JAKARTA: Peningkatan komponen lokal dalam industri alat berat di Indonesia terhambat oleh kemampuan teknis industri pendukung.
Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Pratjojo Dewo mengatakan industri alat berat kesulitan menambah tingkat komponen dalam negeri menjadi lebih dari 55%.
Dia menjelaskan produsen perakit alat berat kesulitan mencari pemasok komponen dengan kemampuan teknis yang dibutuhkan.
"Kami sudah tingkatkan hingga 55%. Pada fabrikasi tidak masalah, tapi ada 3 industri pendukung yang masih belum mampu,” katanya, hari ini 10 Februari 2012.
Industri pendukung tersebut, paparnya, adalah industri pengecoran logam dan baja, industri permesinan serta industr perlakuan panas (heat treatment).
Produsen mesin lokal belum bisa menghasilkan mesin dengan tingkat presisi yang dibutuhkan produsen alat berat, sedangkan industri pengecoran logam dan baja belum bisa memproduksi komponen dengan harga dan kualitas yang bisa bersaing dengan barang impor.
Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam (AIPL) Ahmad Safiun mengatakan industri pengecoran logam lokal kesulitan bersaing dengan industri sejenis di luar negeri karena masalah ketersediaan bahan baku dan biaya energi.
Produsen baja Indonesia, jelasnya, belum bisa menghasilkan pig iron yang dibutuhkan untuk proses produksi alat berat.
Selain itu, dia mengatakan proses produksi logam untuk komponen alat berat membutuhkan induction furnace yang menggunakan energi listrik tinggi.
“Tapi biaya listrik sangat mahal, belum lagi ada beban puncak di malam hari. Jadi tidak bisa menjual dengan harga yang bersaing,” kata Ahmad.
Sebelumnya, Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahjana meminta produsen alat berat meningkatkan kedalaman komponen lokal pada produk mereka yang dirakit di dalam negeri.
Peningkatan investasi dalam sektor industri tersebut di Indonesia, jelasnya, harus diiringi oleh peningkatan TKDN dalam sektor industri tersebut.
“Saya bertemu dengan perwakilan Catterpillar, saya bilang ingin agar komponen lokal diperdalam, misalnya untuk under carriage sampai mesin. Tapi mereka sampaikan ada masalah, misalnya pada industri casting,” kata Agus, kemarin (9/2).
Catterpillar baru-baru ini mengumumkan investasi pembangunan pabrik baru di Batam yang diperkirakan bernilai US$150 juta dan akan berpoerasi pada akhir 2012.
Selain itu, perusahaan Amerika Serikat tersebut sedang meningkatkan kapasitas pabrik di Bogor dari 1.050 unit per tahun menjadi 2.040 unit per tahun dengan nilai investasi sebesar US$50 juta.
Global Director Government Affairs Catterpillar Inc. mengatakan perusahaan tersebut terus meningkatkan kapasitas di Indonesia untuk mengimbangi pertumbuhan pasar di Tanah Air.
Tahun lalu, penjualan alat berat di Indonesia mencapai 19.500 unit, atau tumbuh hingga 50% dibandingkan penjualan 2010 yang sebanyak 13.000 unit. (faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments