Bisnis Indonesia - Bisnis.com


ARAH BISNIS & POLITIK 2012: ‘Meskipun tahun sulit, peluang harus dicari’

Large_large__mg_1009

Berita Terkait

Berbekal predikat investment grade, Indonesia menatap tantangan ekonomi ke depan dengan optimisme tinggi. Predikat layak investasi tersebut dianggap sebagai peluang bagi pengusaha-pengusaha nasional untuk berjaya di negeri sendiri.

 
Sementara itu, kuatnya fundamental ekonomi kuat serta fiskal yang sehat menjadi modal untuk meredam dampak negatif sekaligus mengambil peluang dari krisis global.  Untuk menggambarkan seberapa besar kepercayaan diri Indonesia tersebut, Bisnis mewawancarai Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar. Berikut petikannya :  
 
Sejumlah lembaga internasional mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2012, termasuk pertumbuhan Indonesia. Bagaimana dengan pemerintah ?
 
Saya lihat memang koreksi tadi itu masih akan berjalan terus untuk pertumbuhan dunia. Terutama pertumbuhan di Eropa,  Amerika Serikat, dan Jepang, yang mengalami persoalan. Kita tahu permasalahannya mulai dari utang yang luar biasa besar, defisit fiskal maupun juga kesehatan perbankan, dan kepercayaan investor dan pasar maupun konsumen.  
 
Terlihat juga indikator-indikator dari permasalahan ekonomi sudah bergerak ke masalah politik. Dalam artian kemampuan dari institusi negara-negara itu dalam mengambil keputusan, terutama keputusan-keputusan yang sulit, yang tidak populis, kelihatannya di Eropa sangat sulit untuk melakukan hal itu. Ini karena jumlah negara di kawasan Eropa banyak dan tuntutan dari masing-masing keputusan berimplikasi ke sosial dan politik yang besar. 
 
Sekarang sudah makin berat persoalannya, bukan hanya teknis di manajemen ekonomi, tapi sudah ke dimensi politik. Dengan begitu, bisa dikatakan 2012 pada beberapa negara itu, dapat disimpulkan untuk sementara waktu ini tanda tanya besar. Tidak ada seorang pun yang tahu. Jadi perkiraan-perkiraan itu, saya melihatnya, hanya mereka-reka saja. 
 
Transmisinya ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa lewat jalur apa saja?
 
Banyak. Pertama tentu kepercayaan global. Bisa mulai dari kepercayaan terhadap keseluruhan pasar uang, pasar modal, pasar obligasi, itu kan jelas. Kedua melalui jalur perbankan, [yang memberi]  pinjaman atau bisa juga memfasilitasi trade financing. Lalu sampai kepada pembiayaan investasi yang diperoleh dari perbankan. Terutama yang berasal dari negara-negara itu, atau yang menggunakan dana di negara-negara itu. Lalu kemudian yang jelas [dampaknya terhadap] perdagangan dan investasi langsung. 
 
Kalau kita lihat sekarang perkiraan pertumbuhan global itu sudah mengarah menuju ke 3,5%. Padahal semacam rule of thumb itu, pertumbuhan yang dianggap cukup layak untuk kesehatan ekonomi dunia itu minimal 4% ke atas. Sekarang sudah 3,9%, [turun ke] 3,8%,  3,7%, menuju ke 3,5%. 
 
Memang di Eropa itu confirmed akan terjadi resesi. Karena di akhir 2011 ini, kuartal terakhir akan mengalami pertumbuhan negatif dan di awal 2011, kuartal I juga nampaknya akan mengalami negative growth. Padahal kalau berdasarkan definisi teori ekonomi, resesi itu adalah kalau selama dua kuartal berturut-turut pertumbuhan [ekonomi] di bawah 0% atau negatif. Jika kuartal IV/2011 negatif dan kuartal I/2012 negatif, berarti confirm Eropa akan masuk resesi. Cuma berapa lama dan berapa dalam, ini yang masih tanda tanya besar. 
 
Seberapa kuat ekonomi Indonesia menghadapi imbas krisis global?
 
