JAKARTA—Aktivis Internet dan anggota tim perancang sistem RSS website Aaron Swartz ditemukan bunuh diri di apartemennya di New York City, Amerika Serikat, Jumat (11/1/2013) waktu setempat.
Menurut laporan sebuah rumah sakit, programmer berusia 26 tahun itu tewas karena gantung diri. Swartz dikenal sebagai programmer andal sejak remaja. Namun dia juga pernah berurusan dengan polisi karena terlibat tindakan kriminal.
Dilansir Reuters, Sabtu (13/1/2013), Swartz aktif dalam pemrograman RSS 1.0 sejak usia 14 tahun. Hal itu diketahui dari posting di blog pribadi salah satu rekan Swartz, Cory Doctorow. Menurut Doctorow, Swartz mengalami depresi selama bertahun-tahun. Menurut dia, hal itulah yang kemungkinan membuat Swartz bunuh diri.
RSS yang merupakan kependekan dari Rich Site Summary adalah format untuk mengirim konten dari sebuah website atau blog secara kontinu. Sistem itu membuat informasi mudah dicari dan diakses publik.
"Informasi adalah kekuatan. Tapi ada juga orang-orang tertentu yang ingin merahasiakannya,” tulis Swartz dalam salah satu menifestonya pada 2008.
Swartz selama ini sangat meyakini bahwa informasi haruslah dibagi agar bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita itu, Swartz pun mendirikan organisasi nirlaba bernama DemandProgress.
Organisasi yang didirikannya itu bahkan berperan besar mengubah sejumlah kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang tertuang dalam Stop Online Piracy Act pada 2011.
Pada Juli 2011, Swartz dianggap terlibat dalam pencurian jutaan artikel akademis milik Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang disimpan di arsip digital. Menurut penyidik feredal, Swartz yang pernah mengenyam pendidikan di Edmond J. Safra Center for Ethics Harvard University, menggunakan jaringan komputer MIT untuk mencuri lebih dari empat juta artikel dari sistem penyimpanan online yang distribusinya ditangani JSTOR. MIT melalui JSTOR tidak menuntut Swartz setelah semua artikel yang dicuri dikembalikan. (sut)
Source : Galih Kurniawan
Editor : Sutarno
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.