan pasar bahwa laju inflasi terjaga pada level yang aman sehingga BI rate diturunkan jadi 5,75%.
Namun, sulit untuk terus mempertahankan inflasi rendah mengingat sebentar lagi harga BBM dan tarif listrik kemungkinan naik.
“Justru (harga BBM dan listrik dinaikan) karena inflasi rendah, serta APBN sudah terlalu berat memberi subsidi. Saya juga melihat kebijakan penurunan BI rate ini seperti ‘memukul angin’ karena tidak direspon dengan penurunan suku bunga kredit. BI bisa jadi kurang kredibel jika kebijakannya tidak diikuti oleh bank-bank,” tuturnya.
Tonny mengatakan jangankan suku bunga kredit, bahkan suku bunga deposito pun belum tentu turun mengikuti BI rate. Sebabnya suku bunga deposito saat ini sudah berada pada level sensitif. “Jika turun lagi, pemilik dana bisa memindahkan portofolionya ke emas, dollar AS, dan lain-lain. ini alasan bank cukup rigid, karena takut likuiditasnya ditarik nasabah.”
Dia melihat masih ada kerawanan likuiditas ke depannya meski belakangan ini tekanan krisis Eropa mereda. Namun pada 20 Maret nanti akan ada utang Yunani yang jatuh tempo cukup besar dan berpotensi menimbulkan guncangan di pasar keungan dunia.
“Ini biasanya menyebabkan Euro melemah, dollar AS menguat dan Rupiah melemah. Shock juga sewaktu-waktu bisa terjadi pada Spanyol yang penganggurannya meledak hingga 23%. Ini menyebabkan Rupiah volatile,” ujarnya.
Bambang Brodjonegoro memperkirakan beban inflasi akibat kebijakan pembatasan BBM berubsidi dan kenaikan tarif dasar listrik pada April nanti sekitar 0,8%. Hal itu sudah diperhitungkan dalam asumsi inflasi 5,3% di APBN 2012.
“Penambahan inflasinya kan setahun cuma 0,8%. Itu masih oke dan sudah dihitung dalam asumsi inflasi 5,3%,” tandasnya. (Bsi)

Showing 0 - 0 of 0 comments