Tergantung berapa besar dan berapa dalam [resesi]. Kalau makin besar negatifnya dan makin dalam, ya tidak ada satu negara atau satu kawasan pun yang imun terhadap pengaruh itu. Daya tahan ekonomi kita, selain tergantung daya tahan yang memang ada dalam perekonomian kita, juga [tergantung] akan seberapa parah kondisi internasionalnya. 
 
Yang kedua itu mungkin tidak cukup banyak yang bisa kita lakukan, kecuali mungkin ikut mendukung inisiatif-inisiatif internasional atau global biar tidak terlalu lama dan terlalu dalam [resesi]. Bagian pertama sih saya rasa cukup banyak yang bisa kami lakukan untuk melihat kekuatan dan potensi dalam negeri. 
 
Bagaimana cara meredam dampak krisis, kebijakan apa yang sudah disiapkan pemerintah dan Bank Indonesia?
 
Kalau saya lihat sebenarnya sudah keseluruhan institusi diarahkan ke sana. Yang paling jelas kan di APBN 2012. APBN itu ada semacam katup-katup pengaman yang bisa diaktivasi, dijalankan pada saat kondisi memburuk. Mulai dari melakukan perubahan APBN dengan cepat, kemudian mencari kemungkinan lain apabila kami kesulitan menjual obligasi. Lalu sampai pada fleksibilitas untuk ketahanan pangan, dan pengeluaran sosial. 
 
Itu saya kira suatu kreativitas yang tepat dan disambut baik karena memang diperlukan langkah-langkah seperti itu. Saya rasa itu yang paling jelas kemampuan kita untuk mengantisipasi krisis. 
Selain itu tentu dari kacamata koordinasi yang lebih baik antar-institusi. Misalnya dalam mencermati kemungkinan transmisi lewat obligasi, pembiayaan, dan sebagainya. Dan juga terhadap kemungkinan fluktuasi nilai tukar yang berimplikasi pada ketidakpastian dan cadangan devisa. Ini mekanisme koordinasi antara Kemenkeu dengan Bank Indonesia kuat sekali. Bahkan kami perkuat terus supaya betul-betul siap menghadapi worst case scenario. Terutama kan di bidang obligasi ada bond stabilization frame work. 
 
Mekanisme itu terus berjalan dengan baik dan kami akan pakai betul klausul APBN itu kalau ada peluang kemungkinan yang buruk. Di luar itu tentu untuk perdagangan dan perindustrian, serta seluruh proses produksi kita sendiri, supaya bukan hanya melihat pasar dalam negeri sebagai peluang besar, tetapi juga respons pada kenaikan daya beli masyarakat yang semakin membutuhkan barang dan jasa yang berkualitas dan bernilai tambah. 
 
Saya rasa itu peluangnya masih belum final kita manfaatkan dan banyak yang bisa dilakukan pada pertumbuhan yang tinggi pada PDB per kapita US$3.500. Itu luar biasa di kelompok masyarakat menengah. 
 
Berbagai policy itu mencukupi atau tidak? Apakah masih dibutuhkan JPSK? 
 
Kalau dilihat dari Undang-Undang  Otoritas Jasa Keuangan [OJK] sendiri kan sudah ada peluang untuk koordinasi yang baik di antara OJK sendiri, BI,  Kemenkeu, dan LPS. Saya rasa koordinasi yang semakin baik, semakin rapi, dan semakin kuat itu kuncinya. Karena itu persoalan pada jaring pengaman sektor keuangan (JPSK) itu adalah pada saat terjadi urgensi. Tapi yang paling kunci itu adalah bagaimana mencegah emergency itu terjadi. Jadi sebenarnya banyak yang bisa dilakukan dengan mekanisme yang ada sekarang. 
 
Untuk asumsi makro di APBN 2012 masih relevan tidak dengan kondisi terkini?
 
Saya rasa akan direvisi pada saatnya, tetapi kami berpandangan tidak perlu serajin analis-analis yang memang tugasnya memperkirakan perubahan perekonomian global. Kalau tidak bisa tiap minggu kita melakukan APBNP, karena berubah terus asumsinya. Saya pikir tidak terelakkan pada saatnya kita akan melakukan APBNP. Jangankan pada kondisi seperti saat ini, pada kondisi normal pun APBNP pasti ada itu. 
 
