JAKARTA: Sedikitnya 130 karya fesyen dari 13 desainer busana muslim Indonesia akan menggetarkan panggung International Fair of the Muslim World Le Bourget Paris yang berlangsung 14-20 Desember ini.Para desainer yang tergabung dalam Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) itu, berangkat ke Paris sebagai delegasi Promosi kewirausahaan, pariwisata, perdagangan, dan investasi (ETTI) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yang mengikuti ajang internasional tersebut."Ini merupakan langkah pertama desainer busana muslim Indonesia dan IIFC masuk, dan ikut fashion show di pusat mode dunia Paris," kata Eka Shanty, Direktur IIFC hari ini di sela-sela acara Media gathering road to Indonesia Islamic fashion goes to Paris di Jakarta.Masing-masing desainer akan menampilkan 10 rancangannya yang dominan bernuansa etnik Indonesia. Ke-13 perancang tersebut adalah Anne Rufaidah, Amy Atmanto, Boyonz Ilyas, Dian Pelangi, Hannie Hananto, Irna Mutiara, Jenny Tjahyawati, Malik Moestaram, Merry Pramono, Monika Jufry, Najua Yanti, Nieta Hidayani, dan Nuniek Mawardi.Eka menuturkan para desainer tersebut siap untuk memperkenalkan karya mereka di Paris, sebagai upaya untuk terus menggaungkan kampanye visi Indonesia menuju kiblat fesyen muslim dunia 2020.Selama di Paris, katanya, keberadaan desainer beserta karyanya akan menjalani serangkaian kegiatan roadshow, yang melibatkan pesinetron sekaligus ikon Wardah Cosmetics, Inneke Koesherawati, dan Muslimah Beauty 2011 Dika Resrtiyani."Berkat kerja sama terpadu antara IIFC, Kementerian Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negeri, dan Kedutaan Indonesia di Francis, fesyen muslim Indonesia juga mendapat kesempatan berharga untuk melakukan pemotretan mode muslim koleksi musim dingin di pusat perbelanjaan terkemuka Gallery Laffayette Paris," ungkap Eka.Tema yang diusung dalam show ini adalah La foi et l'ammour de l'Indonesie envers le Monde (The faith & love from Indonesia to the world). Seluruh rancangan tersebut, ujar Eka, meninterpretasikan nilai-nilai universalitas muslim Indonesia, yang inklusif atas dasar keimanan dan cinta kepada seluruh umat di Tanah Air, maupun di dunia internasional."Aksentuasi warna-warna syahdu khas muslim dingin terlihat atraktif, diselaraskan dengan sentuhan etnik dan seni budaya Indonesia," ujarnya. (arh)
Source : Rahmayulis Saleh
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.