Bisnis Indonesia - Bisnis.com


ARAH BISNIS & POLITIK 2012: Indonesia dalam perubahan global

Large_anu

Berita Terkait

 

JAKARTA: 2011 adalah tahun yang penuh krisis, dari krisis politik “Arab Spring” ke krisis fiskal di Amerika Serikat hingga ke krisis mata uang euro. Menengok ke 2011 saya yakin krisis finansial global—dimana bursa saham global anjlok dan mata uang Asia melemah terhadap dolar AS—dipicu oleh kelompok investor yang sekarang menentukan arah ekonomi dunia, yakni kelompok investor obligasi global.
 
Merekalah yang bisa membuat negara seperti Yunani, Irlandia, dan Portugal, bangkrut. Jika mereka menilai bahwa kemampuan suatu negara dalam membayar utangnya turun, mereka akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi sewaktu pemerintah negara itu menerbitkan surat utang negara (SUN). Dan negara yang utangnya banyak selalu butuh utang baru untuk membayar utang lamanya yang jatuh tempo.
 
Jika pemerintah Italia menerbitkan SUN dalam mata uang euro dengan tenor 10 tahun, investor akan minta imbal hasil sekitar 7% setahun, naik dari 4,5%  pada  awal 2011. Padahal lembaga peringkat risiko Standard & Poor’s (S&P) memberi Italia peringkat risiko A, di atas batasan investment grade, yaitu BBB-. 
 
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Italia kurang dari 0,5% setahun. Secara logika, negara yang bunga utangnya selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonominya cepat atau lambat akan bangkrut. 
 
Pemerintah Italia memiliki utang 1,9 miliar euro atau 120% dari produk domestik bruto (PDB) Italia. Sementara jika pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi global dalam dolar AS dengan tenor 10 tahun, imbal hasilnya 4%, di bawah negara maju seperti Italia, Spanyol, dan tentunya Yunani, yang imbal hasil SUN 10 tahunnya setinggi 35% setahun, level yang membangkrutkan.
 
Padahal S&P memberi peringkat risiko BB+ terhadap Indonesia, satu level di bawah investment grade, walau pun utang pemerintah Indonesia terhadap PDB hanya 26% dan indikator ekonomi lainnya—seperti pertumbuhan ekonomi, defisit APBN sebagai persentase dari PDB dan jumlah cadangan devisa—seharusnya sudah membuat Indonesia investment grade.
 
Kesimpulannya jelas: Pasar obligasi global telah melakukan reevaluasi atas negara pengutang dengan pesat yakni dengan meminta imbal hasil SUN yang jauh lebih tinggi dari biasanya, lebih pesat dari lembaga peringkat risiko yang dinilai lamban merevisi peringkat risiko, sehingga dinilai gagal memprediksi krisis sub-prime mortgage di AS pada 2008 misalnya. 
 
Memang pada Desember 2011 lembaga peringkat risiko Fitch Ratings memberi Indonesia peringkat investment grade, namun S&P dan Moodys masih memeringkat Indonesia sub-investment grade, walau saya percaya dalam enam bulan mereka akan mengikuti langkah Fitch karena “dipaksa” pasar obligasi.
 
Dampak investment grade
Pada semester II/2012, semua lembaga peringkat risiko internasional diperkirakan akan memeringkat Indonesia investment grade. Dampaknya, investor global yang hanya bisa investasi di negara investment grade—seperti  dana pensiun, dana asuransi dan reksa dana di AS, Eropa, China dan Jepang—akan menyalurkan puluhan miliar dolar AS ke Indonesia. 
 
Akibatnya, rupiah dan bursa saham akan menguat dan lebih stabil karena volume perdagangan akan naik pesat. Imbal hasil SUN dan obligasi korporasi juga akan turun, yang membuat pembiayaan investasi lebih murah. 
 
Namun patut diingat, peringkat investment grade hanya indikator kemampuan pengutang, dalam hal ini pemerintah Indonesia, dalam membayar utang. Bukan indikator kemampuan membangun infrastruktur. Indonesia bisa saja jadi negara investment grade namun daya serap APBN dan APBD serta kemampuan pemerintah membangun proyek tetap rendah sehingga kesempatan finansial yang diraih tidak dinikmati di sektor riil.
 
Dan yang terjadi hanya inflasi aset finansial yang berisiko bubble dua-tiga tahun yang akan datang. 
 