Jadi saya pikir kita melihat itu sebagai hal yang memang tidak terelakkan, tapi di lain pihak tidak perlu mencemaskan dan membuat hal tadi menjadi satu emergency sendiri karena yang lebih penting dalam proses APBN itu sendiri adalah bagaimana kita tetap fokus terhadap target-target yang bisa dicapai dengan kebijakan fiskalnya. Kalau ada kondisi eksternal yang harus disesuaikan, memang tidak bisa terelakkan. 
 
Bagaimana Anda melihat predikat investment grade?
 
Kalau saya melihatnya sudah terlambat. Ini seharusnya sudah sejak kapan-kapan. Cuma memang istilahnya better late than never. Karena menurut saya bukan hanya dari segi kesehatan fiskal kita, dari segi utang, dari segi kesehatan ekonomi secara umum, pasar sudah memberikan justifikasinya. Buktinya spread dari yield obligasi kita terhadap Libor (London interbank offered rate)  dan sebagainya, sebenarnya sudah lebih sejajar dengan yang investment category, bahkan sudah dengan yang peringkat A. Credit rating agency memang punya justifikasi sendiri. Terserah mau setuju atau tidak, mau benar atau salah, tapi market punya persepsi sendiri. 
 
Pada akhirnya, menurut saya, yang paling penting adalah persepsi market. Karena yang kita bayar utangnya kan ke market, bukan pada rating agency. Tetapi ini memang fenomena yang terjadi mengglobal. 
 
Pada saat anjloknya peringkat suatu negara itu cepat sekali. Kita ingat pada 1997 Indonesia masih investment grade. 1998-1999 kita sudah mulai ke Paris Club untuk rescheduling utang. Langsung dari investment category jadi selective default dalam waktu hitungan bulan dan butuh 13 tahun untuk kembali. Jadi turunnya cepat benar. Istilahnya itu merusaknya gampang, memperbaikinya setengah mati. Ini yang saya rasa lesson learn-nya di situ, manfaatnya di situ. 
 
Jadi reformasi itu adalah suatu proses yang memakan waktu lama, sedangkan trigger-nya itu bisa terjadi begitu cepat. Persoalan-persoalan dan implikasinya yang langsung terasa. Manfaatnya adalah, ini lebih pada suatu pengakuan internasional. Jangan salah, rating agency untuk mengukur peringkat suatu negara atau utang atau perusahaan, itu ratusan atau bahkan ribuan variabelnya. Mulai dari yang aneh-aneh sampai yang tidak masuk akal. 
 
Nah itu pengakuan bahwa apa yang kami jalankan selama ini dianggap baik. Proses itu yang kami lakukan terus menerus dianggap baik dan disambut baik. Itu yang saya pikir pentingnya dari rating agency meng-upgrade kita. Karena kalau dari segi bunga utang, sebenarnya pasar sudah memberikan justifikasi sendiri. Tapi mungkin saja dengan adanya rating ini pasar akan lebih confidence lagi. 
 
Saya lebih melihatnya pengakuan terhadap hasil dari proses perbaikan yang kita lakukan, bukan hanya on the right track tapi sekarang bisa dikatakan produce the right output. Jadi bukan hanya track-nya benar, tapi hasilnya juga benar dengan stabilitas ekonomi. Nah ini jadi semacam cambuk atau insentif bagi kita untuk bergerak lebih jauh lagi. Karena meskipun investment category tapi kan BBB. Kita kan pernah lebih tinggi dari pada itu masuk ke single A atau apa  sehingga menurut saya tidak ada batasnya bagi reformasi. Untuk perbaikan tidak ada batasnya, jelek itu ada batasnya. 
 
Dampak positif dalam jangka pendek dari investment grade ini apa?
 
Investment grade merupakan sinyal kepada investor di portofolio, apakah di pasar saham, obligasi dan sebagainya, untuk melihat instrumen obligasi negara maupun perusahaan menjadi semakin layak investasi. Saya rasa itu akan memengaruhi dari persepsi ataupun minat dari orang akan investasi ke portofolio Indonesia. 
 
Tetapi apakah kemudian itu memengaruhi kemungkinan investor, utamanya asing, berinvestasi langsung di Indonesia atau PMA, belum tentu. Karena itu kan tergantung apakah mereka punya kemampuan untuk itu. Apakah mereka punya perspektif bahwa investasi mereka akan menguntungkan dan juga pertanyaannya apakah mereka punya pembiayaan untuk investasi itu sendiri. Saya tidak tahu itu. Itu case by case. Mestinya ada [aliran modal] kalau jaman normal. Karena mereka lihat pengelolaan ekonominya dan potensi pasarnya makin besar. Daya beli masyarakat makin tinggi, mestinya ada. Mungkin kalau perusahaan-perusahaan dari Asia, masih lebih sehatlah. 
 
Di luar itu, perusahaan-perusahaan yang memang sudah mengenal Indonesia dan dalam kondisi sehat yang mungkin akan lebih siap. Saya justru melihatnya ini peluang bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dan perusahaan-perusahaan kawasan untuk memanfaatkan peluang tadi, yang kalau tidak dalam keadaan normal, tentu sudah diserbu oleh perusahaan-perusahaan internasional semua. Jadi blessing-nya sebenarnya di sana. 
 
Termasuk juga sedikit banyak dalam portofolio investasi, dengan adanya persepsi dan juga daya investasi yang berkurang dari luar negeri kepada obligasi Indonesia atau saham Indonesia, kesempatan bagi investor Indonesia masuk. Karena kepemilikan asing yang terlalu besar juga terbukti di beberapa negara menimbulkan risiko tersendiri. 
 
Jadi sebenarnya peluang bagi kita untuk melakukan koreksi-koreksi itu. Kalau dalam kondisi yang biasa itu tidak terasa perlu dan tidak terungkap risiko dari keberlangsungan hal-hal seperti tadi itu. Dengan adanya kondisi yang tidak normal kita biasanya menjadi lebih sensitif dan kesempatan untuk kita melakukan koreksi dan pembenahan. 
Saya melihatnya lebih strategis dan persoalan day to day. Saya kok merasanya, mungkin agak menduga-menduga tentu, berspekulasi sedikit, ini bukan kejadian yang akan berakhir smooth, semusim. Bukan cyclical issue, ini merupakan perubahan awal yang sangat drastis. 
 
Jadi melemahnya atau menurunnya kekuatan Eropa dan Amerika Serikat itu mungkin bukan hanya semusim atau cyclical, tetapi long term atau kalau bahasa teknis ekonominya itu conjunction, yang circle-nya itu 50 tahunan. 
 
Kalau cyclical 2-3 tahun. Recovery, rebound day to day. Market analis malah jam ke jam. Saya tidak di bisnis itu. Saya bicara apakah ini di conjunction itu, dan ini adalah perubahan geo-ekonomi. Tiba-tiba ada China, India, Brasil, dan mungkin di belakang sedikit Indonesia. Kemudian bergerak jauh geopolitik yang baru, tatanan dunia benar-benar akan berubah permanen ke sekian puluh atau ratus ke depan. Kalau dugaan saya lebih dari pada cyclical. 
 
Belajar dari krisis Eropa, dimana ekonomi dan politik tidak harmonis, bagaimana cara mengompromikan kebijakan ekonomi Indonesia dengan DPR?
 
Kalau itu jelas, asal jangan [ada yang] bikin blunder. Saya kira sudah jelas, aturan mainnya sudah jelas. Selama tidak keluar dari situ, kita taati aturan mainnya, prinsip-prinsip yang sudah kita pahami dan kita sepakati dijalankan. Kalau ada yang kurang-kurang puas ya tunggu saja pemilu. Kalau itu dijalankan saya rasa stabilitas yang minimal dapat dipenuhi dan kami akan menjalankan tugas-tugas pembangunan lainnya sehingga memberikan kesempatan pada daya tahan yang lebih dasar lagi. 
 
