Masyarakat menjerit ketika harga bawang putih dan bawang merah serempak terbang hingga tiga sampai empat kali lipat. Namun, ternyata petani tidak berdiri di atas penderitaan masyarakat. Mereka hampir tidak menikmati kenaikan harga itu, bahkan ikut jadi korban.
Kesempatan meraup untung berlalu begitu saja dari hadapan Harjono, salah seorang petani bawang putih asal Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. Dia mengaku tidak bisa menjual mahal komoditas ini karena para pengepul mematok harga rendah.
“Harga bawang putih di pasaran bisa sampai Rp54.000/kg, bahkan di Jatim kabarnya ada yang menyentuh Rp100.000/kg. Akan tetapi pengepul hanya berani membeli bawang kami maksimal hanya Rp20.000/kg,” tuturnya ketika dihubungi Bisnis (Kamis 21/3/2013).
Harga itu pun diakuinya sudah lebih tinggi daripada situasi normal yakni hanya Rp7.000/kg. Meski demikian, para petani tidak kuasa membawa komoditas yang bernama latin Allium sativum itu ke pasar dan meraup untung.
Banyak keterbatasan dari petani sehingga ketergantungan terhadap para pengepul cukup besar. “Kami para petani tetap tidak ada pilihan lain, yang penting cukup untuk membeli sembako,” ujar Suryono petani bawang putih lainnya.
Selain Tawangmangu, sentral penghasil bawang putih yang terkenal di Indonesia berlokasi di Desa Tuwel Kabupaten Tegal dan Sembalun, Lombok. Meski demikian, sudah sejak lama produksi dalam negeri tidak bisa memenuhi konsumsi lokal.
Banyak pihak, termasuk Menteri Pertanian Suswono mengaku produksi bawang putih lokal hanya bisa memenuhi kurang dari 10% konsumsi dalam negeri. Dari sekitar 400.000 ton kebutuhan dalam negeri, petani Indonesia hanya berproduksi sekitar 14.200 ton per tahun.
Dengan kata lain, petani bawang putih di Indonesia tidak kuasa untuk menentukan harga karena pasokan mereka sangat sedikit dibandingkan dengan barang impor.
Lain padang lain belalang, lain bawang putih lain juga bawang merah. Bawang merah yang bernama latin Allium ascalonicum ini sebenarnya sudah banyak diproduksi di dalam negeri. Bahkan Kementan mengklaim Indonesia sudah mencapai level swasembada bawang merah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi bawang merah pada 2011 mencapai 893.124 ton, turun dibandingkan dengan 2010 yang mencapai 1,05 juta ton.
Sementara itu pada 2012, Kementan mengklaim produksi bawang merah meningkat lagi menjadi 1 juta ton. Namun data BPS menunjukan selama 2012, Indonesia tetap impor bawang merah sebanyak 96.000 ton dari berbagai negara.
Meski telah mencapai tahap swasembada, namun selalu ada momentum tahunan yang menyebabkan pasokan bawang merah menurun dan mengakibatkan harga melonjak. Di sisi lain, ada masa panen raya dengan produksi berlimpah dan berpotensi menurunkan harga.
Momentum produksi anjlok itu umumnya terjadi pada musim hujan mulai Oktober—Februari. Pada masa ini, petani menghindari menanam bawang merah karena hasil produksi akan turun dan kualitas tidak baik.
Biasanya, pada musim hujan petani bawang merah menganti menanam padi yang relatif tidak terpengaruh. Sebaliknya, ketika musim hujan mulai berhenti, petani berlomba menanam bawang merah.
Panen raya bawang merah umumnya terjadi pada Juli—September. Pola ini sudah terjadi puluhan tahun sehingga sebenarnya dapat diprediksi kapan pasokan lokal akan anjlok maupun berlimpah.
Masrochi Bachroe, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes, mengatakan biasanya pengepul memborong bawang merah ketika panen raya. Pada musim ini harga jual petani ke pengepul hanya Rp7.000—Rp10.000/kg. “Kalau di luar musim panen raya bisa laku hingga Rp12.000/kg,” ujarnya.
Sementara itu, biaya produksi petani bawang merah bisa mencapai Rp6.000/kg. Mulai dari bibit, pupuk, hingga perawatan. Nah, ketika musim minim produksi seperti awal tahun ini, biasanya petani sudah tidak punya stok bawang merah karena sudah di borong beberapa bulan sebelumnya.
Atas dasar itu, sentra bawang merah seperti Brebes harus gigit jari ketika harga melonjak hingga Rp45.000/kg, tanpa bisa menikmati. “Faktanya justru yang menikmati keuntungan lebih besar atas kejadian itu adalah para pedagang, daripada petani sebagai produsen,” ujarnya.
Sentra bawang merah Brebes memiliki rerata produksi 10 ton per hectare (ha). “Kalau musim atau cuaca kurang mendukung hanya menghasilkan 8 ton/ha, namun kalau cuaca sedang bagus dapat mencapai 12 ton/ha,” ujarnya.
Menurut Masrochi melambungnya harga bawang merah pada awal tahun ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengendalikan suplai komoditas tersebut.
Secara teori sebenarnya harga bawang merah sebenarnya bisa dijaga dengan mengendalikan suplai serta melakukan impor ketika pasokan anjlok. Namun menurut dia, kebijakan pengendalian harga bukan terletak pada impor.
“Yang terpenting adalah memberdayakan petani dengan mendorong petani untuk semakin memperluas areal tanam bawang,” ujarnya.
Menurutnya, bawang terutama bawang putih masih memiliki ketergantungan yang besar pada impor. Ketergantungan impor itu sebenarnya potensi untuk memotivasi petani untuk menanam bawang karena permintaan besar.
“Pemerintah harus berani memberikan jaminan harga bagi petani agar mereka mau membudidayakan bawang, agar tidak anjlok saat panen,” tuturnya.
Harga Bibit Melonjak
Seperti pepatah untung tak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, demikian kondisi petani bawang merah saat ini. Walau tidak kecipratan kenaikan harga, mereka harus menyiapkan kocek rada tebal dalam menyongsong musim tanam berikutnya.
Kenaikan harga bawang merah ternyata mengerek juga harga bibitnya. Seperti di Bantul harga bibit terkerek jadi Rp30.000/kg dari sebelumnya Rp12.000/kg.
“Lonjakan harga bibit bawang ini akibat persediaan bibit terbatas, sementara kebutuhan petani tinggi karena saat ini mulai memasuki masa tanam,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul Edy Suhariyanta seperti dikutip dari Antara.
Alhasil hal ini akan menciptakan masalah baru karena ada potensi petani akan menunda musim tanam hingga harga bibit turun. Sebab petani sebenarnya “berjudi” dengan membeli bibit mahal padahal ada potensi harga turun ketika panen raya.
"Kami membayangkan mendapat keuntungan besar dengan panen sekitar tiga kuintal bawang merah. Namun, saat kami mau mulai tanam kesulitan mendapatkan bibit bawang karena harga terlalu tinggi," kata Sulami, petani bawang merah warga Desa Sukabumi, Cepogo, Boyolali.
Tentunya, petani mengharapkan pemerintah turun ke lapangan untuk menurunkan harga bibit. Bila harga bibit tetap tidak terkendali, bukan hal mutahil harga bawang merah yang tinggi tetap berlanjut selama beberapa bulan mendatang. (k39/Antara/dba)
Source : Donald Banjarnahor, Puput Ady Sukarno dan Antara
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.