Dengan kenaikan peringkat risiko Indonesia, pemerintah diharapkan bisa mempercepat pembangunan infrastruktur—melalui undang-undang pembebasan lahan dan peningkatan kemampuan teknis pemda, misalnya—sehingga aliran dana tambahan akan bisa terserap sektor riil.
 
Prospek 2012
Saya optimis dengan prospek jangka panjang Indonesia. Namun prospek jangka pendeknya tidak cerah, mengingat krisis euro diperkirakan akan memburuk karena Uni Eropa, IMF, bank sentral Eropa, dan politisi Eropa, tidak bisa meredam krisis ini dengan cepat.
Pendek kata, karena lambannya reformasi ekonomi Eropa yang bisa menaikkan kemampuan membayar utang, maka pasar obligasi akan semakin kehilangan kepercayaan terhadap negara pengutang Eropa. 
 
Ini akan menekan turun terus harga SUN Italia, Spanyol, Portugal, Yunani, dan Irlandia, setidaknya di triwulan I/2012 sebelum reformasi ekonomi dipercepat pada semester II/2012, untuk menghindari kebangkrutan total. Terpuruknya pasar SUN Eropa akan memukul perbankan Eropa, yang memiliki sedikitnya SUN bermasalah sebesar 300 milar euro. 
 
Perbankan Eropa akan mengalami kerugian besar, karena memasok sekitar 30%-40% pinjaman valas ke perbankan Asia. Terpuruknya perbankan Eropa akan berdampak negatif bagi perbankan Asia. 
 
Kekeringan likuiditas valas sudah mulai terasa di perbankan Asia, termasuk di Indonesia, yang diindikasikan dengan melemahnya mata uang Asia (termasuk rupiah) dan meningkatnya bunga pinjaman dolar AS. 
 
Prospek kontraksi perbankan Eropa, resesi ekonomi di Eropa, pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia, mengeringnya likuiditas valas di Asia, semuanya akan membuat pasar finansial semakin rentan, setidaknya pada semester I/2012, sebelum pasar finansial stabil dan menguat di semester II dengan prosek pemulihan ekonomi global pada 2013.      
 
Standard Chartered memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan turun terus dari 5,1% pada 2010 ke 3% di tahun 2011 dan 2,2% pada 2012, sebelum naik ke 3,6% di tahun 2013. Pada 2012 ekonomi AS diperkirakan tumbuh 1,7% (1,8% di tahun 2011), ekonomi zona Eropa kontraksi 1,5% (tumbuh 1,5% di tahun 2011), Jepang 0,8% (-0,4% pada 2011) dan China 8,1% (9,2% pada 2011). 
 
Karena masih rentannya ekonomi dunia, bank sentral global diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. Bank sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya (Fed Funds Target Rate) di 0,25% selama 2012, sementara suku bunga euro di level 0,75% dan yen Jepang di 0,1% sampai akhir 2012.
 
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan turun dari 6,5% pada 2011 ke 5,8%-6,0% pada 2012, sebelum naik lagi ke 6,5% pada 2013. Inflasi diperkirakan naik dari 4% pada akhir 2011 ke 5% pada akhir 2012 karena prospek kenaikan TDL dan harga BBM. 
 
Suku bunga BI Rate diperkirakan turun dari 6% pada akhir 2011 ke 5,75% di triwulan I/2012, dan dipertahankan di level ini sampai akhir 2012. Kurs rupiah diperkirakan bisa melemah ke 9.400 per dolar AS pada  triwulan I/2012  karena prospek krisis euro yang memburuk, sebelum kembali menguat ke 8.700 per dolar AS pada semester II/2012. 
IHSG yang hanya naik sekitar 5% pada  2011 walau laba korporasi tumbuh lebih dari 20%, diperkirakan tetap rentan di triwulan I/2012 karena krisis euro, namun bisa melesat tajam di semester II/2012 mengikuti kenaikan laba pada 2011 dan 2012 ke atas 5.000. 
 
Pada akhirnya, melihat krisis global dan dampaknya terhadap ekonomi dunia, it is good to be an Indonesian! (ln)
           
* Fauzi Ichsan adalah Managing Director Standard Chartered Bank
 
 

Discuss: ARAH BISNIS & POLITIK 2012: Indonesia dalam perubahan global

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Other area