Ada daya tahan yang kaitannya dengan goncangan atau naik turunnya pertumbuhan ekonomi, tapi ada juga daya tahan terhadap kebutuhan pokok dari manusia. Misalnya ada manusia yang hidup dalam batas kehidupan cukup layak dan ada yang di garis kemiskinan, tentu daya tahannya tidak sama. Walaupun fluktuasi ekonominya sama, Cuma yang di atas kalau turun dikit ya paling turun income-nya, sedangkan yang di garis kemiskinan kalau turun sedikit berarti dia jadi tidak makan. 
 
Secara keseluruhan daya tahan negara kita dari goncangan yang lebih besar, belum kuat. Kalau kita bisa menyelesaikan periode-periode pemerintahan dengan baik, tepat waktu, tanpa ada blunder di tengah jalan, maka kita bisa membuat daya tahan yang di bawah ini jadi lebih tinggi sehingga tidak harus mengambil risiko to be or not to be.  
 
Kita belum betul-betul sampai sini. Ada teori macam-macam yang mengatakan untuk ke level itu pendapatan per kapita yang pantasnya berapa. Pendapatan per kapita kita kan akan masuk ke US$3.500, tapi kalau pake purchasing power parity [PPP] mungkin sudah dekat US$5.000. Ada yang bilang kalau PPP-nya US$6.000, kita sudah lebih mantap daya tahannya terhadap goncangan tadi itu. Nah kita belum mencapai situ, mungkin satu siklus pemerintahan lagi, asal jangan bikin blunder saja. 
 
Bagaimana dengan persoalan subsidi energi yang selalu melampaui kuota dan juga penyerapan anggaran yang kurang optimal? 
 
Banyak kalau pelajaran. Kita walaupun sudah investment category tapi kan baru BBB-. Jadi kalau rapor sekolah kita baru tujuh [nilainya]. Tujuh ke delapan ke sembilan masih jauh perjalanan. Masih banyak yang harus dilakukan, harus lebih rajin, harus kerja keras, harus lebih banyak bikin PR. Betul bahwa hal-hal itu jadi bagian untuk kami semakin menertibkan, memperbaiki kinerja dan upaya kita. Tapi jangan juga lupa karena ini kan bukan hanya persoalan angka-angka. 
Di belakang semua itu manusia juga. Mulai dari bicara subsidi, kita bicara implikasi sosialnya. Kita bicara bagaimana itu tidak menimbulkan gejolak terlalu jauh bagi inflasi dan sebagainya. Dan juga bagaimana lebih banyak program-program pengamanan sosial yang terarah, langsung dan tepat. 
 
Bicara optimalisasi anggaran juga sama. Satu pihak sistem pengelolaan, evaluasi, pemantauan dari anggaran kita tentu harus diperbaiki. Dan memang juga kompleksitas permasalahan yang dihadapi dari satuan kerja, penanggung jawab penggunaan anggaran sekarang semakin berat. Pengawasannya, dari segi auditnya, dari segi kaidah-kaidahnya, tuntutannya, pengadaannya, pelelangannya, itu semakin menuju ke good governance sehingga toleransi terhadap kesalahan semakin kecil. 
 
Ini yang menimbulkan mungkin reaksi yang sementara, ekstra hati-hati, menimbulkan dampak optimalisasi yang kurang yang sementara ini terpaksa harus kita terima. Ke depannya, setelah beberapa tahun, semestinya sudah punya kepercayaan diri yang makin baik. Saya tidak melihatnya sebagai suatu kegagalan, tapi sebagai suatu proses yang mungkin tidak terelakan belakangan ini, tetapi ke depannya sudah saatnya menjadi lebih baik. Kita tujuh [nilainya], bukan lima lagi. Kalau tujuh sudah PD [percaya diri], tinggal ke depalan dikit. 
 
Kebijakan konkret apa di 2012 yang akan dilakukan pemerintah untuk memperbaiki masalah distribusi subsidi ini?
 
Saya pikir itu komitmen bersama semua. Kita harus lihat kembali apa yang sudah disepakati dalam UU, diwacanakan di publik sehingga ini merupakan suatu komitmen bersama. Apakah kita memilih suatu opsi yang memang nampaknya mudah, tetapi kemudian menimbulkan konsekuensi yang merugikan. Apakah kita sebagai suatu bangsa siap mengambil keputusan yang lebih sulit. 
 
Tetapi sesuai dengan tujuannya dalam jangka pendek, apa lagi jangka menengah, jauh akan lebih strategis. Kita akan semakin kuat lagi daya tahannya. Karena itu tadi, saya khawatir kondisi global ini merupakan suatu awal dari perubahan permanen yang jangka panjang. 
Kita mau memosisikan diri di mana sekarang. Mau lihat ini dalam konteks jangka pendek, jadi kita mainnya kotak-katik [kebijakan], atau kita berani ambil suatu sikap kebijakan kalau tidak mereposisi maka nanti bisa ketinggalan dalam cycle jangka panjang yang bisa ke bawah atau ke atas. Itu harus diputuskan bersama. Harus disepakati dalam system demokratis seperti sekarang ini. 
 
Bagaimana dengan wacana penggunaan saldo anggaran lebih (SAL) untuk mitigasi risiko dan pendanaan infrastruktur tahun depan?
 
Saya kembali apa yang dicapai di 2011 ini, dengan apa yang dihasilkannya dalam UU APBN 2012. Banyak  katup-katup yang sudah disediakan. Optimis kita satu pandangan bahwa 2012 ini tahun sulit. Jangankan 2012, jangan-jangan 2013 akan lebih sulit. Akan cukup lama ketidakpastian itu. Apa yang sudah kita bangun dengan dicerminkan UU APBN 2012, itu modal dasar yang luar biasa. Kita pelihara momentum ini untuk ke 2012. Waktu itu beranggapan 2012 akan sulit, saya beranggapan akan lebih sulit lagi. 
 
Jadi kesempatan kita untuk jaga momentum konsensus itu supaya kita betul-betul pada waktunya nanti mau menentukan hal-hal yang sifatnya strategis itu kita gunakan proses yang ditetapkan secara konstitusional. Kalau itu yang kita jalankan, pada akhirnya kemampuan kita untuk melakukan dan mencapai itulah esensi dari daya tahan kita, bukan angka-angka. 
 
Angka-angka itu instrumen yang kita bisa dipakai untuk membuat kita semakin kuat daya tahannya. Tapi daya tahannya itu tadi konsensus yang melihat ini untuk kepentingan bangsa dan negara di tengah kondisi yang tidak pasti. Ini tidak dimiliki oleh negara lain. Karena walaupun negara lain konsensinya ada tapi instrumennya tidak ada. Duit tidak ada, utang ketinggian, fiskal jebol. Kalau kita semuanya lengkap. Ini yang akan menentukan daya tahan kita kuat atau tidak. 
 
Pewawancara: Ana Noviani, Lavinda, & Agust Supriadi

Discuss: ARAH BISNIS & POLITIK 2012: ‘Meskipun tahun sulit, peluang harus dicari’

Showing 1 - 2 of 2 comments

  • 5eec493bbf8449141e16265f425b9a92.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Dosa Asal

    Minggu, 29 Januari 2012 | 21:58 WIB

    Dosa-dosa orang tua dari masa lalu generasi sebelumnya akan diwariskan ke generasi penerus menjadi beban dosa turun temurun hasil hukum karma yang berbuah yang hanya bisa disembuhkan dengan berbuat kebaikan terhadap semua yang telah menjadi korban untuk melunasi hutang dosa.

  • Fdc971e7aaa9dab2a62ff883279b5b09.png?s=37&d=http%3a%2f%2fwww.bisnis.com%2fimages%2fimg-comment-avatar

    Kehancuran indonesia

    Minggu, 29 Januari 2012 | 00:54 WIB

    Kehancuran indonesia sudah nyata akibat ulahnya sendiri. Bersiaplah untuk pergi keluar negeri.

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area